Site icon savanaparadise.com

Seruan Moral Seorang Anak Pedagang Kecil di Ndao Ende Saat Demo: Jangan Rampas Hak Kami

Dini Aulia, seorang Pelajar di Ende sekaligus Anak dari Pedagang Kecil yang menempati Sempadan Pantai Ndao Ende (Foto: Mateus Bheri/SP)

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<p>Ende&comma; Savanaparadise&period;com&comma;- Dini Aulia&comma; seorang pelajar sekaligus anak dari salah satu pedagang di Sempadan Ndao Ende bersama teman-temannya ikut dalam aksi demonstrasi di halaman kantor Bupati Ende&comma; Rabu&comma; &lpar;8&sol;4&sol;26&rpar;&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Pada saat aksi demonstrasi&comma; Dini bersama teman-temannya mengenakan pakaian seragam sekolah menyampaikan seruan moralnya kepada Bupati mengenai kebijakan penggusuran lapak dagang milik orang tuanya dan teman-temannya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dini dengan gagah berani mengatakan jangan rampas masa depan kami&period; Menurut Dini&comma; Dirinya dan teman-temannya berdiri dan ikut dalam aksi&period; demonstrasi tersebut bukan hanya untuk membela lapak dagang orang tua mereka&comma; tetapi mereka berdiri untuk membela hak mereka sebagai anak-anak untuk sekolah&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>Karena itu&comma; dengan suara lantang Dini bertanya&comma; bapak&sol;ibu pemerintah tahukah bapak apa dampak dari penggusuran bagi mereka sebagai anak-anak&quest;<&sol;p>&NewLine;<p>Ia pun mengatakan&comma; dampaknya adalah orang tua mereka akan kehilangan tempat mencari nafkah dan seketika pendapatan orang tua mereka juga ikut hilang&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Lalu bagaimana mungkin kami bisa membeli seragam&comma; bagaimana mungkin kami bisa membayar uang sekolah&comma; membeli buku&comma; bahkan jajan untuk bekal&period; Akibatnya apa&quest;&period; Kami terparkir di rumah&comma; kami tidak bisa sekolah&&num;8221&semi; ucap Dini<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Melihat orang tua stres&comma; pusing memikirkan makan besok&comma; membuat hati makin hancur&comma; kami bahkan malu bertanya untuk sekolah&period; Kami takut menambah beban mereka&period; Akhirnya&comma; kami memilih diam&period; Memilih berhenti sekolah&comma; padahal cita- cita kami masih tinggi&&num;8221&semi;&comma; tambah Dini&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Bapak Bupati&comma; bapak bilang aturan harus ditegakkan untuk Sempadan Pantai&period; Kami mengerti itu&period; Tapi kenapa aturan tidak adil&quest; Kenapa yang digusur hanya kami rakyat kecil&quest; Kenapa yang digusur hanya kami rakyat kecil&quest; Kenapa&quest; Kenapa&quest;&&num;8221&semi;&comma; tanya Dini dengan suara lantang secara berulang-ulang&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sementara rumah-rumah besar&comma; bangunan lainnya juga yang ada di Sempadan Pantai dibiarkan berdiri tegak&comma; kenapa&quest;&comma; ungkapnya<br &sol;>&NewLine;Menurut dia&comma; ini bukan soal bangunan kayu atau tembok&comma; ini juga keadilan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dikatakan&comma; jika bapak tegas pada para pedagang di Sempadan Pantai Ndao&comma; maka tegas pula pada yang lain&period; Jangan hanya yang kecil ditindas&comma; yang besar dibiarkan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Jika bapak paksa kami pindah tanpa solusi yang jelas&comma; sama saja bapak sedang mematikan cita-cita kami&period; Kami ingin jadi Guru&comma; jadi Dokter&comma; jadi Polisi&comma; bahkan jadi seperti bapak&period; Tapi bagaimana caranya&comma; jika sumber hidup orang tua kami di rampas seenaknya&period; Kami menuntut&&num;8221&semi;&comma; tegas Dini&period;<&sol;p>&NewLine;<p>1&period; Berhenti menggusur secara sepihak&comma; jangan jadikan kami korban karena tidak bisa sekolah&period;<&sol;p>&NewLine;<p>2&period; Terapkan aturan secara merata&period; Jika kami harus keluar&comma; maka semua yang melanggar juga harus keluar&period; Jangan pilih kasih<&sol;p>&NewLine;<p>3&period; Berikan solusi yang manusiawi<&sol;p>&NewLine;<p>Dini juga menegaskan&comma; berikan tempat usaha yang layak agar orang tua mereka bisa bekerja lagi agar mereka bisa bersekolah dan mengejar mimpi&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Masa depan bangsa ini ada di tangan Anak-anak&period; Jangan rusak masa depan kami hanya karena penataan yang tidak adil&period; Kami mau sekolah&period; Kami mau sekolah&period; Kami mau cita-cita kami tercapai&period; Jangan rampas hak kami&&num;8221&semi;&comma; pungkasnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p><strong>7 Poin Pernyataan Sikap Massa Aksi<&sol;strong><&sol;p>&NewLine;<p>Koordinator Aksi dari Persidium Gerakan Kemasyarakatan &lpar;GERMAS&rpar; PMKRI Ende&comma; Longginus Kota Setu saat diwawancara media mengungkapkan alasan&comma; mengapa PMKRI menolak penggusuran terhadap lapak para pedagang Kecil di Sempadan Pantai Ndao&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Menurut Longginus&comma; penggusuran terhadap Lapak Pedagang Kecil di Ndao tersebut tidak urgensi sebab&comma; masih ada pembangunan lain yang mesti harus di bangun seperti infrastruktur jalan yang ada di pelosok desa&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ia menilai tata kota itu soal estetika&comma; mata yang dilihat&period; Akan tetapi lebih dari itu&comma; tambah dia&comma; masih ada hal yang jauh lebih penting yakni menyangkut kehidupan masyarakat di pelosok desa yang kesulitan soal infrastruktur jalan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dan