Warga Kupang Ditemukan Tewas Gantung Diri, Diduga Stres Karena Bercerai

- Penulis

Rabu, 10 Februari 2021 - 15:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kupang, Savanaparadise.com,- Seorang Warga di Kota Kupang ditemukan tewas gantung diri di rumah temannya. Diketahui korban tersebut bernama Maksi Dominggus Hawu (45), warga RT. 8/RW.03, Kelurahan Maulafa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT.

Korban ditemukan tewas gantung diri di rumah milik Rence Nitanael Kase di perumahan Suni Wilayah RT. 21/RW.01 Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Selasa malam, (9/2/21).

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, sejak bulan Oktober 2020 lalu, korban bercerai sah dengan istrinya, selanjutnya tinggal di rumah Rence Nitanael.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Semenjak berpisah dengan istrinya, korban selalu mengeluhkan tentang masalah keluarga dan rumah tangganya yang bubar.

Sekitar Pukul 07.00 Wita pagi, pada hari Selasa, (9/2/21), korban tinggal sendiri di rumah karena Rence sedang pergi bekerja. waktu itu korban berbaring karena sakit gigi.

Sekitar pukul 18.00 Wita, selepas dari tempat kerja, Rence menemukan pintu dan jendela rumahnya dalam posisi tertutup dan terkunci dari dalam.

Rence kemudian mengintip lewat jendela dan melihat korban dalam keadaan tergantung di dalam rumah.

Selanjutnya Rence melaporkan kejadian tersebut ke Ketua RT setempat dan anggota Bhabinkamtibmas Kelurahan Fatukoa. Bersama Ketua RT dan warga setempat, mereka membuka dan mendobrak pintu depan secara terpaksa.

Baca Juga :  Perdes Masih Draf Uji Coba, Warga Suku Boti Mengaku Merugi Ratusan Juta

Setelah pintu berhasil dibuka, mereka menemukan korban dalam keadaan tergantung ditali dan dalam kondisi tidak bernyawa lagi.

Ketua RT 21 Kelurahan Belo, Endi Boko, menjelaskan, kejadian tersebut berlangsung pukul 18.00 Wita. Ia mengaku informasi tersebut diperolehnya dari seorang tukang dilokasi tersebut.

“Saya pas ada duduk dengan warga lain, lalu salah satu tukang datang melaporkan kalau ada orang gantung diri dalam rumah” ujar RT.

Makanya, bersama tuan rumahnya kami ramai-rami menuju ke rumah tempat kejadian dan langsung dobrak pintu dan masuk, sebab waktu seluruh pintu dan jendela terkunci dari dalam, lanjutnya.

Ia juga menuturkan, saat pintu terbuka mereka melihat korban gantung diri didekat jendela. Melihat kejadian itu saya langsung meminta semua warga keluar dan menelepon Polisi.

Menurut pengakuan RT, korban sudah setahun tinggal bersama temannya di perumahan itu, namun yang bersangkutan tidak pernah melaporkan diri kepada pihak Pemerintah setempat.

Sementara itu salah satu teman dekat korban mengaku, korban selama ini menjadi sopir di bandara El Taru Penfui Kupang, tapi karena pandemi corona korban pun berhenti bekerja sebagai sopir bandara.

Baca Juga :  Perdes Masih Draf Uji Coba, Warga Suku Boti Mengaku Merugi Ratusan Juta

Menurut pengakuannya, korban selama ini merupakan sosok yang baik hati. Sehingga dirinya kaget dengan tindakan korban yang mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

“Minggu lalu saya pernah bertemu dengan dia di depan Hotel Romita Kupang”, ujar Ande.

Selang beberapa jam kemudian, anggota kepolisian dari Polsek Maulafa turun ke lokasi untuk melakukan identifikasi dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Polisi juga memasang garis Polisi disekitar lokasi kejadian. Jenasa korban kemudian dibawah ke Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang untuk di visum. Polisi juga memeriksa sejumlah saksi dan mengamankan barang bukti di lokasi kejadian.

Kapolsek Maulafa, AKP Jerry O Puling, ketika dikonfirmasi, Rabu, (10/2/21), membenarkan kejadian ini.

” Kita masih periksa saksi-saksi untuk mengetahui penyebab korban melakukan aksinya”, kata Kapolsek.

Ia mengatakan kalau pemeriksaan awal tidak terdapat adanya tanda kekerasan dan korban murni bunuh diri.

“Kita sudah periksa, tidak ada tanda-tanda kekerasan. Jadi sesuai prosedur, jenasa di bawah ke rumah sakit untuk dilakukan visum, nanti seperti apa kita tunggu hasil selanjutnya, ujarnya.(digtra/*)

Berita Terkait

Perdes Masih Draf Uji Coba, Warga Suku Boti Mengaku Merugi Ratusan Juta
Drama Pergub 33: Kadis Sulastri Balik Arah, Minta Maaf ke DPRD dan Nelayan
Rapat Dinas DKP Gagal Total,Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Ogah Hadir
DPRD NTT Bantah Intervensi Kenaikan Tarif, Komisi II “Sidang” Kadis DKP Soal Polemik Pergub
Miris, Kadis Perikanan Undang Rapat Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Hanya Lewat WhatsApp
Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Minta Melki Lakalena Jangan Bikin Susah Sesama Ana Oeba 
Politeknik St. Wilhelmus Boawae Cetak 126 Lulusan Baru, William Yani Wea: “Jangan Berhenti Belajar!”
Sulastri Sebut Kenaikan Tarif 300 Persen Karena Masukan DPRD NTT, Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Meradang
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 18 Februari 2026 - 20:57 WIB

Perdes Masih Draf Uji Coba, Warga Suku Boti Mengaku Merugi Ratusan Juta

Selasa, 30 September 2025 - 21:39 WIB

Drama Pergub 33: Kadis Sulastri Balik Arah, Minta Maaf ke DPRD dan Nelayan

Selasa, 30 September 2025 - 18:40 WIB

Rapat Dinas DKP Gagal Total,Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Ogah Hadir

Selasa, 30 September 2025 - 16:01 WIB

DPRD NTT Bantah Intervensi Kenaikan Tarif, Komisi II “Sidang” Kadis DKP Soal Polemik Pergub

Selasa, 30 September 2025 - 12:44 WIB

Miris, Kadis Perikanan Undang Rapat Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Hanya Lewat WhatsApp

Berita Terbaru