HTI ada di NTT, GP Ansor Sindir Aparat Keamanan, Pemda dan Intelejen

- Penulis

Minggu, 31 Mei 2020 - 17:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Kupang, Savanaparadise.com,- Kehadiran Organisasi Terlarang Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) Menjadi Tamparan Keras Bagi Pemerintah, Intelejen dan Penegak Hukum di Wilayah Nusa Tenggara Timur. Padahal HTI sudah dibubarkan secara resmi oleh pemerintah.

Ketua GP Ansor NTT, Ajhar Jowe mengatakan aktivitas HTI di NTT seolah-olah keberadaan aparat keamanan, Pemerintah daerah dan komunitas Intelejen tidak berarti apa-apa di hadapan HTI.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

” Kita menyadari bahwa mereka tidak akan melakukan apa-apa tapi faktanya mereka tetap melakukan berbagai aktivitas hingga melakukan siaran langsung Video rapat Vritual di depan Kantor Gubermur NTT. Ini secara sengaja ataupun tidak sengaja Pentolan HTI Saudara Suryadi Koda lakukan Aksi bebas menunjukan bahwa mereka itu ada di kota kupang,” kata Ajhar dalam rilis yang diterima SP, Minggu, 31/05/2020.

Ajhar menerangkan pihaknya sudah beberapa Kali menggagalkan kegiatan HTI di Kupang selama Tahun 2019. Meski demikian kata Ajhar, HTI terus beraktivitas secara senyap maupun terbuka.

Menurut Ajhar HTI beraktivitas di kupang secara masiv melakukan gerakan konsolidasi dari rumah kerumah. Sehingga Pentolan HTI Suryadi Koda berani menunjukan sikap mencoba Publik NTT, Pemerintah, Polisi, TNI dan Badan Intelejen Daerah.

Melalui video itu jelas kata Ajhar mereka lagi upaya ujicoba mengundang reaksi
Penegak hukum, pemerintah serta warga NTT. Karena semua elemen masyarakat NTT sudah menolak kehadiran mereka dengan berbagai cara apapun tetapi hari ini meraka tampil dan tampilan itu di depan Kantor Gubernur NTT.

“Video itu mereka menunjukan kepada publik secara Nasional bahwa mereka masih terus hidup dan bergerak di Nusa Tenggara Timur,” jelas Ajhar.

Lebih lanjut dikatakan Ajhar, hal dilakukan pentolan HTI itu, jangan salahkan mereka, yang perlu digaris bawahi adalah semua pihak lemah mengawasi kehadiran mereka di NTT. Mereka hanya sekelompok kecil tapi mereka mampu menggerakan berbagai aktivitas sampai menyebarkan melalui media penyebaran seperti media cetak, buletin serta melakukan video bebas. Itu mereka menganggap sudah ada kekuatan basis serta gerakan mereka di NTT khusunya di kota kupang.

Salah satu strategis mereka lakukan jika mereka belum punya basis mereka diam dan tidak mau muncul di publik, ketika mereka sudah memiliki kekuatan atau basis maka mereka sudah berani menunjukan diri mereka dengan cara apapun.

” Artinya hari ini Suryadi Koda (Pentolan HTI) diamankan Oleh Polisi dan terus dilakukan proses hukum, sudah jelas pengganti Suryadi Koda sudah ada. Memang itu cara-cara melalui kaderisasi mereka sehingga sampai kapanpun mereka akan tetap ada di seluruh kota,” kata Ajhar.

” Kami mau sampaikan gerakan mereka kalau kita jangan membaca secara lurus kita akan berhenti disitu, tetapi berbagai strategis mereka sudah desain dengan berbagai cara, maka Penahanan Suryadi Koda bukan menyelesaiakan HTI di NTT dan bukan ending melemahkan sistim gerakan mereka,” kata Ajhar.

Ia menjelaskan karena pergerakan HTI yang begitu masiv itu yang perlu antisipasi secara baik oleh pihak-pihak yang kompoten dan badan intelejen daerah.

” Perjalanan mereka di NTT terus kita ikuti bersama sejak Negera merencanakan untuk membubarkan HTI, sebelum dibubarkan saat itu saudara Sait Made mengundurkan diri dari Ketua HTI NTT, dalam Perjalanan setelah Said mundur mandat ketua di Pegang Oleh Suryadi Koda hingga HTI Resmi diberhentikan oleh Negara,” kata dia.

Dikatakannya dengan ancaman apapun untuk mereka tentu mereka sudah mempersiapkan berbagai cara dan berbagai strategis. Ini hal yang perlu dicermati secara bersama oleh semua pihak.

Diuraikannya lebih lanjut akibat gerakan HTI yang terus menunjukan sikap di NTT akhirnya diberbagai medsos membuly agama islam dengan berbagai komentar yang tidak sehat. Sampai dengan berbagai ancaman terus beredar disemua kalangan.

” Lebih ngeri lagi di grup facebook Veky Lerik. Kita memantau berbagai komentar menunjuk sikap rasa tidak suka dengan agama sangat terlihat, caci maki dan kata-kata yang tidak pantas dilontarkan. Sayangnya ko ulahnya HTI tapi agama diseret ke berbagai komentar, ” Jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan Ajhar pemuda Ansor sejauh ini pun terus memantau gerakan mereka. Tetapi kewenangan kita terbatas maka maka hanya sebatas memantau dan memberikan rekomendasi kepada pihak penegak hukum.(SP)

Berita Terkait

Drama Pergub 33: Kadis Sulastri Balik Arah, Minta Maaf ke DPRD dan Nelayan
Rapat Dinas DKP Gagal Total,Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Ogah Hadir
DPRD NTT Bantah Intervensi Kenaikan Tarif, Komisi II “Sidang” Kadis DKP Soal Polemik Pergub
Miris, Kadis Perikanan Undang Rapat Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Hanya Lewat WhatsApp
Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Minta Melki Lakalena Jangan Bikin Susah Sesama Ana Oeba 
Politeknik St. Wilhelmus Boawae Cetak 126 Lulusan Baru, William Yani Wea: “Jangan Berhenti Belajar!”
Sulastri Sebut Kenaikan Tarif 300 Persen Karena Masukan DPRD NTT, Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Meradang
Sulastri Sebut Pergub 33/2025 Terbit Berdasarkan Masukan Resmi DPRD NTT
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 30 September 2025 - 21:39 WIB

Drama Pergub 33: Kadis Sulastri Balik Arah, Minta Maaf ke DPRD dan Nelayan

Selasa, 30 September 2025 - 16:01 WIB

DPRD NTT Bantah Intervensi Kenaikan Tarif, Komisi II “Sidang” Kadis DKP Soal Polemik Pergub

Selasa, 30 September 2025 - 12:44 WIB

Miris, Kadis Perikanan Undang Rapat Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Hanya Lewat WhatsApp

Selasa, 30 September 2025 - 06:59 WIB

Nelayan dan Pelapak PPI Oeba Minta Melki Lakalena Jangan Bikin Susah Sesama Ana Oeba 

Senin, 29 September 2025 - 21:58 WIB

Politeknik St. Wilhelmus Boawae Cetak 126 Lulusan Baru, William Yani Wea: “Jangan Berhenti Belajar!”

Berita Terbaru