Tata Niaga Sapi Dan Ikan di NTT dikuasai Mafia Kartel Politik Jakarta

- Penulis

Minggu, 12 Juli 2015 - 10:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Savanaparadise.com,- Tata niaga ternak sapi dalam rangka kerja sama dagang antar Pemda NTT dengan Pemda DKI sertatata niaga ikan dengan Pemda Jawa Tengah, sepertinya hanya enak didengar untuk komsumsi politik, tetapi sulit dipraktekan bahkan mulai menyulitkan peternak dan nelayan tradisional di seluruh NTT.

“ Khusus untuk peternak sapi tradisonal sudah banyak keluhan karena para peternak tradisional tidak bisa lagi menjual secara bebas hasil ternaknya untuk menutupi kebutuhannya sehari-sehari, lantaran karena harus menjual dengan mengikuti tata niaga sapi yang berbelit-belit yang hanya menguntungkan pundi pundi pedagang besar,” Kata Koordinator TPDi, Petrus Salestinus, dalam rilis yang diterima Savanaparadise.com dari jakarta, Minggu, 12/07.

Baca Juga :  Portofolio Kredit Rp79 Miliar Terdampak Gempa Flores, Bank NTT Siapkan Restrukturisasi

Padahal peternak sapi NTT Kata Salestinus adalah peternak tradisional yang menggantungkan hidup sehari-harinya antara lain dari menjual sapi di pasar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menduga, saat ini NTT sudah dikuasai oleh kartel-kartel politik dari Jakarta, sementara pejabat-pejabat pemerintah baik di Provinsi maupun di Partai Politik di NTT patut diduga telah menjadi agen-agen dan kaki tangan kartel-kartel politik di Jakarta.

Baca Juga :  Bank NTT dan Jamkrida NTT Teken Kerja Sama Pengalihan Hak Tagih

sehingga apa yang dikerjakan Pemerintah Provinsi atau apa yang dikatakan sebagai pemerintah sedang membangun NTT sesungguhnya sebuah proses pembangunan yang tidak untuk rakyat.

” tetapi untuk kartel-kartel politik dan kroninya, sementara masyarakat hanya ketiban limbah pembangunan, sisa-sisa proyek yang berlangsung secara masif dan terstruktur,” Jelasnya.

ika demikian kenyataannya, Kata Salestinus, masyarakat NTT hanya mendapatkan angin surga dan janji janji kosong, sementara yang menikmati kesejahteraan sosial adalah pejabat-pejabat dan kroni-kroninya.(SP)

Berita Terkait

Bank NTT Terima Apresiasi ILO, Pembiayaan Petani Rumput Laut di Sumba Timur Catat NPL 0 Persen
Portofolio Kredit Rp79 Miliar Terdampak Gempa Flores, Bank NTT Siapkan Restrukturisasi
Bank NTT dan Jamkrida NTT Teken Kerja Sama Pengalihan Hak Tagih
Bank NTT Bahas Kemungkinan Relaksasi Kredit bagi Debitur dan Pelaku UMKM Terdampak Gempa Flores
Rekor MURI Pecah, 220 Ribu Siswa NTT Serentak Menabung di Bank NTT
Laba Bank NTT Naik 31,94% pada Semester I, Efisiensi dan Transformasi Bisnis Dongkrak Kinerja
Bank NTT Hadirkan Solusi Digital untuk Tingkatkan Transparansi Keuangan Daerah
Festival Daun Lontar Ende Lio Ajang Lestarikan Tradisi Anyaman Yang Bernilai Ekonomis
Berita ini 6 kali dibaca