Dampak Coronavirus, PHRI NTT Minta Keringanan Pajak dan Subsidi Listrik

- Penulis

Rabu, 25 Maret 2020 - 11:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Kupang, Savanaparadise.com,- Pandemi Global Coronavirus memiliki dampak yang sangat luas. Dampak itu juga dirasakan oleh dunia usaha dan perhotelan serta restoran.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTT, Fredy Ongkosaputra mengatakan dampak Coronavirus terhadap dunia usaha dan pariwasata sangat terganggu. Tingkat hunian hotel mulai menurun semenjak Coronavirus mulai merebak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

” Tingkat hunian jeblok.hotel saya tidak ada tamu sama sekali. Kalau terisi paling 2 atau 3 tamu. Walau demikian saya tidak tutup karena untuk antisipasi misalkan dibutuhkan oleh pemerintah,” Kata Fredy dalam jumpa pers bersama Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Provinsi NTT, Jelamu Ardu Marius, Rabu, 25/03/2020.

Ia mengatakan menurunnya tingkat hunian hotel berdampak pada nasib karyawan akibat tidak adanya pemasukan bagi hotel dan restoran.

Baca Juga :  Bank NTT dan Jamkrida NTT Teken Kerja Sama Pengalihan Hak Tagih

” Kita memikirkan bagaimana karyawan tetap digaji. Kami sudah rapat apakah di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja-red) atau kerja pakai Shift,” kata Fredy.

Fredy mengaku sudah menyampaikan kondisi tersebut kepada pemerintah provinsi NTT. Ia berharap pemerintah bisa memberikan solusi agar nasib karyawan hotel dan restoran bisa tertolong.

” Kami minta 50 persen biaya listrik bisa disubsidi oleh pemerintah. Kalau bisa pajak PB 1 bisa digratiskan oleh pemerintah,” kata Fredy.

Dikatakannya bila ekskalasi terus meningkat, hotel-hotel yang tergabung dalam organisasi PHRI siap menjadi lokasi karantina untuk PDP (Pasien Dalam Pengawasan-red).

Baca Juga :  Bank NTT Terima Apresiasi ILO, Pembiayaan Petani Rumput Laut di Sumba Timur Catat NPL 0 Persen

” di Kota Kupang sudah ada keputusan kalau misalkan rumah sakit penuh maka hotel-hotel bisa jadi tempat penanganan corona. hotel sudah sangat siap menjadi tempat karantina. Apabila negara membutuhkan kami siap membantu. Tentunya dibawa pengawasan dinas Kesehatan dan kepolisian,” kata Fredy.

” Semua para pemilik hotel sudah siap. di NTT baru 75 hotel yang tergabung di PHRI. Banyak yang belum bergabung karena tidak ada keharusan untuk bergabung.

Sementara itu Marius yang juga Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT mengatakan kan mengkoordinasikan permintaan PHRI NTT terkait pajak dan subsidi listrik.

” Kami akan koordinasikan sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. Mengenai listrik menjadi kewenangan PLN,” ujarnya.(SP)

Berita Terkait

Edukasi Keuangan di Sumba Tengah, Julie Laiskodat Ingatkan Bahaya Pinjol Ilegal
Lantik Flouri Rita Wuisan, Gubernur NTT Minta Bank NTT Tingkatkan Kontribusi bagi Daerah
Bank NTT Terima Apresiasi ILO, Pembiayaan Petani Rumput Laut di Sumba Timur Catat NPL 0 Persen
Portofolio Kredit Rp79 Miliar Terdampak Gempa Flores, Bank NTT Siapkan Restrukturisasi
Bank NTT dan Jamkrida NTT Teken Kerja Sama Pengalihan Hak Tagih
Raih Runner Up Putra Pariwisata Indonesia 2026; Gilang Asal Ende Akui Peran Besar Levico Butik Antarkan Dirinya ke Podium Juara
Bank NTT Bahas Kemungkinan Relaksasi Kredit bagi Debitur dan Pelaku UMKM Terdampak Gempa Flores
Rekor MURI Pecah, 220 Ribu Siswa NTT Serentak Menabung di Bank NTT
Berita ini 7 kali dibaca