Site icon savanaparadise.com

Safari Politik Jokowi ke NTT Dikritik Akademisi: Rakyat Butuh Solusi, Bukan Manuver Politik

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<p>Kupang&comma; Savanaparadise&period;com&comma;- Kedatangan Presiden ke-7 RI Joko Widodo &lpar;Jokowi&rpar; ke Nusa Tenggara Timur &lpar;NTT&rpar; menuai kritikan dari kalangan akademisi&period; Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Safari politik Jokowi dinilai memunculkan pertanyaan tentang prioritas seorang mantan kepala negara menggunakan pengaruhnya untuk membantu pemerintahan menghadapi persoalan bangsa atau mengonsolidasikan kekuatan politik&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sejumlah akademisi di NTT menilai hak politik Jokowi sebagai warga negara tetap harus dihormati&period; Namun&comma; sebagai mantan presiden yang memimpin Indonesia selama dua periode&comma; publik juga menaruh ekspektasi lebih besar agar pengaruh dan pengalamannya diarahkan untuk memperkuat stabilitas nasional&comma; menjaga kesinambungan pembangunan&comma; dan membantu pemerintah menghadapi tantangan ekonomi&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>Akademisi dan Pengamat Politik Universitas Katolik Widya Mandira Kupang&comma; Eusebius Separera Niron&comma; mengatakan kunjungan Jokowi ke NTT semestinya menjadi momentum mengevaluasi warisan Proyek Strategis Nasional &lpar;PSN&rpar; yang dibangun selama pemerintahannya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Menurutnya&comma; ukuran keberhasilan pembangunan bukan terletak pada banyaknya bendungan&comma; jalan&comma; maupun proyek infrastruktur yang diresmikan&comma; melainkan pada dampaknya terhadap produktivitas pertanian&comma; penguatan ekonomi lokal&comma; penurunan kemiskinan&comma; dan peningkatan kesejahteraan masyarakat&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ia mengingatkan agar berbagai PSN yang telah menyerap anggaran negara dalam jumlah besar tidak berhenti sebagai monumen pembangunan&period; Pemerintahan saat ini perlu memastikan adanya kesinambungan kebijakan sehingga bendungan&comma; jalan&comma; dan kawasan pangan benar-benar terintegrasi dengan program-program baru seperti Makan Bergizi Gratis &lpar;MBG&rpar; maupun Koperasi Desa Merah Putih &lpar;KDMP&rpar;&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Eusebius juga menyinggung falsafah Jawa &&num;8220&semi;Lengser Keprabon&comma; Madeg Pandhita&&num;8221&semi;&comma; yakni seorang pemimpin yang telah selesai menjalankan kekuasaan semestinya bertransformasi menjadi negarawan yang menghadirkan keteladanan moral&comma; bukan tetap larut dalam politik praktis&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Menurutnya&comma; sejarah tidak akan menilai seorang pemimpin dari banyaknya proyek yang dibangun&comma; melainkan dari sejauh mana pembangunan tersebut mampu mengubah struktur ekonomi&comma; mengurangi kemiskinan&comma; memperluas keadilan sosial&comma; serta bagaimana ia menempatkan diri setelah tidak lagi memegang kekuasaan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Pandangan serupa disampaikan Akademisi dan Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Kupang&comma; Amir S&period; Kiwang&period; Menurutnya&comma; secara sosiologis safari politik seorang mantan presiden memang merupakan hak yang dijamin dalam sistem demokrasi&period; Namun&comma; di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat&comma; aktivitas politik elite tidak pernah lepas dari penilaian publik&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Amir mengatakan&comma; sebagian masyarakat dapat memaknai safari politik sebagai tanda bahwa elite lebih sibuk mengonsolidasikan kekuatan politik dibanding menunjukkan perhatian terhadap persoalan ekonomi yang dihadapi rakyat&period; Di sisi lain&comma; kelompok masyarakat lain mungkin menganggapnya sebagai aktivitas politik yang wajar selama tidak mengganggu jalannya pemerintahan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Yang menentukan bukan hanya tindakan itu sendiri&comma; tetapi bagaimana tindakan tersebut dimaknai oleh masyarakat&comma;&&num;8221&semi; ujarnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ia menambahkan&comma; seorang mantan presiden tidak hanya membawa hak politik sebagai warga negara&comma; tetapi juga memikul tanggung jawab moral yang lebih besar karena masih menjadi simbol negara&period; Dalam pandangannya&comma; batas antara hak berpolitik dan peran sebagai negarawan tidak hanya ditentukan oleh hukum&comma; melainkan juga oleh