Kupang, Savanaparadise.com,- Persatuan Alumnj (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) se-Indonesia menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak Gempa Flores. Melalui Posko Bantuan Gempa Flores PA GMNI NTT, sebanyak 56 titik di Enam Kabupaten yang telah di jangkau Alumni GMNI dalam menyalurkan bantuan..
Sebaran bantuan meliputi 10 titik di Kabupaten Manggarai, 4 titik di Manggarai Timur, masing-masing 11 titik di Ngada, Nagekeo, dan Ende, serta 9 titik di Sikka.
” Sebaran titik penyaluran tersebut menunjukkan luasnya jangkauan kerja kemanusiaan PA GMNI NTT di wilayah terdampak gempa Flores,” kata Kepala Posko Bantuan Gempa Flores PA GMNI NTT, Yohanes Hamba Lati, kepada awak media, Rabu, 02/09/2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya menyalurkan bantuan, Posko PA GMNI NTT juga membuka jalur pelaporan bagi masyarakat terdampak terutama dari wilayah yang belum tersentuh bantuan. Informasi yang masuk menjadi bagian dari pemetaan kebutuhan di lapangan.
Menurut Yohanes, kerja kemanusiaan tersebut dijalankan melalui pemetaan lapangan, verifikasi kebutuhan dan jaringan gotong royong relawan. Penggalangan donasi untuk penanganan gempa Flores sendiri telah ditutup pada akhir Agustus.
“Jejak 56 titik tersebut bukan semata catatan distribusi bantuan tetapi menjadi gambaran tentang bagaimana solidaritas alumni GMNI dari berbagai daerah dapat bergerak melampaui batas geografis untuk membantu masyarakat Flores yang terdampak bencana,” ujar Ketua KPID NTT yang juga mantan wartawan Harian Timor Express itu.
Ia menjelaskan, kerja Posko Bantuan Gempa Flores PA GMNI NTT ditopang oleh pembagian tugas yang melibatkan sejumlah alumni. Sosok yang akrab disapa Yoppy Lati ini mengatakan, Asty Mikado bertindak sebagai verifikator untuk memeriksa jenis dan jumlah bantuan. Maria Alena Goo menangani bidang keuangan dan sumber daya, termasuk penggalangan dana serta mekanisme penyaluran. Sementara Leonardo Waleng bertanggung jawab pada bidang data, informasi dan administrasi, termasuk mengelola informasi yang masuk melalui Posko Pengaduan.
Pembagian peran tersebut, kata Yohanes, memungkinkan setiap informasi dari lapangan diproses dan kebutuhan masyarakat diverifikasi sebelum ditindaklanjuti. Dengan mekanisme itu, katanya, Posko berupaya memastikan bantuan yang disalurkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di setiap wilayah.
Ketua PA GMNI NTT, Yoseph Dasi Djawa, mengatakan respons kemanusiaan yang dilakukan PA GMNI NTT dalam penanganan gempa Flores merupakan hasil gotong royong jaringan alumni GMNI dari berbagai daerah di Indonesia.
Sejak Posko Bantuan Gempa Flores dibentuk, kata Yoseph, dukungan dan donasi terus mengalir. Solidaritas lintas daerah tersebut menjadi kekuatan dalam menggerakkan kerja-kerja kemanusiaan bagi masyarakat Flores yang terdampak bencana.
” Bantuan yang terkumpul ini bukan hanya berasal dari NTT. Ada solidaritas dari alumni-alumni GMNI di berbagai daerah di Indonesia. Ketika Flores mengalami bencana, jejaring alumni bergerak bersama. Ini menunjukkan bahwa ikatan perjuangan itu tidak dibatasi oleh jarak dan wilayah,” kata Yoseph.
Menurutnya gerakan tersebut memiliki makna lebih dari sekadar pengumpulan bantuan. Keberpihakan kepada masyarakat yang mengalami penderitaan, kata dia, harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Yoseph menyebut semangat itu sejalan dengan Marhaenisme sebagai ajaran Bung Karno yang menjadi dasar perjuangan keluarga besar GMNI. Menurutnya, Marhaenisme tidak boleh berhenti sebagai identitas ideologis atau bahan diskusi, tetapi harus menemukan bentuk konkretnya ketika rakyat menghadapi kesulitan.
” Ketika rakyat mengalami penderitaan, maka keberpihakan tidak cukup hanya disampaikan dalam kata-kata. Ia harus diwujudkan dalam tindakan. Karena itu, ketika terjadi bencana di Flores, PA GMNI merasa terpanggil untuk hadir dan menggerakkan solidaritas,” katanya.
Ia menambahkan, keterlibatan alumni GMNI dari berbagai wilayah juga menunjukkan bagaimana jaringan ideologis dapat diterjemahkan menjadi kerja gotong royong. Dalam pandangannya, gotong royong bukan sekadar membantu ketika diminta, melainkan kesadaran untuk memikul persoalan bersama sesuai kemampuan masing-masing.
