Tidur Ditenda Darurat Mandiri; Warga di Ende Mulai Alami Gangguan Kesehatan Pascagempa Flores

- Penulis

Minggu, 30 Agustus 2026 - 13:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi tenda darurat mandiri yang didirikan warga (Foto: Mateus Bheri/SP)

Kondisi tenda darurat mandiri yang didirikan warga (Foto: Mateus Bheri/SP)

Ende, Savanaparadise.com,- Memasuki tahap kedua perpanjangan masa tanggap darurat bencana pascagempa Flores, para pengungsi mandiri di Kabupaten Ende masih bertahan tidur ditenda-tenda darurat mandiri akibat trauma dengan gempa susulan.

Mereka tidur di bawah tenda darurat yang di bangun seadanya demi menjaga resiko, kalau-kalau terjadi gempa susulan. Warga yang tidur ditenda-tenda darurat ini, rata-rata rumah kebanyakan rumah berdinding bata ekspos (rumah berdinding yang belum diplester) yang sudah mengalami retak-retak ringan tetapi luput dari pendataan.

Dari hasil pantuan media dilokasi dan berdasarkan pengakuan beberapa warga setempat, pilihan bertahan tidur ditenda darurat secara mandiri dilakukan pascagempa mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus lalu hingga kini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akibatnya, tidak sedikit diantara warga mulai alami gangguan kesehatan. Terpantau dilokasi juga, kebanyakan warga yang alami gangguan kesehatan adalah Lansia dan Anak-anak, seperti yang dialami salah seorang Ibu, Dominika Sedho (75), warga Desa Ndetundora 3, RT. 05/RW.02, Dusun Koponio 2, Kecamatan Ende.

Mama Sedho, saat ditemui media Saavanapaaradise.com di rumahnya, Sabtu, 29 Agustus 2026 menuturkan, pascagempa 15 Agustus 2026 dirinya bersama kerabat keluarga di sekitarnya tidur di tenda darurat mandiri hingga kini.

Ia mengatakan, keputusan tersebut diambil berdasarkan permintaan dari tetangganya dan juga anak-anaknya diperantuan mengingat kondisi rumahnya yang mengalami retak akibat gempa meskipun tidak parah.

Baca Juga :  Terobos Medan Ekstrem; Polres Ende Sukses Beri Pengobatan Gratis dan Bantuan bagi Warga Terdampak di Ngalupolo

Maklum, Mama Sedho seorang janda setelah ditinggal suaminya puluhan tahun lalu. Karena sering tidur ditenda darurat saat malam tiba sekaligus terpapar angin malam sehingga mengakibatkan kesehatannya terganggu.

Mama Sedho mengaku, bukan hanya dirinya mengalami nasib demikian, tetapi tetangga di sekitarnya juga mengalami hal sama yang sama.

‘Kami ndia bhene meke mesa baba. (Kami di sini batuk pilek semua anak-red). Kami taku baba eru ndia sa’o (kami takut anak tidur di dalam rumah). Gempa goyang terus na baba”, tutur Mama Sedho.

Hal yang sama juga dituturkan oleh tetangga mama Sedho yang tidak namanya di mediakan. Menurut pengakuanya, dampak dari gempa 15 Agustus yang lalu, masyarakat di RT.05/RW.02, Dusun Koponio 2 merasa trauma dan takut ditambah gempa susulan yang terus terjadi.

Ia mengaku, sejak gempa utama kemudian ditambah gempa susulan membuat warga enggan melakukan aktivitas karena takut. Ia juga mengaku, selama ini dirinya dan tetangga di sekitarnya selalu tidur di luar rumah, di bawah tenda yang didirikan sendiri oleh warga.

“Mungkin cuacanya kurang bersahabat sehingga kesehatan warga di sini mengalami batuk, pilek, dan bahkan demam. Ada anak-anak dan juga orang tua”, terangnya.

Ia menambahkan, sejak gempa juga warga di RT nya juga jarang turun ke Kota Ende untuk berbelanja lantaran kondisi jalan pascagempa mengalami reruntuhan di mana-mana sehingga perputaran roda ekonomi masyarakat setempat agak sedikit tersendat.

“Ada yang mau kita ke Kota, mau beli keperluan kita sehari-hari juga takut karena kondisi jalan juga belum stabil. Untuk sementara kita masih was-waslah itu”, ungkapnya.

Baca Juga :  Peduli Gempa Flores; Diaspora Ende Lio Sare Kutai Timur Kaltim Salurkan Bantuan Bagi Lansia di Ende

“Kalau takut dan trauma itu sudah pasti. Saya sendiri, keluarga saya, anak saya, kalau terjadi gempa pasti lari walaupun dalam skala kecil. Karena dia trauma betul-betul karena baru pertama kali merasakan itu. Kebanyakan anak-anak itu takut”, tambahnya.

Dia mengungkapkan, sejauh ini dirinya bersama warga yang lain pernah sekali menerima bantuan dari keluarga mereka yang ada di Jakarta. “Kemarin itu katanya informasi pemeriksaan kesehatan gratis di dua titik katanya ada Dokter dari Jakarta. Tapi kami tidak sempat ke sana karena informasi kami terima, saat dokter sudah ada di lokasi”, tuturnya.

Karena itu, dirinya mendorong agar tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas ataupu Dinas Kesehatan dapat turun ke desa atapun dusun untuk melakukan pemeriksaan kesehatan bagi warga yang terdampak gempa.

“Kalau di sini untuk rumah rusak karena penilaian saya juga belum tahu yang ringan, sedang, dan berat. Itu saya belum tahu. Yang di sini saya lihat yang di data ini hanya satu saja yang terdata. Padahal masih ada 3 rumah yang tidak di data”, pungkasnya.

Diketahui, dari data yang di himpun dilapangan, di RT.05/RW.02. Dusun Koponio 2, sebanyak 30 KK yang bertempat di sana yang terdiri dari, 6 orang lansia, 20 Orang anak dan 4 orang Ibu menysui. Namun, dari pengamatan dilokasi, tidak sedikit warga menderita penyakit ISPA. Sejauh ini, warga terpaksa mengeluarkan uang dari kantong sendiri untuk membeli obat.

Penulis : Mateus Bheri

Editor : Tim Redaksi

Berita Terkait

Angka Kecelakaan Lalu Lintas di Ende Tahun 2026 Tercatat 63 Kasus; 5 Orang Meninggal Dunia
Bupati Badeoda Lantik Gabriel Dala Jadi Sekda Ende; Minta Benahi Birokrasi Berbelit-Belit
Kunjungi Ende, Wamen PU Instruksikan Percepatan Tanggap Darurat Infrastruktur Air Minum Perumda Tirta Kelimutu
Datangi Kantor DPRD dan Bupati Ende; Puluhan Kades Tergabung Dalam APDESI dan PPDI Sampaikan 8 Poin Tuntutan
Sempat Dikabarkan Batal Dibagikan ke KPM; 54 Ton Beras Rawan Pangan di Ende Disalurkan Secara Manual
754 Ton Beras Rawan Pangan Di Ende Gagal Salur, Ansel Kaise : Pemkab Segera Koordinasi Dengan Bapanas
Ratusan Unit Kendaraan Dinas Milik Pemkab Ende Tunggak Pajak
VBL Bawa Pesan Persatuan dan Solidaritas dalam Sosialisasi 4 Pilar di Sumba Tengah
Berita ini 98 kali dibaca