Opini : Ekaristi Ditengah Pandemi : Dari Partisipasi Ideal Menuju Pelayanan Sosial

 

Oleh : Fransiskus X. Harun Daman (Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA)

Bacaan Lainnya

 

“Iman, imun, aman.” Ketiga unsur dalam kehidupan manusia yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Ketiga unsur tersebut sangat penting dalam kehidupan manusia, terlebih pada masa Pandemi ini. Tetapi, apa kontribusi iman dalam masa Pandemi ini? Bagi orang-orang yang berkeyakinan, terutama umat Kristiani, iman merupakan bagian sentral dalam kehidupan manusia. Tak terlepas dari itu, kegiatan kerohanian dan praktek liturgia merupakan bagian penting dari iman itu sendiri. Iman menjadi utuh dalam tindakan manusia. Namun dalam realita yang terjadi saat ini dalam masa Pandemi Covid-19, mereka yang sehat dan memiliki imun tubuh yang kuatlah yang mampu bertahan hidup. Berhadapan dengan situasi Pandemi yang masih berlangsung, maka segala kegiatan rohani berupa perhimpunan dan perkumpulan dibatasi, dengan tujuan agar rantai penyebaran virus dapat diputuskan dan mereka yang berimun lemah serta yang rentan terpapar virus corona seperti lansia dan penderita penyakit bawaan tidak terpapar virus mematikan tersebut. Dalam situasi yang terjadi muncul pertanyaan seperti : “Iman, imun, aman.” Mana yang menjadi prioritas antara iman dan imun agar seseorang menjadi aman di masa Pandemi ini? Jawabannya, ketiganya menjadi prioritas.

Umat Kristiani masih belum bisa menjalankan kegiatan atau aktifitas rohani secara maksimal seperti biasanya. Ekaristi yang merupakan pusat dan puncak hidup Gereja belum bisa dirayakan secara ‘lebih baik’ oleh segenap umat Kristiani. Misa Kudus hanya dirayakan di wilayah yang berstatus zona hijau dan zona kuning saja. Sekali pun dapat dirayakan, namun tetap memperhatikan kebijakan pembatasan sosial yang ditetapkan oleh pemerintah dan juga mengikuti protokol kesehatan. Alhasil, umat Kristiani harus merayakan Misa Kudus dengan durasi waktu yang lebih singkat dari biasanya dengan meniadakan nyanyian koor, homili yang juga dipersingkat, serta beberapa partisipasi umat yang harus disesuaikan dengan protokol kesehatan yang diberlakukan pemerintah. Situasi yang serba baru ini membutuhkan penyesuaian dan yang terlebih penting ialah pemaknaan akan iman yang dirayakan dalam Ekaristi itu. Gereja ikut ambil bagian secara pro-aktif dan mengikuti kebijakan tersebut sebagai bentuk kerja sama demi pemulihan dunia dan pemutusan rantai penyebaran Covid-19. Namun sekali lagi, bagaimana penghayatan umat beriman yang berekaristi selama masa Pandemi Covid-19 ini?

