Site icon savanaparadise.com

Limbah Tahu Tempe Picu Aroma Tidak Sedap, Anggota DPRD Ende Minta Izin Usaha Dicabut

Anggota DPRD Kabupaten Ende, Anselmus Kaise (Foto: Mateus Bheri/SP)

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<p>Ende&comma; Savanaparadise&period;com&comma;- Menyoal adanya dugaan limbah cair berasal dari pabrik Tempe Tahu Krakatau yang dibuang ke Kali Wolowona memantik reaksi dari berbagai pihak&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kasus ini muncul ketika masyarakat disekitar bantaran Kali Wolowona mencium aroma tidak sedap yang berasal dari Kali beberapa hari terakhir&period; Masyarakat menduga aroma tidak sedap tersebut berasal dari limbah pabrik yang dibuang ke Kali&period;l Wolowona&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Merespons keluhan masyarakat soal limbah pabrik Tahu-Tempe yang diduga memicu aroma tidak sedap bagi masyarakat sekitar Kali Wolowona&comma; Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah &lpar;DPRD&rpar; Kabupaten Ende&comma; Anselmus Kaise meminta Pemerintah Kabupaten &lpar;Pemkab&rpar; Ende&comma; khususnya Dinas Lingkungan Hidup &lpar;DLH&rpar; segera tindak tegas pelaku usaha Pabrik Tahu Tempe&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>Menurut Ansel Kaise tindakan tegas yang mesti dilakukan Pemkab Ende adalah menutup dan mencabut ijin operasional pabrik Tahu Tempe di Lokoboko karena diduga membuang limbah cair Tahu Tempe ke Kali Wolowona tanpa memperimbangkan dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Kali Wolowona ini kan merupakan sumber mata air baku bagi puluhan ribu warga Kota Ende&period; Sumber penghidupan bagi warga sekitar untuk mengairi tanaman sayur-sayuran yang dikonsumsi masyarakat kota&period; Di Kali Wolowona juga terdapat habitat ekosistem air yang harus dilindungi&&num;8221&semi;&comma; jelas Ansel Kaise saat dikonfirmasi media&comma; Rabu&comma; &lpar;28&sol;10&sol;26&rpar;&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ansel Kaise mengungkap persoalan limbah cair dari pabrik Tahu Tempe di Lokoboko bukan pertama kali terjadi&period; Menurutnya&comma; keluhan warga terkait bau menyengat dan adanya dugaan limbah tersebut cemari Air Kali Wolowona menjadi persoalan menahun yang terus berulang sejak lima tahun lalu&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dengan muncul kembali persoalan yang sama&comma; kata dia&comma; ini menunjukkan sikap ketidakpedulian dari pihak pengelola usaha yang dinilai abai terhadap dampak sosial dan lingkungan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Ini pertanda bahwa perusahaan tidak peka dengan lingkungan sosial warga sekitar&comma; tidak taat aturan&comma; dan tidak menghargai pemerintah&comma; baik tingkat Kelurahan&comma; Kecamatan&comma; Dinas Teknis&comma; maupun kami di DPRD&period; Kejadian ini sudah berulang sejak lima tahun lalu dan seharusnya menjadi pembelajaran&comma; tetapi terus diabaikan&comma;&&num;8221&semi; ujar politisi partai PSI ini&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ia menyarankan agar DLH sebagai leading sector tidak perlu lagi menempuh jalur mediasi yang bertele-tele&comma; mengingat persoalan yang sama sudah berulang kali terjadi&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dirinya akan segera berkoordinasi dengan Kasat Pol PP untuk turun ke lapangan guna menegakkan Peraturan Daerah &lpar;Perda&rpar; dan memproses pencabutan izin usaha pabrik tersebut&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Namun&comma; seandainya dalam proses pencabutan izin belum dapat dilakukan dengan alasan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi UMKM dan memikirkan nasib tenaga kerja lokal di pabrik tersebut&comma; kata Ansel Kaise&comma; sebagai jalan keluar&comma; pabrik tersebut wajib dipindahkan ke lokasi baru yang memenuhi syarat operasional&comma; termasuk membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah &lpar;IPAL&rpar; yang layak sesuai standar lingkungan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Saya juga menduga jangan sampai ada upaya pembiaran&period; Saya ingatkan DLH ini&period; Karena lokasinya sangat dekat dengan kita tetapi kenapa ini bisa terjadi lagi dan selalu berulang tahun&&num;8221&semi;&comma; tegasnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sementara&comma; sebelum berita ini di turunkan media SP mencoba mendatangi lokasi pabrik Tempe Tahu namun saat tiba di pabrik media tidak sempat bertemu dengan pemilik Pabrik Tempe Tahu karena yang bersangkutan tidak berada di Pabrik&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Akan tetapi media SP mendapat informasi dari para pekerja bahwa pemilik pabrik sedang di keluar&period; Wartawan mencoba menghubungi pemilik pabrik lewat pesan di WhatsApp tetapi melalui pesan singkatnya pemilik pabrik memgatakan bahwa beliau masih di keluar Kota karena ada urusan kerjaan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Diberitakan sebelumnya bahwa Keresahan terkait adanya dugaan pembuangan limba cair usaha tahu tempe kembali dirasakan oleh Masyarakat RT 13 Nuafua&comma; RT 12 Boafeo&comma; dan RT 11 Watuwisa&comma; Kelurahan Rewarangga Selatan&comma; Kecamatan Ende Timur&comma; Kabupaten Ende baru-baru ini&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Masyarakat kerap mencium aroma tak sedap berasal dari kali Wolowona Ende yang diduga dipicu oleh adanya pembuangan limbah cair usaha Tahu Tempe yang terletak tidak jauh dari kali Wolowona&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Persoalan