Ende,Savanaparadise.com-Daniel Sakof Turot menjadi salah satu wajah perlawanan mahasiswa di Ende ketika suara masyarakat kecil merasa diinjak oleh arogansi kekuasaan. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Flores asal Maybrat, Papua Barat Daya itu dikenal berdiri di garis depan saat warga berhadapan dengan kebijakan yang dianggap tidak adil.
Sebagai Ketua Presidium PMKRI Cabang Ende St. Yohanes Don Bosco periode 2025–2026, Daniel konsisten mengawal persoalan penggusuran rumah warga, sengketa lahan, hingga kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan masyarakat kecil. Baginya, mahasiswa tidak boleh diam ketika rakyat dipaksa tunduk oleh kekuasaan.
Namanya mencuat ketika ia berdiri bersama warga dalam polemik pembongkaran rumah di Ende. Saat hak masyarakat dipertanyakan, Daniel memilih hadir di tengah konflik, menyuarakan penolakan, dan menuntut penyelesaian yang adil. Dalam perjuangan itu, ia berhadapan langsung dengan pemerintahan yang dipimpin Yosef Benediktus Badeoda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Situasi memanas ketika istri Bupati Ende, Maria Natalia Cicih Badeoda melaporkan Daniel ke Polres Ende atas dugaan pengancaman saat aksi berlangsung. Daniel menolak tuduhan itu. Baginya, laporan tersebut bukan semata proses hukum, tetapi bagian dari tekanan terhadap suara mahasiswa yang membela masyarakat kecil.
Meski berhadapan dengan proses hukum, Daniel mengaku tidak gentar. Ia menyadari risiko perjuangan sejak memilih jalan aktivisme.
“Pilihan saya jadi aktivis itu hanya dua, mati atau penjara,” ujar Daniel kepada awak Media Pada Senin, (11/05/2026), melalui pesan WhatsApp.
Menurutnya, konsekuensi itu adalah harga yang harus dibayar ketika memilih berdiri bersama rakyat yang tertindas.
“Karena masuk penjara atau mati demi kaum tertindas itu keuntungan,” tegasnya.
Bagi Daniel, perjuangan bukan soal mencari aman. Di Ende, namanya kini menjadi simbol keberanian generasi muda yang menolak tunduk saat kekuasaan dianggap membungkam suara masyarakat kecil.
Penulis : Tim Redaksi (DD)










