Site icon savanaparadise.com

Walaupun Ditunda, Event Kelimutu Tetap Diselenggarakan Dengan Menerapkan Pariwisata Berbasis CHSE

Ende, Savanaparadise.com,- Wabah Covid-19 telah melumpuhkan berbagai sektor kehidupan masyarakat. Selain sektor ekonomi yang terkena dampak pandemi Covid-19, sektor pariwisata juga ikut terdampak pula. Akibatnya, disektor pariwisata itu sendiri sempat lesu akhir-akhir ini.

Untuk menggeliatkan kembali sektor pariwisata yang sempat lesu akibat pandemi Covid-19, Pemerintah Kabupaten Ende berencana menggelar kembali festival sepekan di danau kelimutu.

“Festival Kelimutu merupakan event nasional yang sudah menjadi agenda tahunan dari Kementrian Pariwisata dan Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia”, kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ende, Martinus Satban kepada Savanaparadise.com ketika ditemui di ruang kerja, Kamis (5/8/21).

Sebagai event nasional dan menjadi agenda tahunan, Martinus menyebutkan di tahun ini ada 3 agenda tahunan nasional yang sudah tercatat dan akan tetap dilaksanakan pada bulan Agustus yaitu, antraksi pertama taga kamba, (potong kerbau), pati ka du’a bapu ata mata (kasih makan leluhur), dan festival budaya.

Akan tetapi, jelas Martinus berdasarkan instruksi Mentri Dalam Negeri No. 29 Tahun 2021, dan di perjelas dengan Surat Edaran (SE) Bupati bahwa mengenai PPKM Kabupaten Ende masuk di level 3. Sehingga, berdasarkan proposal yang sudah kita ajukan ke Kementrian dan Provinsi, rencana festival akan digelar pada tanggal 11 Sampai 14 Agustus 2021.

Untuk itu, dengan mempertimbangkan kondisi, instruksi Mentri dan penegasan Bupati, tegas Martinus akhirnya kegiatan ini kita matangkan dulu.

Pertama sesuai kesepakatan rapat dengan Bapak Bupati kemarin, taga kamba dan pati ka tetap dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Artinya, paling tidak mempertegas pembatasan orang, pembatasan ruang dan pembatasan waktu”, tuturnya.

Yang kedua, untuk Festival budaya karena melibatkan banyak orang, kecendrungannya akan terjadi pengerumunan massa, maka dari itu kita memutuskan Festival kelimutu kita tunda, bukan di batalkan. Dan itupun disepakati oleh Kementrian, paling tidak ada rekomemdasi penundaan.

“Kita rencanakan setelah angka Covid-19 menurun dratis dan selepas instruksi Mendagri mengenai PPKM ini, mudah-mudahan kita selenggarakan di minggu ke empat bulan ini, dari tanggal 24 sampai 26 Agustus 2021”, jelasnya

Martinus menegaskan jadi ini bukan dibatalkan melainkan di tunda karena pertimbangan, pertama kita tetap menggeliatkan kembali pariwisata dan menghidupkan dengan semangat atau spirit bahwa ekonomi tidak boleh macet dengan menerapkan sistem “Gas atau Rem”.

“Sebab kita belum mengetahui secara pasti bahwa pandemi ini akan berkahir kapan?”, ucapnya.

“Mudah-mudahan hari ini kita dapatkan rekomendasi dari gugus tugas. Karena untuk menghidupkan pariwisata kita harus semangat menghadapi pandemi sambil kita mensosialisasikan berpariwisata dengan standar prokes dan CHSE”, smbungnya.

Yang kedua, jelas dia pariwisata yang sedang kita gelorakan ini berbasis Sustainable Tourism (Pariwisata berkelanjutan) yang menuju kepada pola-pola baru dan standar baru yaitu pariwisata yang berstandar CHSE.

Pariwisata Berstandar CHSE

Menurut Martinus Satban Standar sebuah pariwisata yang berbasis CHSE yakni meliputi : Cleanliness (kebersihan), Health (kesehatan), Safety (keamanan), dan Environment (ramah lingkungan).

“Model atau desain kita adalah pertama ingin memperkuat ekonomi kreatif dengan melibatkan masyarakat secara penuh terutama bagi ekonomi kreatif. Yang kedua kita bagi lokasi demi menghindari kerumunan”, jelasnya.

Ia menambahkan di Moni karena kita konsepkan CBT (Community Based Tourism) tetap mengutamakan masyarakat menjadi aktor utamanya.

Karena konsepnya adalah Community Based Tourism (Pariwisata berbasis masyarakat) papar dia, ada tiga lokasi yang kita bagi untuk di Moni sendiri, hal ini demi menghindari kerumunan sehingga kita batasi.

“Prokesnya jalan, kunjungan offline juga tetap jalan”, pungkasnya.

Dengan adanya pola bagi lokasi, terang dia maka mau tidak mau kita juga harus menerapkan pola digitalisasi, virtual dan live streaming.

“Jadi konsepnya diwaktu bersamaan, teman-teman digital itu akan di beckup oleh Kominfo untuk di lakukan live streaming pada saat kegiatan berlangsung dan paska event kita akan tonton kembali”, ujarnya.

Memang ada beberapa dikotomi yang berkembang di kampung, ada yang berpikir jangan sampai event ini tidak jadi. Ada juga yang mempertanyakan soal waktu ini telah di ulur-ulur, apalagi ada yang mempertanyakan soal pelibatan masyarakat.

Atas dasar itu, Martinus menegaskan pariwisata kita berbasis komunitas, jadi mau tidak mau event itu tetap dilakukan di tengah komunitas masyarakat dengan mengikuti tren seperti yang pernah dilakukan pada tahun kemarin.

Yang kedua, spirit dan semangat pariwisata kita sedang anjlok gara-gara pandemi. Jadi spirit ini kita bangun kembali dan hadir diantara mereka karena mereka adalah pelaku utama .

Mengenai soal pelibatan masyarakat, ujarnya ini salah satu dalam upaya mempromosikan, membina, dan memperdayakan masyarakat, baik secara personal maupun secara kelembagaan dan ekonomi kreatif masyarakat sebagai pelaku industri ekonomi pariwisata perlu di libatkan untuk bergeliat dengan mengikuti standar baru CHSE seperti pola hidup bersih, pola hidup sehat, terus kenyamanan pengunjung dan pengelola.

Oleh karenanya, beber dia kita juga agendakan di H-7 di lokasi tersebut akan dilakukan vaksinasi masal.

“Kita akan bekerjasama dan melibatkan P3MK untuk sama-sama membangkitkan kembali pariwisata kita ditengah pandemi yang agak sedikit lesu dan memperdayakan ekonomi masyarakat disekitarnya”, ucapnya.

“Kita berharap karena eventnya juga bersifat virtual agar adanya kerjasama dari berbagai pihak termasuk teman-teman media untuk membantu kita dalam mempromosikan pariwisata di wilayah ini secara bersama-sama”, tutupnya.

Penulis: Chen Rasi

Exit mobile version