KKPK dan JPIT Selenggarakan Dengar Kesaksian Untuk Korban HAM 1965-2005

- Penulis

Sabtu, 27 April 2013 - 11:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kupang, Savanaparadise.com,- Koalisi Keadilan Dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) bersama Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) melakukan dengar kesaksian untuk pengungkapan korban ham dan kekerasan dari kurun waktu tahun 1965 hingga 2005. Dengar kesaksian tersebut di laksanakan di aula Fakultas Teologia, Universitas Kristen Artha Wacana, 27/04, di Kupang.

“ dalam dengar kesaksian ini akan menghadirkan sepuluh orang korban atau penyintas pelanggaran ham dari empat jenis kasus yakni tragedi 1965, tragedi 1999 yang berhubungan dengan kehadiran pengungsi Timor Leste, perusakan Sumber Daya Alam di Mollo Utara, dan pemaksaan Keluarga Berencana”, kata koordinator panitia Pdt, Mery Kolimon, ketika menggelar jumpa pers di rumah makan nekamese, 25/04, di kupang.

Baca Juga :  Mindriyati Astiningsih Laka Lena Ajak Orang Tua Perkuat Perlindungan Anak Lewat Parenting dan Literasi Digital

Pdt Mery yang saat itu didampingi Romo Leo Mali, Galuh Wandita, Pdt Ina Bara Pa, Pdt Yely Leylo mengatakan dalam forum dengar kesaksian tersebut korban /penyintas tragedi kemanusian di NTT akan mendapat kesempatan untuk bersaksi atas kejadian yang mereka alami dan saksikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“, Dalam dengar kesaksian tersebut, ada sepuluh saksi yang akan bercerita yaitu enam orang dari tragedi 65, dua orang tragedi 99, satu orang dari ekspolitasi SDA Mollo dan satu orang dari pemaksaan KB.”, kata Pdt Mery.

Menurut Pdt Mery, kesaksian tersebut kemudian menjadi dasar bagi pemahaman publik atas pelanggaran yang di lakukan atas mereka. Proses dengar kesaksian tersebut tidak di maksudkan untuk sebagai alat investigasi melainkan sebagai sebuah proses pendidikan.

Baca Juga :  Media Penyiaran Berperan Penting dalam Penyebarluasan Informasi Pemilu

“ Pengungkapan tragedi pelanggaran HAM 1965 hingga 2005 bukan dengan motif ideologi tetapi sebagai motif kemanusian. Motif kemanusian sebagai warga indonesia dan indonesia sebagai rumah bersama”, ujar Pdt Mery.

Untuk di ketahui, KKPK adalah aliansi organisasi masyarakat sipil yang mengadvokasi kasus-kasus pelanggaran HAM berat pada masa lalu. Sedangkan JPIT adalah lembaga lintas agama dan budaya yang berfokus pada studi perempuan, agama dan budaya. Dalam sepak terjangnya kedua organisasi ini melakukan fokus penilitian pada korban/penyintas korban kekerasan HAM yang terjadi di NTT dari kurun waktu 1965-2005.(Elas)

Berita Terkait

Mindriyati Astiningsih Laka Lena Ajak Orang Tua Perkuat Perlindungan Anak Lewat Parenting dan Literasi Digital
Media Penyiaran Berperan Penting dalam Penyebarluasan Informasi Pemilu
Universitas Dhyana Pura Bali Tradisi Ora et Labora Lewat Ibadah Rabuan
Jangan Gaduh, Ahli Hukum Administrasi Negara Sarankan Gubernur Gugat PTUN Bupati Ngada
Akademisi Koreksi Pernyataan Fraksi Golkar DPRD Ngada Terkait Pelantikan Sekda
Panas! Bupati Ngada Abaikan Penunjukan Gubernur, Watu Ngebu Tetap Dilantik Jadi Sekda
Akan Berubah Jadi PT Perseroda, Bank NTT Pertegas Peran sebagai Motor Ekonomi Daerah
VBL Sebut Energi Hidrogen adalah Masa Depan NTT, Saatnya Kita Bangkit
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 20:14 WIB

Mindriyati Astiningsih Laka Lena Ajak Orang Tua Perkuat Perlindungan Anak Lewat Parenting dan Literasi Digital

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:58 WIB

Media Penyiaran Berperan Penting dalam Penyebarluasan Informasi Pemilu

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:08 WIB

Universitas Dhyana Pura Bali Tradisi Ora et Labora Lewat Ibadah Rabuan

Senin, 9 Maret 2026 - 14:29 WIB

Jangan Gaduh, Ahli Hukum Administrasi Negara Sarankan Gubernur Gugat PTUN Bupati Ngada

Minggu, 8 Maret 2026 - 08:59 WIB

Akademisi Koreksi Pernyataan Fraksi Golkar DPRD Ngada Terkait Pelantikan Sekda

Berita Terbaru