Partisipasi Ekaristis

Ekaristi sebagai perayaan Gereja merupakan perayaan anamnese (peringatan) akan misteri kurban Salib Kristus yang diabadikan dalam perjamuan malam terakhir bersama para murid. Perayaan Ekaristi Kudus menjadi pusat dan puncak kehidupan Gereja dan dihidupi oleh Gereja secara turun-temurun serta telah menjadi warisan leluhur yang tidak ternilai yang dianugerahkan oleh Kristus sendiri. Keluhuran martabat Ekaristi ini telah mengantar Gereja sampai pada pemahaman dan kesadaran bahwa Ekaristi harus dirayakan sedemikian rupa, sehingga dari padanya segenap umat Kristiani menimbah rahmat yang berlimpah. Oleh sebab itu, perayaan penuh makna ini diperlukan juga partisipasi aktif dari pihak umat. Partisipasi dalam Ekaristi tidak hanya dimaknai pada bagian-bagian yang terpisah-pisah, melainkan pada suatu partisipasi keseluruhan yang utuh. Partisipasi ideal tersebut antara lain; pertama, partisipasi berupa persiapan. Persiapan ini menyangkut seluruh diri (batin-fisik), persiapan para petugas atau pelayan dalam Perayaan Ekaristi dan persiapan ruang ibadat. Kedua, keheningan. Dalam Perayaan Ekaristi, pada bagian tertentu keheningan merupakan suatu bentuk partisipasi yang berkualitas dan memberi nilai lebih tersendiri. Ketiga, partisipasi dalam sikap liturgis dan dalam nyanyian. Rahmat pembabtisan merupakan dasar bagi partisipasi umat, sehingga partisipasi bukan saja sebuah pilihan pribadi melainkan sebuah kewajiban dan tuntutan (SC 14). Namun dalam masa pandemi ini, pastisipasi ideal yang seharusnya dijalani umat dalam Perayaan Ekaristi menjadi tidak lengkap. Partisipasi itu tidak diberlakukan dengan alasan yang logis dan demi kepentingan banyak orang di masa Pandemi ini. Dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk berpartisipasi ideal dalam Perayaan Ekaristi tidak sedikit pun mematahkan semangat iman dari segenap umat Kristiani. Ekaristi tidak hanya dipahami sebagai upacara liturgis Gereja, tetapi mencakup semua tindakan “Ekaristis” yakni: pemberian diri dalam pelayanan sosial di masyarakat. Dalam pelayanan sosial, setiap orang beriman membangun relasi antara sesama yang berpankal pada relasi Allah Tritunggal. Dalam pelayanan sosial setiap orang beriman mengamalkan cinta kasih Kristus lewat iman yang bersumber dari Ekaristi (SC 10).

Dari partisipasi ideal menuju pelayanan sosial

Partisipasi ideal ini menghantar manusia kepada persatuan abadi dengan Allah Tritunggal. Karena melalui partisipasi yang ideal manusia menjumpai dirinya sebagai umat Allah yang sejati. Maka, semangat Ekaristis yang diperoleh dalam Ekaristi Kudus mendapat tempat yang sempurna sebagai bentuk aplikasinya dalam pelayanan sosial pada masa Pandemi ini. Pandemi Covid-19 yang berdampak pada hampir seluruh aspek kehidupan merupakan masalah sosial yang harus diselesaikan secara bersama-sama. Semangat Ekaristis mendorong segenap orang beriman untuk saling bahu – membahu, tolong – menolong, dan memperhatikan kaum lemah dan tertindas yang lebih membutuhkan bantuan. Sebagai murid-murid Tuhan Yesus, yang adalah penyembuh jiwa dan badan, kita dipanggil untuk meneruskan “karya-Nya karya penyembuhan dan penyelamatan” (KGK 1421) secara fisik, sosial dan spiritual.

Ajaran Sosial Gereja Di Masa Pandemi yang ditulis oleh Paus Fransiskus merupakan salah satu usaha Gereja dalam mengembangkan semangat Ekaristis setiap umat beriman. Melalui tulisannya itu, Paus Fransiskus ingin mengajak umat beriman untuk menaruh perhatiannya pada usaha bersama yang berlandaskan cinta kasih Kristus untuk memulihkan dunia, bertaut pada iman akan keluhuran martabat manusia, membangun empati dan keberpihakan kepada kaum miskin dan yang terlantar, yang bertaut dalam keutamaan kasih, mengedepankan solidaritas dan kesejahteraan umum, subsidiaritas dan keutamaan harapan yang bersumber dari Yesus Kristus. Semuanya merupakan partisipasi yang dijiwai oleh semangat Ekaristis segenap umat beriman.

Maka, melalui semangat Ekaristsi manusia bekerja sama untuk dapat tetap berjuang dalam situasi Pandemi yang belum usai ini, semangat itu mendorong manusia untuk memupuk harapan bagi kehidupan yang penuh kasih dan kesejahteraan bersama. Manusia membangun relasi antara sesama dengan saling mendorong satu sama lain demi mencapai tujuan bersama, berlandaskan relasi Tritunggal; Bapa, Putera dan Roh Kudus.

 

Pos terkait