Kupang,Savanaparadise.com,- Ancaman terorisme terhadap anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini menunjukkan pola yang berbeda dari masa lalu. Jika sebelumnya radikalisme dan terorisme sering dikaitkan dengan fanatisme keagamaan, kini penyebarannya lebih banyak dipengaruhi faktor sosial dan pemanfaatan platform digital.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Provinsi NTT, drg. Iien Adriany, M.Kes, mengungkapkan bahwa sejumlah anak di NTT telah terindikasi, bahkan ada yang terkonfirmasi terpapar paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IREP).
Menurut Iien, persoalan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah setelah berbagai pembahasan dan koordinasi nasional bersama sejumlah lembaga terkait, termasuk Densus 88. Ia menegaskan bahwa pola penyebaran paham ekstrem saat ini tidak lagi sama seperti yang terjadi pada masa lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
” Kalau dulu IREP biasanya masuk melalui kelompok-kelompok keagamaan tertentu dengan ajaran yang ekstrem. Tapi sekarang tidak seperti itu. Penyebabnya bermacam-macam,” kata lien kepada sejumlah media di Kupang, Rabu, 03/06/2026.
Ia menjelaskan bahwa berbagai faktor sosial dapat menjadi pintu masuk bagi seseorang untuk terpapar paham ekstrem. Korban perundungan (bullying), tekanan dalam keluarga, persoalan psikologis, hingga akumulasi rasa kecewa dan dendam menjadi faktor yang dinilai rentan dimanfaatkan oleh kelompok penyebar paham radikal.
“Anak yang dibully saja bisa terpengaruh. Anak yang mengalami tekanan berat dalam keluarga juga bisa. Banyak faktor yang bisa membuat seseorang terlibat dalam persoalan yang berkaitan dengan ekstremisme dan terorisme,” katanya.
Selain itu, perkembangan teknologi digital menjadi tantangan baru yang semakin sulit dikendalikan. Menurut Iien, berbagai platform digital kini dimanfaatkan untuk menyebarkan paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme kepada anak-anak dan remaja.
Ia mengungkapkan bahwa di NTT telah ditemukan anak-anak yang terindikasi terpapar paham tersebut. Menariknya, mereka bukan berasal dari kelompok yang selama ini dianggap bermasalah.
” Di NTT sudah ada beberapa yang diindikasi, bahkan sudah ada yang positif terkena itu. Anaknya bukan anak yang nakal. Ini anak yang manis-manis, pulang sekolah, ada di kamar, tidak pernah nakal, dia main game,” ungkapnya.
Iien menjelaskan bahwa game online menjadi salah satu media yang dimanfaatkan untuk memengaruhi anak secara perlahan. Anak-anak masuk ke dalam permainan yang tampak biasa, namun kemudian diperkenalkan pada berbagai peran dan situasi yang mengandung unsur kekerasan hingga ekstremisme.
” Nah game itu yang dimanfaatkan. Awalnya anak hanya bermain. Tetapi kemudian bisa masuk ke komunitas tertentu yang memiliki pola pikir yang sama. Itu yang sekarang dimanfaatkan,” jelasnya.
Karena itu, ia meminta para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas digital anak. Menurutnya, dunia digital dapat menjadi sarana pendidikan dan pengembangan diri, tetapi juga dapat menjadi medium penyebaran paham berbahaya apabila tidak disertai pendampingan yang memadai.
” Kadang-kadang orang tua sekarang sudah kalah soal teknologi dengan anak. Karena itu pengawasan harus diperkuat. Jangan sampai anak terlihat baik-baik saja, tetapi ternyata sedang terpapar konten yang berbahaya,” tegas Iien.
Ia menambahkan, upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui penguatan peran keluarga, sekolah, dan masyarakat agar anak-anak NTT tidak menjadi sasaran penyebaran paham ekstrem yang memanfaatkan perkembangan teknologi digital.
Penulis : Tim Redaksi (DD)