ini bukan baru pertama terjadi&comma; melainkan masalah menahun yang terus berulang dan mengancam kesehatan serta kenyamanan bagi masyarakat sekitar&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Setelah mendapat informasi dan berdasarkan pengamatan langsung media di lapangan pada Selasa&comma; &lpar;27&sol;10&sol;26&rpar; siang sekitar pukul 13&period;30 Wita ditemukan ada aliran air di pinggir kali yang diduga sengaja dibuat sebagai tempat aliran limbah cair&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Aliran limbah cair bentuknya seperti selokan kecil yang mana langsung menghubung ke air kali Wolowona yang sementara mengalir deras&period; Disinyalir limbah cair hasil sisa pengolahan Tahu-Tempe diduga sengaja dibuang ke Kali Wolowona mengikuti aliran air&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Terpantau juga dilokasi&comma; air yang diduga berasal dari limba cair Industri Tahu-Tempe tersebut tampak keruh&comma; berwarna putih&comma; dan berbusa&period; Sesekali tercium aroma tidak sedap disekitar lokasi&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Salah seorang warga&comma; RT&period;13&comma; Nuafua&comma; Agus Ariyanto saat ditemui media di kediamannya pada Selasa&comma; &lpar;27&sol;10&sol;26&rpar; menuturkan bau menyengat semacam itu bukan kali pertama terjadi&period; Ia mengaku sebelumnya warga sekitar pernah mengalami hal yang sama yang diduga berasal dari limbah pengolahan Tahu-Tempe&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Jadi limbah dari hasil pengolahan Tahu-Tempe itu diduga dibuang ke kali&period; Dampaknya pasti pengguna air dan dampaknya lainnya ke udara yang menyebab bau tidak sedap&period; Itu permasalahan sudah lama sekali&period; Dahulu kita pernah ajukan protes ke pemilik usaha dan di selesaikan&&num;8221&semi;&comma; ungkap Ariyanto&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ia menambahkan&comma; setelah permasalahan pada waktu itu berhasil di selesaikan namun seiring berjalan waktu hal yang sama muncul kembali&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Waktu itu&comma; urai Ariyanto&comma; warga sempat mengadukan hal tersebut ke Dinas Lingkungan Hidup &lpar;DLH&rpar; dan Bupati Djafar sebagai Bupati Ende pada waktu itu&period; Kemudian&comma; tambah dia&comma; Bupati Djafar memerintahkan DLH segera menyelesaikan permasalahan tersebut&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Menurut&comma; pada saat mediasi berjalan antara warga dan pemilik usaha Tahu-Tempe warga meminta agar dinas teknis &lpar;DLH&rpar; agar rutin turun ke lokasi untuk melakukan pengawasan serta monitoring terhadap seluruh aktivitas produksi industri Tahu-Tempe&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Yang kami sayangkan&comma; terkait proses pengolahan tanpa melalui pengawasan yang ketat&period; Dan kalau saya tidak salah ingat pada waktu itu ada sebuah kesepakatan bahwa setiap 6 bulan sekali harus ada pemeriksaan dari Dinas terkait&&num;8221&semi;&comma; kata Ariyanto<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8216&semi;Jadi selama ini kami menerima apa adanya&period; Sebab dari hasil pengamatan kita bahwa pembuangan langsung ke kali&period; Dan baunya pada jam-jam tertentu ketika dibuang&period; kami mohon kepada pihak kelurahan&comma; dan DLH untuk melakukan pemeriksaan rutin&period; Supaya keberadaan usaha tersebut tidak betdampak buruk bagi masyarakat&period;&&num;8221&semi;&comma; tambahnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Terpisah&comma; Gabriel Dala Ema&comma; SE mengatakan bau kurang sedap yang sang menyengat tercium hampir setiap hari terutama pada malam hari sekitar pukul 20&period;00 hingga 23&period;00 WITA&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ia mengatakan bau menyengat ini diduga kuat berasal dari limbah operasional dari pabrik tahu yang berada di sebelah sungai tersebut dibuang langsung ke aliran Kali Wolowona&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Menurutnya&comma; aktivitas pembuangan limbah ini dinilai telah mengganggu kenyamanan dan mengancam kesehatan masyarakat sekitarnya karena terkonfirmasi bahwa ada warga yang sudah mengalami gejala gatal-gatal pada kulit&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Kondisi ini memicu kekhawatiran besar mengingat sebagian besar masyarakat di pesisir sungai masih aktif memanfaatkan Kali Wolowona sebagai sarana pemandian umum sehari-hari&period; Apalagi dilaporkan ada warga yang sudah mengalami gejala gatal-gatal pada kulit&&num;8221&semi;&comma; kata pria yang akrba disapa Gebi Ema ini&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Gebi Ema meminta pemilik usaha tidak boleh menutup mata dan perlu mencari jalan keluar tidak sekedar mencati keuntungam semata melainkan tetap memperhatikan lingkungan hidup serta kenyamanan sosial masyarakat&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ia juga mengharapkan respon cepat dari pemerintah dalam hal ini Dinas terkait untuk segera turun ke lapangan melakukan investigasi dan mengambil langkah konkret sebelum dampak lingkungan dan kesehatan warga menjadi jauh lebih besar&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Kita memdorong kepada pemilik usaha Tahu tersebut akan tidak menutup mata terhadap keberadaan masyarakat sekitar&period; Jangan tunggu ada riak-riak yang lebih besar baru kita cepat merespons&&num;8221&semi;&comma; ujar Gebi Ema&period;&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version