Mitos “Kebaikan Bersama” di Atas Karang Ndao: Sebuah Sanggahan Etiologis

- Penulis

Senin, 30 Maret 2026 - 11:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rian Laka

Alumni PMKRI Cabang Ende

Di meja-meja birokrasi yang licin, istilah “Kebaikan Bersama” sering kali diracik dengan aroma parfum kebijakan yang membius. Ia diucapkan dengan nada luhur, seolah-olah penertiban sempadan Pantai Ndao adalah sebuah pengorbanan suci demi wajah kota yang lebih rupawan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, bagi para pengais hidup yang telah belasan tahun menjahit nasib di sana, “kebaikan” itu terasa seperti sembilu yang dingin; ia tajam, asing, dan tidak menyertakan mereka di dalamnya.

Pemerintah membangun narasi bahwa pengosongan sempadan adalah demi tata ruang dan keindahan publik. Sebuah argumen yang sekilas nampak logis secara teknis, namun cacat secara moral. Kita harus bertanya: Publik yang mana yang sedang dilayani?

Jika “kebaikan bersama” itu berarti mengusir pedagang kecil yang memutar uang Rp2,4 Miliar per tahun secara mandiri demi trotoar yang kosong dan sepi, maka itu bukanlah kebaikan. Itu adalah pengutamaan estetika di atas eksistensi. Itu adalah tindakan mengorbankan piring nasi rakyat demi sekadar swafoto para pelancong yang hanya singgah sejenak. Kebaikan yang sejati tidak pernah dibangun di atas reruntuhan dapur orang lain.

Breek: Patahan Kebijakan Tanpa Solusi

Kebijakan ini adalah sebuah Breek—patahan komunikasi yang fatal. Pemerintah mengklaim ini adalah Track menuju kemajuan, namun mereka lupa memasang tombol Klik yang krusial: Relokasi Strategis. Selama 15 tahun,

Ndao telah menjadi ekosistem organik. Menertibkan tanpa solusi ekonomi yang setara adalah tindakan mencabut akar pohon yang sudah berbuah tanpa menyediakan tanah baru. Kerugian ekonomi bukan hanya angka di atas kertas; ia adalah masa depan anak-anak pedagang yang terancam putus sekolah,

ia adalah hutang modal yang tak terbayar, dan ia adalah matinya gairah usaha mikro yang selama ini menjadi jaring pengaman sosial saat negara tak hadir.

Trik di Balik Regulasi

Kita harus waspada terhadap Trik yang membalut regulasi sempadan. Jika aturan itu ditegakkan hanya kepada mereka yang lemah dan tak berdaya, sementara bangunan-bangunan besar di sisi lain pantai tetap tegak karena “izin yang licin”, maka “kebaikan bersama” hanyalah sebuah kebohongan publik yang sistematis.

Investigasi nurani kita menemukan bahwa pedagang Ndao bukanlah parasit. Mereka adalah penjaga alami pantai. Mereka membersihkan sampah pelanggan mereka, mereka menerangi gelapnya malam pesisir, dan mereka adalah denyut nadi ekonomi yang nyata. Menghilangkan mereka adalah menghilangkan nyawa dari pantai itu sendiri.

Kebaikan bersama yang sejati seharusnya berupa Rakitan Kebijakan yang inklusif. Jangan gusur mereka, tapi tatalah mereka. Jadikan Ndao sebagai destinasi kuliner pesisir yang rapi tanpa menghilangkan identitas pedagang lamanya. Itulah Track yang benar-benar gemilang.

Jika pemerintah tetap memilih jalan pengusiran atas nama hukum yang buta, maka mereka sedang menanam benih dendam sosial di bawah pasir Ndao. Sebab, kebaikan yang dipaksakan dari atas tanpa mendengar jeritan dari bawah, hanyalah bentuk lain dari kesewenang-wenangan yang dibaptis dengan nama “Kepentingan Umum”.

Berita Terkait

Membangun Kembali Ende sebagai Kota Pelajar dan Kebudayaan 
Opini: Nasionalisme Kehilangan Makna dan Ruh?
Opini; Mampukah Pemimpin Ende Baru Mendayu Sampan Menuju Jakarta?
Core Tax : Solusi Tantangan Reformasi Kebijakan Administrasi Perpajakan
Opini: Partisipasi Masyarakat Urat Nadinya Pemilu
Opini: Menjaga Kemurnian Suara Rakyat Di Pemilu 2024
Opini: Garam dan Terang Dunia
Lebih Mengenal Kanker Serviks
Berita ini 142 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 30 Maret 2026 - 11:51 WIB

Mitos “Kebaikan Bersama” di Atas Karang Ndao: Sebuah Sanggahan Etiologis

Sabtu, 20 September 2025 - 08:32 WIB

Membangun Kembali Ende sebagai Kota Pelajar dan Kebudayaan 

Selasa, 17 Juni 2025 - 20:41 WIB

Opini: Nasionalisme Kehilangan Makna dan Ruh?

Rabu, 21 Mei 2025 - 14:30 WIB

Opini; Mampukah Pemimpin Ende Baru Mendayu Sampan Menuju Jakarta?

Kamis, 12 Desember 2024 - 20:40 WIB

Core Tax : Solusi Tantangan Reformasi Kebijakan Administrasi Perpajakan

Berita Terbaru

Ketua PMKRI Ende, Daniel Turof menyampaikan pernyataan sikap terkait penggusuran lapak jualan sempada Pantai Ndao Ende (Foto: Mateus Bheri/SP)

Ende

Puluhan Massa Aksi Geruduk Kantor Bupati Ende

Jumat, 27 Mar 2026 - 15:34 WIB