Tiga Dekade GMNI Kupang: Mencetak Kader Nasionalis dari Timur Indonesia

- Penulis

Senin, 23 Maret 2026 - 18:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Catatan Elas Jawamara (Alumni GMNI Kupang dan Jurnalis)

Kupang,Savanaparadise.com-Pagi-pagi sekali saya ke pasar Oesapa, Kota Kupang usai mengantar anak saya Aretha Franklin yang bersekolah di SMP Katolik Muder Teresa. Sepulang dari pasar, sambil minum kopi saya mengambil handphone. Di layar ada notifikasi pop-up; ternyata Eman Kolfidus mengirimkan tulisan di grup Mabes Alumni GMNI. Saya baru ingat, hari ini GMNI genap berumur 72 tahun, 23 Maret 2026. Eman Kolfidus merupakan Ketua Cabang GMNI Kupang pada tahun 1998, di masa mahasiswa melakukan perlawanan terhadap rezim Soeharto di seluruh Indonesia termasuk Kupang.

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) didirikan pada 23 Maret 1954 di Surabaya melalui penggabungan tiga organisasi mahasiswa: Gerakan Mahasiswa Marhaenis (GMM), Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI), dan Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (GMSI). Tujuan penggabungan ini adalah membentuk organisasi mahasiswa yang solid, berkarakter nasionalis, dan berpihak pada rakyat kecil atau kaum Marhaen, sejalan dengan ideologi Marhaenisme yang digagas oleh Ir. Soekarno.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

GMNI lahir dari upaya menyatukan organisasi mahasiswa nasionalis pada awal 1950-an. Gagasan ini muncul pertama kali dari S. M. Hadiprabowo, ketua Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia, pada September 1953, dan mendapat dukungan dari Soetojo Prawiromidjojo dari Gerakan Mahasiswa Merdeka.

Untuk mewujudkan penyatuan, Hadiprabowo bertemu dengan pimpinan organisasi lain termasuk Slamet Djajawidjaja, Slamet Rahardjo, dan Haruman dari Gerakan Mahasiswa Merdeka, serta Wahyu Widodo, Subagio Masrukin, dan Sri Soemantri dari Gerakan Mahasiswa Marhaenis. Pertemuan ini kemudian melahirkan GMNI, yang sejak awal menjadi wadah kaderisasi dan perjuangan mahasiswa untuk menegakkan nasionalisme dan keadilan sosial di Indonesia, dengan ideologi Marhaenisme yang diinspirasi oleh Ir. Soekarno.

Tanggal 23 Maret 1954 ditetapkan sebagai hari lahir GMNI karena bertepatan dengan pembukaan Kongres I di Surabaya yang direstui langsung oleh Presiden Soekarno.

Lalu bagaimana dengan kehadiran GMNI di NTT? Cikal bakal kehadiran GMNI di Bumi Flobamora diceritakan kembali oleh Silvester Mbete, Alumni GMNI di Jakarta.

Perkembangan GMNI di NTT dimulai dari Kupang, yakni Cabang Kupang. Kehadiran GMNI cabang Kupang sebagai cabang tertua menandai perjalanan GMNI di NTT yang kini alumninya tersebar di seluruh Flobamora.

Salah satu saksi kunci dari kehadiran GMNI di NTT, Silvester Mbete mengisahkan titik awal kaum Marhaenis bertumbuh dan menyuburkan tanah NTT yang masih dipandang sebagai daerah termiskin ini.

Sosok sentral dari sejarah GMNI di NTT adalah almarhum Frans Lebu Raya. Sosok yang menjabat Gubernur NTT dua periode ini, dengan tangan dinginnya telah melahirkan banyak kader GMNI yang kini tersebar di berbagai jabatan sosial, politik, hingga kemasyarakatan di NTT.

Baca Juga :  Dugaan Oknum Polisi Aniaya Wartawan,Kuasa Hukum Korban Desak Kapolda NTT Tegas  

Kala itu, Frans Lebu Raya masih berstatus mahasiswa Fakultas Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana Kupang, sekaligus Ketua Senat Mahasiswa.

Seperti diceritakan Silvester, cikal bakal pembentukan GMNI Kupang berawal dari kebijakan Presidium GMNI periode 1989–1992 yang memiliki program untuk membentuk cabang-cabang baru di daerah yang belum memiliki struktur organisasi.