Menurut Longginus semestinya ini harus menjadi perhatian serius pemerintah&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Dalam konteks penertiban kita juga perlu melakukan pendekatan secara kemanusian ke masyarakat&period; Cuman itu&comma; masyarakat jarang bertemu Bupati&&num;8221&semi;&comma; ungkap Longginus&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Karena itu&comma; tambah dia&comma; PMKRI menilai Bupati takut bertemu dengan warga yang ingin menyampaikan aspirasi terkait persoalan tersebut&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Kalau kita berbicara soal demokrasi&comma; dari rakyat untuk rakyat hari ini kehilangan makna&&num;8221&semi;&comma; kata Longginus&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dalam aksi demoatrasi&comma; perwakilan massa aksi dari PMKRI Cabang Ende membaca 7 poin pernyataan terkait rencana pemerintah kabupaten Ende atas penertiban lapak dagang di kawasan Sempadan Pantai Ndao&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Tujuh poin pernyataan sikap dari massa aksi dibacakan oleh koordinator aksi&comma; Longginus Kota Setu&comma; Presidium GERMAS PMKRI Ende&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Disamping Plt&period; Sekda Ende&comma; Gabriel Dala&comma; kata Longginus&comma; kami yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia &lpar;PMKRI&rpar; Cabang Ende St&period; Yohanes Don Bosco menyatakan sikap tegas terhadap rencana penggusuran di wilayah Sempadan Pantai Ndao&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Bahwa kami menilai kebijakan ini bukan hanya sekedar penataan melainkan bentuk ketidakpekaan dari pemerintah terhadap penderitaan rakyat kecil yang hidupnya membutuhkan pada ruang usaha tersebut&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Pembangunan yang mengorbankan rakyat adalah bentuk kegagalan moral pemerintah&period; Di balik rencana penggusuran ini ada air mata dan ketakutan dan ada masa depan yang terancam&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kami berdiri di sini membawa suara mereka&comma; yang tidak didengar memperjuangkan hak hidup yang seharusnya melindungi bukan dihancurkan<&sol;p>&NewLine;<p>1&period; Kami dengan tegas menolak segala bentuk penggusuran sepihak yang mengorbankan rakyat kecil&period; Penggusuran tanpa jaminan layak adalah bentuk penindasan dan pelanggaran hak dasar warga negara<&sol;p>&NewLine;<p>2&period; Mendesak Bupati Ende segera membuka dialog terbuka&comma; transparan bersama yang benar-benar mendengarkan&comma; menghasilkan keputusan sepihak pada rakyat<&sol;p>&NewLine;<p>3&period; Menuntut penghentian rencana penggusuran sampai ada kajian sosial&comma; ekonomi&comma; dan kemanusian yang jelas&comma; terbuka dan dapat bertanggungjawab kepada publik<&sol;p>&NewLine;<p>4&period; Menolak kebijakan pembangunan yang hanya mengutamakan estetika dan proyek semata sementara rakyat kecil dijadikan korban&period; Pembangunan harus sepihak pada kesejahteraan masyarakat bukan kepentingan segelintir pihak<&sol;p>&NewLine;<p>5&period; Menuntut jaminan perlindungan hak hidup dan ruang usaha bagi pedagang kecil termasuk solusi nyata demi kemqnusian<&sol;p>&NewLine;<p>6&period; Mengutuk segala bentuk kebijakan otoriter yang dibuat tanpa partisipasi masyarakat&period; Pemerintah daerah tidak boleh bertindak sewenang-wenang di atas penderitaan rakyat&period;<&sol;p>&NewLine;<p>7&period; Jika tuntutan ini diabaikan kami siap melakukan aksi besar-besaran di lapangan&comma; bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan pembelaan terhadap hak rakyat kecil&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dari pantuan media di lapangan&comma; massa aksi yang terdiri dari&comma; PMKRI Cabang Ende&comma; Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah &lpar;IMM&rpar; Cabang Ende&comma; dan Warga Ndao melakukan aksi demonstrasi di kantor Bupati Ende&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sebelum ke kantor Bupati&comma; puluhan massa aksi sempat berdemo di kantor DPRD Ende&period; Mereka di sambut pimpinan dan anggota DPRD Ende&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dari DPRD pendemo menuju kantor Bupati Ende&period; Di kantor Bupati&comma; puluhan massa aksi sempat bentrok dengan personil Sat Pol PP Ende&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Bentrok tersebut di sebabkan karena personil Sat Pol PP hendak memadamkan api yang ditimbulkan oleh aksi bakar ban oleh pendemo di halaman kantor Bupati&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Aksi Bakar ban yang dilakukan para pendemo ini sebagai bentuk ungkapan kekecewaan terhadap Bupati dan Wakil Bupati Ende lantaran selalu tidak berada di tempat dan jarang menemui massa aksi&period; Massa aksi tak ingin semangat api perjuangan mereka di padamkan oleh personil Sat Pol PP&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Karena menunggu terlalu lama&comma; massa aksi kemudian masuk ke dalam kantor Bupati untuk mengecek kebenaran informasi bahwa Bupati dan Wakil Bupati tidak berada di kantor&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dari situ&comma; massa aksi menuju rumah jabatan Bupati untuk mengecek sekaligus hendak menyegel rumah jabatan dengan membawa papan dan paku serta pemukul&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Namun aksi tersebut tidak dilakukan karena pintu pagar Rujab di tutup serta ada personil Sat Pol PP yang berada di dalam dan di luar pagar berusaha menghalangi&period;&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version