Site icon savanaparadise.com

Cerita Sukses UMKM BRI, Wanita di Surabaya Bangun Komunitas Usaha “Kampung Kue” Ber-omzet Puluhan Juta

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;<p>Surabaya&comma; Savanaparadise&period;com&comma; – Kesuksesan tidak pernah mengenal latar belakang&period; Setiap orang berhak untuk meraih kesuksesan sepanjang mau bekerja keras dan berusaha&period; Hal itu juga diyakini Choirul Mahpuduah &lpar;53 tahun&rpar;&comma; yang sukses membangun komunitas usaha &OpenCurlyDoubleQuote;Kampung Kue” di Surabaya&comma; Jawa Timur&period; Kerja keras dan keinginan untuk berubah telah membawanya menjadi pebisnis sukses&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sebelumnya&comma; Mahpuduah pernah bekerja sebagai buruh pabrik&period; Namun&comma; usai kena PHK dia memilih untuk mendirikan komunitas usaha perempuan di kampungnya&period; Di dalam komunitas ini terdapat beberapa unit usaha termasuk usaha kue milik Mahpuduah&period; Dia menyebut &OpenCurlyDoubleQuote;Kampung Kue” merupakan paguyuban yang anggotanya terdiri dari 63 orang pengusaha kue&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Kampung kue saya gagas mulai tahun 2005&comma; saya melihat tahun 2005 itu banyak ibu-ibu di kampung saya kalo pagi-pagi sudah menganggur atau merumpi tidak melakukan kegiatan yang produktif&period; Kalau siang sebagian dari mereka dikejar-kejar rentenir&comma;” katanya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dari situ dia berpikir&comma; untuk membuat komunitas &OpenCurlyDoubleQuote;Kampung Kue” di Rungkut Lor Gang 2 RT 04 RW 05 Kelurahan Kalirungkut Kecamatan Rungkut Kota Surabaya&comma; agar ibu-ibu di sana menjadi produktif&period; Sebelum mendirikan komunitas&comma; perempuan berusia 53 tahun ini terlebih dahulu melakukan pengamatan kecil-kecilan&period; Warga setempat pada tahun 1970-an dikenal sebagai produsen pakaian dalam laki-laki dan perempuan&period; Kemudian&comma; ibu-ibu di Rungkut Lor Gang 2 sebagian ada yang memproduksi kue&period; Tapi saat itu tidak terlalu berdampak besar apalagi dampaknya terhadap masyarakat lingkungan sekitar&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Akhirnya Mahpuduah&comma; mencoba mengembangkan potensi yang pertama yaitu mengembalikan kejayaan Rungkut Lor Gang 2 dengan membuka usaha sulam pita&period; Tapi&comma; usaha itu tidak berpengaruh besar terhadap perekonomian ibu-ibu&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Menurutnya&comma; dengan membangun komunitas usaha bisa mengangkat martabat perempuan menjadi pribadi yang lebih produktif&comma; khususnya bagi ibu-ibu di Rungkut Lor Gang 2 yang sebelumnya menganggur&period; Disamping itu&comma; ada sebagian ibu-ibu yang menolak didirikannya komunitas&comma; namun dia menganggap hal tersebut merupakan hal yang lumrah&period; Berbekal tekad yang kuat&comma; akhirnya pada tahun 2005 resmi berdiri komunitas &OpenCurlyDoubleQuote;Kampung Kue” yang didalamnya terdiri dari 63 pengusaha kue&comma; baik kue basah dan kering&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Dari situ saya mengajak ibu-ibu pelatihan bikin kue sebisa saya&period; Kemudian lama-kelamaan kita punya jaringan dengan LSM-LSM perempuan&comma; serikat buruh dan dinas-dinas dengan perusahaan perusahaan swasta&comma; BUMN&comma; universitas dan para mahasiswa yang akhirnya membuat nama kampung kue semakin dikenal&comma;” ujarnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Saat awal mendirikan komunitas Kampung Kue&comma; dihadapkan dengan kesulitan pembiayaan&period; Saat itu&comma; semua pendanaan masih keluar dari kantong pribadi Mahpuduah&period; Kemudian&comma; dia sadar bahwa diperlukan urunan dana dari anggota&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Terkumpulah dana sebanyak Rp 150 ribu yang berasal dari 3 orang anggota komunitas Kampung Kue&period; Dana tersebut digunakan untuk simpan pinjam anggota jika memerlukan dana untuk membuat kue&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Seiring berjalannya waktu&comma; anggota komunitas terus bertambah&comma; dari 10 orang menjadi 15 orang&comma; seterusnya hingga kini ada 63 orang&period; Setiap anggota diarahkan untuk memiliki simpanan pokok Rp 50 ribu dan simpanan sukarela disesuaikan dengan kemampuan anggota&comma; sementara simpanan wajibnya Rp 10 ribu per bulan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Saat