Sebagai salah satu fungsionaris Presidium GMNI saat itu, Silvester diminta oleh Ketua Presidium, Kristiya Kartika, untuk membentuk cabang baru di Provinsi NTT, minimal di Kota Kupang sebagai ibu kota provinsi.

Atas dasar keputusan tersebut, Silvester mulai menjajaki komunikasi dengan berbagai aktivis mahasiswa asal NTT di Jakarta. Tantangan utama yang dihadapi adalah minimnya jejaring dengan aktivis mahasiswa di Kota Kupang.

“Secara kebetulan, saya bertemu dengan Chris Boro Tokan, seorang aktivis Kelompok Cipayung. Melalui beliau, saya direkomendasikan untuk berkomunikasi dengan seorang aktivis mahasiswa di FKIP Undana Kupang yang juga menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa, yaitu Frans Lebu Raya,” kisah Silvester.

Beberapa bulan kemudian, Frans Lebu Raya mengikuti kegiatan di Bandung, yaitu Pertemuan Nasional Senat Mahasiswa FKIP seluruh Indonesia. Momentum ini menjadi ajang pertemuan Chris Boro Tokan, Frans Lebu Raya, dan Silvester Mbete. Frans menyatakan kesediaannya untuk membentuk GMNI di Kupang dengan catatan bahwa pembentukan tersebut harus mendapat persetujuan dari Presidium GMNI.

Agenda berikutnya adalah pertemuan dengan Presidium GMNI di Jakarta. Dari pertemuan itu, Frans belum langsung diberikan surat rekomendasi pembentukan cabang.

Kristiya Kartika kemudian meminta Silvester untuk melakukan pengecekan kondisi lapangan, memastikan kesiapan Frans untuk memimpin cabang baru di Kupang.

Menjelang perayaan Natal 1990, Silvester pulang ke kampung untuk liburan, sekaligus merencanakan kunjungan ke Kota Kupang untuk bertemu dengan Frans. Setelah merayakan Natal dan Tahun Baru di kampung, perjalanan dilanjutkan dari Maumere menuju Kupang, siap untuk memulai peninjauan lapangan dan dialog dengan aktivis mahasiswa setempat.

Setibanya di Bandara Eltari, Silvester dijemput oleh Frans Lebu Raya bersama belasan aktivis mahasiswa Kota Kupang.

Dari bandara, Silvester dan rombongan berkonvoi menuju Kampus FKIP Undana, di mana telah disiapkan acara dialog antara Presidium GMNI dan para aktivis mahasiswa di Aula FKIP. Dari forum dialog ini, terlihat antusiasme para aktivis mahasiswa Kota Kupang untuk membentuk GMNI di Kupang.

Baca Juga :  Akademisi Apresiasi Laporan Kinerja Fraksi PDI Perjuangan DPRD NTT, Dorong Standar Baru Akuntabilitas Politik

Diskusi dilanjutkan secara informal di kediaman Frans Lebu Raya. Silvester menginap selama tiga hari. Selama beberapa malam itu, ia menyaksikan para aktivis mahasiswa datang silih berganti, berdialog hangat mengenai berbagai isu yang sedang diperbincangkan.

Menjelang kepulangan ke Jakarta, Silvester menerima usulan struktur kepengurusan DPC Caretaker GMNI Kupang, lengkap dengan susunan organisasi: Frans Lebu Raya sebagai Ketua dan John Kosat sebagai Sekretaris.

Setibanya di Jakarta, Presidium GMNI menggelar rapat untuk mendengarkan laporan kunjungan ke Kupang. Dalam rapat tersebut, Presidium memutuskan pembentukan resmi DPC Caretaker GMNI Kota Kupang dan mengeluarkan Surat Keputusan Caretaker.

Setelah menerima SK, Frans dan pengurus mulai menata organisasi dengan membentuk komisariat di beberapa fakultas Undana serta di perguruan tinggi lain di luar Undana. Tiga bulan kemudian, DPC GMNI Kupang menyelenggarakan Konferensi Cabang untuk menyusun kepengurusan definitif. Hasil konferensi menetapkan struktur baru, dengan Ketua terpilih Frans Lebu Raya dan Sekretaris Nikolaus Frans.

