Faktor Geografis Sulitkan NTT dalam Menjalankan Kurikulum 2013

- Penulis

Senin, 4 Agustus 2014 - 20:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kupang, Savanaparadise.com,- NTT merupakan salah satu provinsi di bagian timur Indonesia yang dianggap publik kurang mendapatkan perhatian yang ekstra oleh pemerintah, khususnya untuk beberapa bidang seperti pendidikan.

Salah satu contohnya saja, seperti saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan program Kurikulum 2013. Tetapi hal ini masih jauh dari harapan karena kondisi geografis NTT yang cukup rumit.

“Di NTT, untuk mewujudkan implementasi kurikulum Tahun 2013 pendidikan, memang masih terkendala beberapa persoalan, selain permasalahan teknis seperti tenaga pendidik yang masih minim, juga ditambah dengan lokasi sekolah yang berjauhan”, kata Kadis Pendidikan Provinsi NTT, Ir. Sinun Petrus Manuk, kepada wartawan, Senin, 04 Agustus 2014.

Petrus Manuk mengatakan merujuk kepada kondisi topografis, demografi dan geografi wilayah NTT yang berada di kawasan kabupaten lembata tinggi dan pegunungan tempat sekolah berada. Bahkan untuk mencapai sebuah sekolah yang terletak di kawasan pegunungan, harus menggunakan transportasi udara yang kemudian harus disambung dengan berjalan kaki.

Baca Juga :  Akademisi Apresiasi Laporan Kinerja Fraksi PDI Perjuangan DPRD NTT, Dorong Standar Baru Akuntabilitas Politik

“Provinsi Nusa Tenggara Timur memang memiliki kondisi grafis yang sangat unik. Itu menjadi salah satu dari sekian banyak kendala yang kami rasakan untuk mewujudkan implementasi kurikulum 2013 yang memang sudah kami laksanakan sejak tahun lalu,” jelasnya.

Kurikulum 2013 telah diselenggarakan sejak tahun 2014 dan program ini dicanangkan di semua tingkat pendidikan di Indonesia.

Sudah puluhan ribu guru yang mendapatkan Bimtek, namun hanya sedikit dari mereka yang memiliki keterampilan khusus dari pelatihan tenaga pendidik yang dilaksanakan.(Semar)

Berita Terkait

VBL Sebut Energi Hidrogen adalah Masa Depan NTT, Saatnya Kita Bangkit
Perdes Masih Draf Uji Coba, Warga Suku Boti Mengaku Merugi Ratusan Juta
Akademisi Apresiasi Laporan Kinerja Fraksi PDI Perjuangan DPRD NTT, Dorong Standar Baru Akuntabilitas Politik
Drama Pergub 33: Kadis Sulastri Balik Arah, Minta Maaf ke DPRD dan Nelayan
Rapat Dinas DKP Gagal Total,Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Ogah Hadir
DPRD NTT Bantah Intervensi Kenaikan Tarif, Komisi II “Sidang” Kadis DKP Soal Polemik Pergub
Miris, Kadis Perikanan Undang Rapat Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Hanya Lewat WhatsApp
Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Minta Melki Lakalena Jangan Bikin Susah Sesama Ana Oeba 
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:08 WIB

VBL Sebut Energi Hidrogen adalah Masa Depan NTT, Saatnya Kita Bangkit

Rabu, 18 Februari 2026 - 20:57 WIB

Perdes Masih Draf Uji Coba, Warga Suku Boti Mengaku Merugi Ratusan Juta

Selasa, 17 Februari 2026 - 09:48 WIB

Akademisi Apresiasi Laporan Kinerja Fraksi PDI Perjuangan DPRD NTT, Dorong Standar Baru Akuntabilitas Politik

Selasa, 30 September 2025 - 21:39 WIB

Drama Pergub 33: Kadis Sulastri Balik Arah, Minta Maaf ke DPRD dan Nelayan

Selasa, 30 September 2025 - 18:40 WIB

Rapat Dinas DKP Gagal Total,Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Ogah Hadir

Berita Terbaru

Oplus_131072

Kupang

Politisi PDIP Sebut NTT Mart Lebih Mirip Kios Biasa

Selasa, 3 Mar 2026 - 08:45 WIB