” Flores mungkin berada jauh dari tempat tinggal sebagian alumni GMNI. Tetapi ketika ada saudara-saudara kita yang mengalami bencana, jarak itu tidak menjadi alasan untuk tidak peduli. Di situlah gotong royong bekerja. Yang memiliki kemampuan membantu sesuai kemampuannya, yang memiliki tenaga turun ke lapangan dan yang memiliki jaringan menggerakkan solidaritas,” ujarnya.
Bagi Yoseph, kerja Posko Bantuan Gempa Flores PA GMNI NTT menjadi salah satu bentuk nyata pengamalan nilai Pancasila. Semangat persatuan, kemanusiaan, dan keadilan sosial, menurutnya, harus diterjemahkan dalam tindakan kolektif ketika masyarakat menghadapi situasi sulit.
” PA GMNI hadir bukan karena disuruh, tapi karena terpanggil sebagai bagian dari rakyat,” kata Yoseph.
Atas dasar panggilan tersebut, PA GMNI NTT langsung melakukan konsolidasi dan membentuk Posko Bantuan Gempa Flores pada hari pertama pascagempa. Posko itu kemudian menjadi pusat koordinasi penggalangan donasi, pemetaan kebutuhan, verifikasi informasi, hingga penyaluran bantuan.
” Pasca gempa pada pagi hari, unsur pengurus PA GMNI NTT langsung melakukan konsolidasi dengan membuka Posko Tanggap Darurat. Pada malam harinya bantuan pertama langsung dikirim ke Kabupaten Manggarai Timur melalui jaringan relawan PA GMNI Kabupaten Manggarai Timur. Pada malam yang sama, jajaran alumni bersama kader GMNI aktif juga menggelar doa bersama bagi para korban gempa Flores,” ujarnya.
Setelah menjalankan penggalangan dan penyaluran bantuan selama masa tanggap darurat, PA GMNI NTT memutuskan menutup penggalangan donasi pada akhir Agustus 2026. Keputusan itu diambil setelah melihat penanganan bencana oleh pemerintah berlangsung semakin intensif.
” Sejak awal kami hadir untuk merespons situasi darurat dan membantu masyarakat yang membutuhkan. Saat ini kami melihat pemerintah sudah melakukan penanganan yang semakin intensif. Karena itu, penggalangan donasi kami tutup pada akhir Agustus,” katanya.
Meski penggalangan donasi telah ditutup, Yoseph menegaskan perhatian dan solidaritas terhadap masyarakat terdampak tidak berhenti. Pengalaman penanganan gempa Flores, menurutnya, menjadi pengingat bahwa nilai ideologis menemukan maknanya ketika diwujudkan dalam keberanian untuk hadir bersama rakyat.
” Bagi kami, solidaritas adalah cara menghidupkan nilai. Marhaenisme mengajarkan keberpihakan kepada rakyat, sementara Pancasila mengajarkan kita untuk membangun kehidupan bersama. Dalam situasi bencana, nilai-nilai itu menemukan bentuknya melalui gotong royong,” ujarnya.
Yoseph juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh alumni GMNI di berbagai daerah di Indonesia, para donatur, dan relawan yang mengambil bagian dalam gerakan kemanusiaan tersebut. Menurutnya, setiap dukungan telah menjadi bagian penting yang memungkinkan Posko Bantuan Gempa Flores PA GMNI NTT menjangkau masyarakat di berbagai wilayah terdampak.
” Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh alumni GMNI di berbagai daerah di Indonesia, para donatur dan relawan yang telah ikut bergotong royong membantu saudara-saudara kita di Flores. Apa yang diberikan mungkin berbeda-beda tetapi semuanya memiliki arti yang sama, yakni kepedulian terhadap sesama. Solidaritas ini membuktikan bahwa ketika rakyat mengalami kesulitan, kita masih memiliki kekuatan untuk bergerak dan saling menopang,” kata Yoseph.
Sementara itu, Sekretaris PA GMNI NTT, Emanuel Kolfidus, menjelaskan sistem kerja Posko Bantuan Gempa Flores dibangun melalui jaringan alumni, kader, dan relawan untuk memastikan bantuan bergerak berdasarkan kebutuhan lapangan.
Kota Kupang ditetapkan sebagai basis operasi sekaligus sekretariat utama posko. Dari sana, informasi dari berbagai wilayah terdampak dikumpulkan dan diverifikasi sebelum menjadi dasar penyaluran bantuan.
Menurut mantan Anggota DPRD NTT ini, relawan dan jaringan kader di daratan Flores melakukan pemetaan langsung di titik-titik pengungsian untuk mengidentifikasi kebutuhan mendesak masyarakat.
“Data ini kemudian kita pusatkan melalui posko agar bantuan tidak terkonsentrasi pada lokasi tertentu, melainkan dapat diarahkan pula ke wilayah yang membutuhkan perhatian”, pungkasnya.
Penulis : Mateus Bheri
Editor : Tim Redaksi










