Dua Kabupaten Tolak Pengalihan P3D Bidang Pendidikan

- Jurnalis

Jumat, 10 Juni 2016 - 19:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

komisi v dprd ntt

Kupang, Savanaparadise.com,- Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Kupang menolak perberlakuaan Undang-undang Nomor 23 tahun tahun 2014 pada pasal 404 yang mengatur pengalihan Personil, Pendanaan, sarana dan prasarana, serta dokumen. Perberlakuan UU ini sebagai akibat dari pembagian urusan antara pemerintah Pusat, Daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota di bidang pendidikan.

“ ada dua kabupaten yang menolak pengalihan kewenangan dari kabupaten ke provinsi yakni Sumba Tengah dan kabupaten Kupang. Padahal pengalihan kewenangan ini merupakan perintah undang-undang yang mesti dilaksanakan,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Sinun Petrus Manuk dalam rapat kerja bersama komisi V DPRD NTT, Jumad, 10/06 d kupang.

Baca Juga :  Gubernur Dan Wagub Positif Covid-19, Ditanya Soal Roda Pemerintah, Ini Jawaban Sekda NTT

Dijelaskannya hal ini terjadi karena dua kabupaten tersebut kurang paham tentang undang-undang nomor 23. Disisi lain katanya adanya keengganan kabupten dan kota untuk membantu dinas PPO NTT untuk melakukan rencana aksi sesuai dengan amanat undang-undang.

“ kendala lainnya adalah belum adanya peraturan Pemerintah sebagai penjabaran dari Undang-undang nomor 23 tahun 2014. Ini sangat menghambat rencana aksi kami untuk melakukan pengalihan dan penyerahan Personil, Pendanan, sarana dan prasarana, serta dokumen,” jelasnya.

Baca Juga :  Massa Pro Omnibus Law di Kupang Teriaki Mahasiswa Yang Berdemo

Menurutnya permasalahan lainnya adalah belum adanya petunjuk atau perintah dari
Bupati/Walikota kepada SKPD teknis terkait inventarisasi P3D ke Provinsi.

“ data P3D yang telah terhimpun saat ini belum dilakukan validasi dan verifikasi dari pihak pihak yang berkompeten. Sehingga akurasu data asset belum final,” paparnya.

Data tentang dokumen sangat kurang karena hampir sebahagian besar sekolah tidak memiliki dokumen atau bukti kepemilikan aset. (SP)

Berita Terkait

Berjuang Tanpa Gedung Gereja, Umat Paulus Rasul Lamanepa Akhirnya Punya Kapela Berkat Simon Petrus Kamlasi
SMA Negeri 1 Kupang Rayakan HUT ke-75 dengan Ragam Kegiatan Besar
Andreas Hugo Parera Jelaskan Alur Penetapan Ketua DPD dan DPC PDI Perjuangan
Yusinta Nenobahan dan Kuasa Hukum Penuhi Undangan Sinode GMIT Untuk Jernihkan Persoalan Dengan Pendeta Nelson
Kuasa Hukum Yusinta Nenobahan Kecam Pihak Penyebar Data Pribadi Klien
Kasat Korwil Banser NTT Desak Polri Tangkap Pelaku Penganiayaan Banser di Tenggarang 
Difitnah di Kompasiana, Yusinta Bantah Semua Tuduhan Palsu dan Siapkan Langkah Hukum
Tak Hanya Nelayan PPI Oeba, Nelayan Tenau Juga Ikut Geruduk Kantor Gubernur NTT
Berita ini 3 kali dibaca