Opini: Garam dan Terang Dunia

- Penulis

Jumat, 16 Desember 2022 - 08:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Arsenius Alesandro Pamong Fakultas Ilmu Pendidikan, Prodi Bimbingan Konseling

Menurut Dr. Vernito Sitanggang (2020) dalam buku Penuh Roh Kudus, garam merupakan senyawa ionik yang mampu memberikan cita rasa lezat pada makanan yang tawar.

Makna dari kata “garam dan terang dunia” merupakan sebuah perumpamaan yang diajarkan oleh Tuhan agar kita manusia menjadi garam yang baik, garam yang mampu memberikan rasa bagi sesama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain diartikan sebagai pemberi rasa, garam juga dapat diartikan sebagai pengawet yang apabila disingkronkan dalam realitas kehidupan manusia dalam masyarakat agar ia (manusia) harus mampu menjadi jembatan pengubung di tengah konflik sosial yang terjadi di masyarakat, bukan malah menjadi pemantik yang dalam sekejab mampu menciptakan barah api yang sewaktu-waktu dapat berkobar dan melahirkan api permusuhan antar sesama.

Sebagai pengawet juga, garam yang dimaknai dalam setiap pribadi manusia harus pula sungguh-sungguh membangun hubungan yang harmonis antar sesama tanpa membedakan status sosial sehingga kodrat manusia sebagai mahkluk sosial tetap terjaga dan semakin awet.

Atas dasar itu, nilai-nilai sosial dan religius yang menjadi pedoman bagi pribadi manusia agar dalam keseharian dirinya menjadi “garam dan terang dunia”. Dengan kata lain, setiap individu tidak seperti garam hanya sekedar jadi bumbu masakan ataupun bahan pengawet, tapi lebih dari itu ia harus memberikan pengaruh positif bagi sesamanya.

Baca Juga :  Melawan Tirani Teks: "Regulasi Bukan Kitab Suci, Mitigasi Bukan Berhala"

Dalam perjanjian Allah, garam melambangkan kesetian dan kejujuran. Tentunya kesetian dan kejujuran (loyalitas dan integritas) ini merupakan prinsip utama bagi setiap individu, kapan dan dimanapun ia berada. Karena itu, jangan biarkan garam itu menjadi tawar, sebab kalau hal itu terjadi maka sangat sulit untuk diasinkan kembali.

Antara “garam dunia dan terang dunia” ibaratnya seperti sepasang sayap pada seekor burung merpati, sama-sama saling membutuhkan dan saling melengkapi. Garam dibutuhkan dalam setiap masakan, sebaliknya pun dengan terang. Dalam suasana gelap sangat dibutuh terang dan terang itu pasti bercahaya.

Kita dapat mengartikan “terang dunia” sebagai manusia yang harus memberi hal  yang baik bagi lingkungan sekitarnya. Ibaratnya seperti pelita, ia akan berguna dan bernilai apabila digunakan ditempat yang gelap. Sebaliknya pun pelita tak akan bernilai apabila digunakan ditempat yang terang. Dengan adanya terang kita pasti merasa aman dan lebih percaya diri untuk melangkah.

Menurut Pdt. Benyamin Intan “terang berarti, kita tidak sama dengan dunia yang menuju kegelapan”,. Ungkapan Pdt. Benyamin Intan menegaskan kepada manusia sebagai umat bahwa dalam penjiarahan hidup di dunia ini sangat membutuhkan terang untuk menuntun manusia agar tidak tersesat.

Bagi Mahasiswa di Fakultas Ilmu Pendidikan perumpamaan tentang “terang dan garam dunia” mau mengajarkan kepada kita tentang bagaimana  mampu memberikan sifat kasih kepada sesama dan menanamkan sifat kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

Baca Juga :  Antara Regulasi, Tata Ruang, dan Mitigasi yang Tak Boleh Diabaikan

Mahasiswa di Fakultas Ilmu Pendidikan diharapkan pula untuk menjadi terang dimanapun mereka berada dan selalu memberi hal yang baik bagi sesama.
Belajar bukan hanya soal ilmu materi, nilai dan moral merupakan hal yang sangat perlu ditananmkan pada era yang semakin modern ini.

Nilai merupakan sikap manusia dalam menilai segala sesuatu yang ada disekitarnya. Nilai juga dianggap penting bagi masyarakat, karena dianggap hal baik dan buruk dalam lingkungan masyarakat, sehingga membantu kita untuk bertindak serta mengambil keputusan. Sedangkan moral merupakan ajaran yang baik dan buruk tentang suatu kelakuan manusia.

Pada dasarnya, moral membicarakan tentang tingkah laku atau akhlak manusia yang baik dan buruk. Dimana dalam menanamkan moral pada setiap pikiran maupun tingkah laku seseorang, menjadikan dirinya menjadi lebih bijaksana dalam melakukan tindakan.

Perumpamaan tentang “garam dan terang dunia” dapat menjadikan pedoman untuk seseorang bertumbuh dan berkembang untuk semua kalangan baik mahasiswa maupun untuk dosen, agar dampak dari proses belajar dan mengajar akan selalu berguna dan bermanfaat bagi siapapun dan dimanapun mereka berada, sebagai  bekal untuk menata serta menggapai tujuan, untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan membanggakan.

Berita Terkait

Analisis Kritis Kelemahan Logika Antara Retorika Sensasional dan Rasionalitas Kebijakan dalam Kasus Penertiban Ndao
Logika Dinding Tembok dan Dialog Formalistik : Mengapa Nalar dan Nurani Bukan Sekedar Kosmetik Kebijakan
Melampaui Dikotomi Aturan dan Kemanusiaan – Dialog Kebijakan yang Berbasis Nalar dan Nurani
Melawan Tirani Teks: “Regulasi Bukan Kitab Suci, Mitigasi Bukan Berhala”
Antara Regulasi, Tata Ruang, dan Mitigasi yang Tak Boleh Diabaikan
Mitos “Kebaikan Bersama” di Atas Karang Ndao: Sebuah Sanggahan Etiologis
Membangun Kembali Ende sebagai Kota Pelajar dan Kebudayaan 
Opini: Nasionalisme Kehilangan Makna dan Ruh?
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 1 April 2026 - 10:53 WIB

Analisis Kritis Kelemahan Logika Antara Retorika Sensasional dan Rasionalitas Kebijakan dalam Kasus Penertiban Ndao

Rabu, 1 April 2026 - 10:22 WIB

Logika Dinding Tembok dan Dialog Formalistik : Mengapa Nalar dan Nurani Bukan Sekedar Kosmetik Kebijakan

Selasa, 31 Maret 2026 - 06:46 WIB

Melampaui Dikotomi Aturan dan Kemanusiaan – Dialog Kebijakan yang Berbasis Nalar dan Nurani

Senin, 30 Maret 2026 - 20:32 WIB

Melawan Tirani Teks: “Regulasi Bukan Kitab Suci, Mitigasi Bukan Berhala”

Senin, 30 Maret 2026 - 16:29 WIB

Antara Regulasi, Tata Ruang, dan Mitigasi yang Tak Boleh Diabaikan

Berita Terbaru