Site icon savanaparadise.com

Gubernur Minta Presiden Perhatikan Seminari

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<p>Ruteng&comma; Savanaparadise&period;com&comma;- Gubernur NTT&comma; Drs&period; Frans Lebu Raya meminta kepada Presiden RI&comma; DR&period; H&period; Susilo Bambang Yudhoyono untuk memperhatikan keberadaan gereja Katolik di Provinsi NTT khususnya keberadaan seminari yang menjadi tempat persemaian calon imam yang akan menjadi misionaris&semi; baik di dalam negeri maupun di luar negeri&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Permintaan tersebut diungkapkan Gubernur Lebu Raya&comma; dalam sambutannya pada acara perayaan 100 tahun Gereja Katolik di Keuskupan Ruteng&comma; di lapangan Motang Rua Kabupaten Manggarai&comma; Jumat &lpar;19&sol;10&rpar;&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Menurut Gubernur&comma; Gereja lokal di NTT sebagai bagian dari warga bangsa telah ikut aktif membangun bangsa selama ini&period; Dalam keterbatasannya&comma; ujar Gubernur&comma; gereja telah mendirikan sekolah termasuk seminari-seminari yang saat ini telah menghasilkan seminaris awam dan pastor&period; ”Para pastor ini telah diutus sebagai misionaris ke berbagai negara&comma; dengan membawa nama Indonesia&semi; membawa diri sebagai cermin budaya dan kepribadian Indonesia&semi; membawa diri sebagai tanda keanekaragaman dan wujud kerukunan hidup beragama di Indonesia&period; Para pastor mewartakan Indonesia ke berbagai negara dengan ilmu&comma; iman dan kepribadian Indonesia yang ada dalam dirinya&period; Kami mengajak Bapak Presiden berkenan memberikan perhatian kepada seminari-seminari di NTT&comma;” pinta Gubernur&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>Wahana Demokrasi<br &sol;>&NewLine;Pada bagian lain&comma; Gubernur menegaskan&comma; Lonto Leok merupakan sebuah wahana demokrasi dalam tradisi hidup sosial masyarakat Manggarai&period; Dalam Lonto Leok&comma; kata Gubernur&comma; berbagai persoalan masyarakat dibicarakan secara terbuka&comma; disepakati jalan keluarnya dan ditindaklanjuti bersama&period; ”Lonto Leok menjadikan orang Manggarai tak ubahnya keluarga besar&comma; hidup rukun&comma; susah senang ditanggung bersama&comma;” ungkap Gubernur&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Gubernur menceritakan&comma; pada tahun 2007 lalu&comma; Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi Kabupaten Manggarai untuk memberikan perhatian dan peneguhan kepada para korban bencana alam&period; ”Kami percaya&comma; dari atas helikopter Bapak Presiden menyaksikan keindahan sawah yang menghampar hijau&comma; bertingkat-tingkat di sebagian besar lereng Gunung Poco Ranaka&comma; dengan petak-petak sawah yang menyerupai jaring laba-laba&comma;” kata Gubernur&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Menurut Gubernur&comma; jaring laba-laba dalam pembagian petak-petak sawah namanya Lodok&semi; sebagai bentuk kearigan lokal dalam pemanfaatan lahan pertanian di Manggarai&period; Di dalam Lodok&comma; kata Gubernur&comma; terdapat pengakuan hak kepemilikan lahan&comma; eksistensi kekuasaan antara Kraeng&comma; Gelarang dan Lengge&semi; tanda persaudaraan antara Cak Kilo&comma; Kiola&comma; Panga dan Wau&semi; antara Wae Tua&comma; Wae Koe&comma; Anak Rona&comma; Ema&comma; Ende&comma; Kae dan Ase&period; ”Di dalam Lodok&comma; terdapat semangat bekerja keras&comma; gotong royong dan Lonto Leok&comma;” ucap Gubernur&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Di dasari kearifan Lonto Leok&comma; lanjut Gubernur&comma; masuknya agama-agama mendapat tempat di hati warga lokal&comma; termasuk Gereja Katolik Manggarai yang saat ini merayakan yubileum 100 tahun&period; ”Di daerah ini&comma; agama dan adat istiadat berinkulturasi dan bersinergi dengan baik&period; Dalam keseharian&comma; semua warga berbaur tanpa memandang perbedaan agama&comma; hidup rukun saling menerima satu sama lain apa adanya&comma;” papar Gubernur&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Di tempat yang sama&comma; Uskup Ruteng&comma; Mgr&period; Hubertus Leteng&comma; Pr mengatakan&comma; hingga kini di wilayahnya terdapat 52 tarekat yang go international&period; ”Ada 811 misionaris yang terdiri atas 442 misionaris di luar negeri di 46 negara&period; Khususnya misionaris Serikat Sabda Allah &lpar;SVD&rpar; yang berasal dari Manggarai berjumlah 157 orang&period; 64 misionaris dalam negeri dan 93 misionaris di luar negeri yang berada di 34 negara&comma;” jelas Mgr&period; Hubertus&period;&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version