Ende, Savanaparadise.com,- Publik Ende dikejutkan dengan pemberitaan diberbagai media yang menerangkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Ende tahun 2024 realisasinya berkisar sekitar 22 M dari target yang ditentukan sebesar 74 M.
Sembari bercermin pada pendapatan daerah yang masih rendah, kondisi ini makin dipersulit dengan adanya kebijakan nasional tentang efisiensi anggaran yang tentunya akan berdampak langsung terhadap berbagai program dan kebijakan Pemerintah yang sedang berjalan dalam setahun.
Dari gambaran persoalan tersebut, sangat dibutuhkan gebrakan dari sosok pemimpin yang memiliki keberanian untuk berubah dengan berbagai terobosan-terobosan demi menggenjot dan menyeimbangkan kembali keadaan ini seperti apa yang diharapkan.
Melalui jumpa pers dengan berbagai awak media yang bertempat di Rumah Jabatan Bupati, Sabtu, (29/3/25) Bupati Kabupaten Ende, Yosef Benediktus Badeoda, SH.,MH menegaskan, mengawali karirnya sebagai Bupati, Ia akan memulai pemerintahan ini dengan motto keterbukaan.
Menurutnya, serumit apapun kondisi yang terjadi dan bagaimanapun kondisi di Ende, Ia berkomitmen akan tetap terbuka.
Bupati merasakan betul ada perbedaan antara ‘Ende Baru’ yang di cita-citakan dengan kondisi yang ada. Ia melihat kondisi Ende hari ini memang tidak baik-baik saja sehingga tagline ‘Ende Baru’ baginya sangat tepat untuk digalakkan.
Berkaitan dengan motto keterbukaan, Bupati Badeoda telah memerintahkan setiap OPD untuk menyampaikan secara terbuka kepada publik terkait apa yang sudah dikerjakan selama seminggu.
Melengkapi motto keterbukaan, Bupati lalu mencanangkan bahwa setiap Minggu OPD akan diadakan apel rutin sebagai bentuk evaluasi serta menerima laporan dari setiap OPD kepada Dirinya.
“Jadi kita terus begitu setiap Minggu, harus apel dan mereka harus terbuka. Saya sudah sampaikan ke Kominfo, ini setiap hari harus di publikasi, apa yang sudah dilakukan semua OPD. Dari situ masyarakat bisa tahu apa yang dikerjakan pemerintah”, ujar Bupati Badeoda.
Dengan tagline ‘Ende Baru’ Bupati menginginkan di pemerintahannya perlu melibatkan semua pihak untuk membangun Ende. Maka, Ia menyarankan pula agar semua OPD harus membuka diri dan terbuka pada siapapun.
“Kalau sembunyi berarti ada yang disembunyikan berarti ada yang tidak benar. Kalau benar, buat apa kita sembunyi. Kan bagus biar publik tahu”, tutur Bupati.
Sekali lagi Bupati menyarankan pada setiap OPD untuk menyampaikan informasi penting ke publik. Bupati pun mencontohkan, misalnya BAPENDA, kalau ingin membuat gerakan sekolah bersih, gerakan ketahanan pangan, atau bersih-bersih sampah perlu disampaikan ke publik.
Selain membicarakan motto keterbukaan diawal kepemerintahannya, Bupati menginginkan pendapatan daerah perlu genjot. Ia sedikit menggambarkan kondisi yang di BAPENDA pasca pemberhentian para petugas tagih, baik petugas tagih parkir dan petugas tagih di pasar.
Menurut Bupati akan jadi masalah kalau tidak ada orang yang bekerja kemudian diberhentikan.
Kedepan, Bupati Badeoda berjanji akan melakukan terobosan dengan melibatkan Bank NTT agar setiap Hotel, Resto, dan Warung Makan perlu dipasang Qris demi mengetahui data pengunjung dari masing-masing tempat tersebut. Langkah ini kemudian diambilnya demi menghindari terjadinya manipulasi data.
Terobosan selanjutnya yang dilakukan Bupati adalah menghidupkan kembali pasar Potulando dan menggelar pasar malam di setiap Minggu dengan menghadirkan berbagai hiburan dan perlombaan bagi masyarakat.
Selain menghibur masyarakat Ende, tambah dia, dari pergelaran pasar malam tersebut, diharapkan mampu menggenjot pendapatann daerah.
Bupati juga menekankan pentingnya memanfaat semua aset daerah demi meningkatkan pendapatan daerah. Menurut dia, apabila ada aset daerah yang tidak memberikan kontribusi, lebih baik aset tersebut dijual atau dikontrakkan.
“Mudah-mudahan PAD kita tahun ini bisa mencapai sesuai yang ditargetkan 90 M. Bahkan kalau perlu bisa melampaui 100 M”, harap Bupati Badeoda
Seirama dengan Bupati, Wakil Bupati Ende, Dr drg. Dominikus Minggu Mere, M. Kes dikesempatan tersebut menambahkan, langkah berikut yang akan diambil pemerintah adalah mengubah paradigma berpikir dari yang sebelumnya membiasakan belanja lebih banyak, diubah mencari PAD lebih banyak.
Menurut Wakil Bupati, Bupati juga telah berkomitmen mengoptimalisasi pendapatan dengan memanfaatkan seluruh potensi yang ada.
“Kalau harus dimutasi, mutasi saja. Kalau memang pendapatan yang menyelenggarakan tersebut kurang bagus harus di ganti. Betul Bupati saya setuju”, timpal Domi Mere.
Bupati dan Wakil Bupati dalam kesempatan yang sama, sama-sama mengaku kaget melihat kondisi yang ada.
Sebagai orang yang berlatarbelakang birokrasi Wakil Bupati mengaku lebih kaget melihat anggaran yang semestinya dipergunakan untuk belanja modal lalu diambil untuk belanja pegawai.
“Ilmu akutansi dari mana ni? tanya Wakil Bupati. Kita harus luruskan. Bukan semaunya jelek, tidak!. Yang baik akan kita teruskan, yang kurang kita perbaiki dan dalam perbaikkan itu, pasti ada yang merasa kurang puas”, terang Domi Mere. (CR/SP)