Duet GMNI, Frans Lebu Raya dan Nikolaus Frans, pada masa perjuangan telah memberikan kontribusi besar bagi NTT. Para sekondan dan generasi junior mereka, melalui bimbingan dan ajaran keduanya, melahirkan banyak kader Marhaenis progresif yang kini tersebar di seluruh tanah Flobamora.

Banyak di antara mereka menempati jabatan politik, terlibat dalam gerakan pemberdayaan masyarakat, bekerja di bidang pendidikan, serta menekuni berbagai profesi lain.

Keteguhan Frans dan Niko dalam menjaga ajaran Soekarno di tengah dinamika zaman telah membuahkan hasil yang manis, membuktikan bahwa nilai-nilai Marhaenisme tetap hidup dan berkembang di NTT melalui generasi kader yang mereka bentuk.

Banyak kisah dan pengalaman yang mengiringi perjuangan di Rumah Besar GMNI NTT. Pahit dan manis telah dirasakan bersama, perbedaan pendapat hingga titik terendah pun telah dilalui, bahkan berpisah jalan politik. Namun, semangat juang di bawah panji-panji GMNI untuk Indonesia Raya tetap hidup dan terus diperjuangkan oleh para kadernya.

Hari ini, GMNI genap berusia 72 tahun, menandai perjalanan panjang organisasi mahasiswa yang telah menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa. Tak kalah penting, GMNI Kupang merayakan 36 tahun eksistensinya, menegaskan bahwa selama tiga dekade, panji-panji GMNI telah hadir dan tumbuh subur di Bumi NTT.

Dari generasi ke generasi, para kader telah menorehkan kontribusi nyata, menumbuhkan semangat nasionalisme, dan membentuk pemimpin-pemimpin muda yang tangguh. Jejak langkah GMNI Kupang membuktikan bahwa dedikasi, komitmen, dan idealisme mahasiswa dapat terus menjadi motor perubahan bagi masyarakat, daerah, dan bangsa. Dirgahayu, GMNI, Merdeka!

Penulis : Tim Redaksi

Berita Terkait

Tingkatkan Solidaritas Warga,Ketua RT 05 Kel. Belo pimpin warga kerja bakti perbaiki jalan lingkungan
GMNI Kupang Salurkan Bantuan Sosial bagi Pasien di Rumah Singgah, Wujud Kepedulian Menyongsong Dies Natalis ke-72
Dugaan Oknum Polisi Aniaya Wartawan,Kuasa Hukum Korban Desak Kapolda NTT Tegas  
Bupati Ngada Bertemu Gubernur NTT di Kupang, Apa Hasilnya? 
Dr. Rudi Rohi Sebut Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Prosedur Lengkap Berpotensi Batal Demi Hukum 
Berbeda Dengan Akademisi, Ketua STN NTT Tegaskan Pelantikan Wajib Persetujuan Gubernur
Gubernur NTT Tunggu Hasil Inspektorat, Polemik Pelantikan Sekda Ngada Bisa Berujung Sanksi
Pengamat Politik UNWIRA :Bupati Ngada punya wewenang angkat Sekda sesuai UU Pemda, Namun harus penuhi prosedur sistem merit UU ASN.
Berita ini 94 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 18:25 WIB

Tiga Dekade GMNI Kupang: Mencetak Kader Nasionalis dari Timur Indonesia

Jumat, 20 Maret 2026 - 13:01 WIB

Tingkatkan Solidaritas Warga,Ketua RT 05 Kel. Belo pimpin warga kerja bakti perbaiki jalan lingkungan

Kamis, 19 Maret 2026 - 21:03 WIB

GMNI Kupang Salurkan Bantuan Sosial bagi Pasien di Rumah Singgah, Wujud Kepedulian Menyongsong Dies Natalis ke-72

Senin, 16 Maret 2026 - 09:42 WIB

Dugaan Oknum Polisi Aniaya Wartawan,Kuasa Hukum Korban Desak Kapolda NTT Tegas  

Sabtu, 14 Maret 2026 - 12:55 WIB

Bupati Ngada Bertemu Gubernur NTT di Kupang, Apa Hasilnya? 

Berita Terbaru