Produktivitas Menurun, DPD RI Duga Ada Mafia Pupuk di NTT

- Penulis

Rabu, 7 Oktober 2015 - 10:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kupang, Savanaparadise.com,- Ibrahim Agustinus Medah menduga ada mafia pupuk yang mengakibatkan hasil produksi pertanian terus menurun. Saat ini DPD RI melalui Komite II membentuk tim untuk menelusuri dugaan mafia pupuk di Indonesia.

“DPD melalui Komite II membentuk tim untuk menelusuri dugaan mafia pupuk. Jika ditemukan adanya indikasi maka komite yang dibentuk segera melaporkan ke pihak berwajib untuk ditidaklanjuti,” kata Medah di Kupang, Selasa (6/10).

Medah menegaskan saat ini petani sulit memperoleh pupuk nonsubsidi yang sebelumnya masih dijual eceran. Sekarang, untuk memperoleh pupuk subsidi maka petani diwajibkan mengajukan Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Hal ini menyebabkan lambatnya petani untuk mendapatkan pupuk tepat waktu karena birokrasinya sangat bertele-tele. Semestinya, pemerintah menyiapkan pupuk nonsubsidi dipasaran agar mempermudah petani untuk membelinya.

Kepada enam anggota DPD RI di Kupang, Ketua Kelompok Tani Agri Mandiri, Kelurahan Lasiana Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur Samuel Rewa menyampaikan mencari emas lebih gampang dari pada mencari pupuk di Kota Kupang.

“Terlalu sulit mencari pupuk yang dijual di NTT sehingga kami harapkan bapak-bapak anggota DPD RI untuk memperhatikan kami para petani,” ujar Samuel.

Menurut Samuel, melakukan perubahan terhadap Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman maka aspek penting yang harus diperhatikan adalah ketersediaan pupuk disaat yang tepat.

Baca Juga :  Akademisi Koreksi Pernyataan Fraksi Golkar DPRD Ngada Terkait Pelantikan Sekda

Dia meminta agar setiap kelompok tani dijadikan sebagai pendistribusi pupuk kepada petani. Setiap bibit yang ditanam sangat tergantung pada pupuk. Jika tanaman tidak dipupuk maka hasilnya pasti sangat berkurang.

“Setiap kelompok tani (Gapoktan) bisa dijadikan sebagai pengecer pupuk. Kami tidak dapat pupuk sehingga sangat sulit, benih yang ditanam tergantung pada pupuk. Jika tidak ada pupuk maka hasilnya juga tidak ada,” katanya.

Menurut Samuel, benih yang didatangkan dari luar malahan hasilnya kurang jika dibandingkan dengan benih lokal. Benih lokal dapat menghasilkan produksi yang maksimal asalkan diberi pupuk tepat waktu.(SP)

Berita Terkait

Jangan Gaduh, Ahli Hukum Administrasi Negara Sarankan Gubernur Gugat PTUN Bupati Ngada
Akademisi Koreksi Pernyataan Fraksi Golkar DPRD Ngada Terkait Pelantikan Sekda
Panas! Bupati Ngada Abaikan Penunjukan Gubernur, Watu Ngebu Tetap Dilantik Jadi Sekda
Akan Berubah Jadi PT Perseroda, Bank NTT Pertegas Peran sebagai Motor Ekonomi Daerah
VBL Sebut Energi Hidrogen adalah Masa Depan NTT, Saatnya Kita Bangkit
Perdes Masih Draf Uji Coba, Warga Suku Boti Mengaku Merugi Ratusan Juta
Akademisi Apresiasi Laporan Kinerja Fraksi PDI Perjuangan DPRD NTT, Dorong Standar Baru Akuntabilitas Politik
Drama Pergub 33: Kadis Sulastri Balik Arah, Minta Maaf ke DPRD dan Nelayan
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 14:29 WIB

Jangan Gaduh, Ahli Hukum Administrasi Negara Sarankan Gubernur Gugat PTUN Bupati Ngada

Minggu, 8 Maret 2026 - 08:59 WIB

Akademisi Koreksi Pernyataan Fraksi Golkar DPRD Ngada Terkait Pelantikan Sekda

Sabtu, 7 Maret 2026 - 09:48 WIB

Panas! Bupati Ngada Abaikan Penunjukan Gubernur, Watu Ngebu Tetap Dilantik Jadi Sekda

Rabu, 4 Maret 2026 - 13:04 WIB

Akan Berubah Jadi PT Perseroda, Bank NTT Pertegas Peran sebagai Motor Ekonomi Daerah

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:08 WIB

VBL Sebut Energi Hidrogen adalah Masa Depan NTT, Saatnya Kita Bangkit

Berita Terbaru