kepantasan di mata publik&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Semakin aktif seorang mantan presiden berada dalam politik partisan&comma; kata Amir&comma; semakin besar pula kemungkinan masyarakat memandangnya sebagai representasi kepentingan partai&comma; bukan lagi simbol pemersatu bangsa&period; Karena itu&comma; legacy seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh capaian ketika berkuasa&comma; tetapi juga oleh sikap dan pilihan politiknya setelah meninggalkan jabatan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sementara itu&comma; Akademisi dan Pengamat Politik Universitas Nusa Cendana Kupang&comma; Yonatan H&period; Lopo&comma; menilai posisi Jokowi saat ini harus dipisahkan dalam dua kapasitas&comma; yakni sebagai mantan presiden atau negarawan dan sebagai tokoh politik yang berasosiasi kuat dengan Partai Solidaritas Indonesia &lpar;PSI&rpar;&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Menurut Yonatan&comma; jika melihat konteks dan agenda kunjungannya&comma; kehadiran Jokowi di NTT lebih tepat dibaca sebagai bagian dari konsolidasi politik PSI daripada menjalankan peran sebagai negarawan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8221&semi; Bagi PSI tentu kehadiran Jokowi penting karena mereka belum memiliki figur lain yang lebih kuat untuk dijual kepada publik&comma;&&num;8221&semi; katanya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Namun&comma; Yonatan mengingatkan bahwa pengalaman Pemilu 2024 menunjukkan popularitas Jokowi tidak otomatis mampu mengangkat suara PSI hingga lolos ke parlemen&period; Karena itu&comma; efektivitas safari politik tersebut terhadap kekuatan elektoral partai masih harus dibuktikan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Di sisi lain&comma; ia menilai masyarakat NTT kemungkinan hanya akan melihat kunjungan itu sebagai nostalgia terhadap pembangunan infrastruktur pada era pemerintahan Jokowi&period; Sementara terhadap persoalan ekonomi yang sedang dihadapi masyarakat saat ini&comma; dampaknya dinilai belum akan terasa&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Yonatan menegaskan sebagai mantan presiden yang masih memiliki pengaruh politik besar&comma; Jokowi sesungguhnya mempunyai kapasitas untuk membantu pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menghadapi berbagai tantangan nasional&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8221&semi; Apakah Jokowi punya kemampuan membantu pemerintah&quest; Sangat bisa&period; Dia punya pengalaman&comma; pengaruh politik&comma; dan instrumen yang kuat&period; Persoalannya adalah apakah pengaruh itu digunakan untuk membantu pemerintah atau lebih diarahkan pada konsolidasi politik&period; Itu yang akan dinilai publik&comma;&&num;8221&semi; ujarnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ia juga menilai perjalanan politik Jokowi berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya&period; Jika banyak tokoh lebih dahulu membangun partai politik sebelum mencapai kursi presiden&comma; Jokowi justru menempuh jalur sebaliknya&period; Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai presiden&comma; ia mulai membangun basis politik melalui PSI&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8221&semi; Karena itu&comma; sulit memisahkan safari politik Jokowi kali ini dari agenda penguatan PSI menuju Pemilu 2029&comma;&&num;8221&semi; tegasnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dari berbagai pandangan tersebut&comma; muncul satu benang merah bahwa yang dipersoalkan para akademisi bukanlah hak politik Jokowi sebagai mantan presiden&period; Yang menjadi perhatian adalah bagaimana pengaruh politik yang masih dimilikinya digunakan di tengah kondisi ekonomi yang masih sulit&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Di saat masyarakat berharap hadirnya gagasan&comma; solusi&comma; dan dukungan terhadap pemerintahan untuk mengatasi persoalan ekonomi&comma; safari politik yang lebih kuat dikaitkan dengan konsolidasi partai berpotensi memunculkan persepsi bahwa agenda politik lebih menonjol dibanding kepentingan publik&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ia mengatakan semakin besar pengaruh yang dimiliki seorang mantan kepala negara&comma; semakin besar pula ekspektasi publik agar pengaruh tersebut digunakan untuk memperkuat kepentingan bangsa&comma; menjaga kesinambungan pembangunan&comma; serta menjadi teladan sebagai negarawan setelah meninggalkan kekuasaan&period; &lpar;SP&rpar;&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version