pertama kali berdiri komunitasnya kesulitan dalam pendanaan&period; Tapi setelah semua perusahaan swasta&comma; BUMN&comma; pemerintah&comma; akademisi mengenal kampung kue&comma; akses permodalan pun menjadi lebih mudah termasuk dengan BRI&comma;” ujarnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Untuk omset sendiri&comma; sebelum pandemi perputaran uang per hari dalam komunitas Kampung Kue mampu mencapai Rp 20 juta per hari&period; Namun&comma; ketika pandemi hanya 10 persennya&period; Sekitar bulan Juli tahun 2021 ekonomi semakin membaik&comma; akhirnya di tahun 2022 ini Kampung Kue bisa bangkit kembali&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Mahpuduah menjelaskan&comma; memang penghasilan setiap anggota berbeda-beda karena pengelolaannya diserahkan ke masing-masing individu&period; Tapi dengan banyaknya jumlah anggota&comma; dan karakter bisnisnya ibu-ibu itu berbeda-beda&comma; ada yang mempekerjakan karyawan bahkan ada juga yang masih memanfaatkan anggota keluarganya masing-masing untuk membantu membuat kue&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Produk kue yang dihasilkan komunitasnya dibagi menjadi dua jenis yaitu kue basah dan kue kering&period; Untuk Kue basah ada dadar mawar&comma; pisang coklat&comma; dadar gulung&comma; lumpur&comma; pandan fla&comma; puding&comma; onde-onde&comma; muffin&comma; apem&comma; terang bulan&comma; pastel&comma; risoles&comma; pie susu&comma; pie apel&comma; pie susu keju&comma; donat dan masih banyak lainnya&period; Sementara&comma; produk kue kering terdiri dari Almond Crispy&comma; kacang&comma; dan Cheese stick&period; Untuk harga&comma; Kampung Kue mematok di kisaran Rp 1&period;500 – Rp 4&period;500 untuk kue basah&period; Sementara kue kering mulai dari Rp 15&period;000 hingga Rp 70&period;000&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Ada Kue-kue basah tetapi ada juga kue-kue kering yang dihasilkan di kampung kue&comma; dan bisa menjadi oleh-oleh khas Surabaya misalnya almond crispy yang saya produksi itu sudah bisa dijual bisa menembus pasar Singapura melalui Bank Indonesia&comma;” katanya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sebab kue kering itu sifatnya tahan lama dibanding kue basah&comma; sehingga penjualannya bisa sampai ke luar negeri&comma; dan penjualannya hampir ke seluruh wilayah Indonesia&period; Seperti ke Jakarta&comma; Kalimantan&comma; Bogor&comma; Batam&comma; Mataram&comma; dan Bali&period; Tak hanya penjualan offline&comma; komunitas Kampung Kue juga menjual berbagai produknya secara online&comma; baik melalui media sosial seperti facebook&comma; Instagram&comma; dan WhatsApp&period; Anggota komunitas juga sudah mengikuti kelas-kelas digital marketing&period;<&sol;p>&NewLine;<p><strong>Bantuan CSR BRI<&sol;strong><&sol;p>&NewLine;<p>Mahpuduah mengatakan&comma; hampir semua anggota komunitas Kampung Kue adalah nasabah BRI&period; Akhirnya begitu mantri BRI datang dan mereka tertarik dengan kegiatan Kampung Kue&comma; hingga memutuskan menyalurkan bantuan berupa sarana dan prasarana pada tahun 2021&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Seperti tenda&comma; celemek&comma; meja&comma; baju&comma; topi&comma; dan pameran-pameran kita diajak BRI untuk mempromosikan produk Kampung Kue&period; Kami tidak dapat bantuan uang&comma; tapi sarana dan prasarana dalam bentuk barang yang bisa kita manfaatkan&comma;” ungkapnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kata dia&comma; pada 8 Februari 2022 kemarin Kampung Kue telah diresmikan oleh Wali Kota Surabaya sebagai Kampung Wisata Kuliner&comma; dan edukasi&period; Apa yang diberikan BRI sangat bermanfaat&comma; karena meja dan tendanya bisa dipakai untuk berjualan&period; Sementara&comma; untuk bantuan bentuk uang lebih ke KUR&period; Para anggota komunitas Kampung Kue menjadi lebih mudah mendapatkan pinjaman dari BRI&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Selama kita bekerjasama dengan banyak pihak kita lebih mengutamakan kerjasama bantuan sarana dan prasarana&comma; pelatihan-pelatihan&comma; digital marketing&comma; hingga food photography&period; BRI juga mengajak kita untuk ikut Bazaar Ramadhan di Maspion Square&period; Menurut saya BRI telah memudahkan ibu-ibu membuka usaha&comma;” pungkasnya&period;&lpar;SP&rpar;&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version