Site icon savanaparadise.com

Sonaf Tamkesi, Desa Adat Yang Belum Terkontaminasi Budaya Asing

Oleh : Juven Nitano

juven nitano/wartawan radio madika

Di tengah derasnya arus moderinisasi, rumah-rumah tradisional mulai ditinggalkan karena dianggap kuno. Padahal, arsitektur yang tumbuh di masyarakat secara turun temurun itu telah teruji selama berabad-abad mampu mengharmonisasikan dirinya dengan lingkungannya. Sayangnya, belum semua kekayaan itu dapat dipelajari dan diaplikasikan dalam dunia arsitektur kekinian karena belum tergali dan terdokumentasi secara optimal. Ironisnya, dokumentasi malah lebih sering dilakukan oleh peneliti asing. Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi Arsitek Indonesia sebab sebenarnya kita masih belum tahu banyak tentang kekayaan arsitektur nusantara yang sebenarnya.

Pulau Timor memiliki sejuta pesona yang belum dijelajahi, dan bahkan oleh sebagian besar penduduk Indonesia sendiri. Pulau Timor masih memiliki banyak kampung tradisional yang menyimpan nilai-nilai sejarah dan budaya yang kental. Salah satu kampung tersebut adalah Sonaf Tamkesi. Banyak rumor beredar mengenai Sonaf ini, seperti banyaknya pantangan, adat yang sangat ketat, serta pencapaian yang tidak mudah. Sonaf Tamkesi terletak di Kecamatan Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timor. Perjalanan ke Sonaf Tamkesi bisa menggunakan kendaraan umum dari Kupang menuju ke Kefamenanu , dilanjutkan motor atau mobil ke arah Sonaf Tamkesi.

Dalam istilah setempat, bahasa Dawan, Tamkesi berarti sudah terikat kuat pada porosnya dan kokoh tidak tergoyahkan (namanun, nate aben, karna kekonten,karna helonten). Penamaan Tamkesi tidak terlepas dari sejarah panjang kehidupan nomaden yang mewarnai kultur rakyat Biboki dahulu untuk menemukan pusat bumi dengan bantuan Besi Tnais. Besi Tnais adalah benda keramat kerajaan Biboki berbentuk timbangan. Lokasi Tamkesi dipercaya menjadi pusat bumi sehingga dijadikan pusat kerajaan Biboki yang dipimpin oleh seorang raja yang disebut Usif Kokoh/Kaiser. Selain itu, lokasi Tamkesi dianggap sempurna karena lengkap dengan unsur alam seperti batu, air, kayu, tanah karena dianggap memiliki kesakralan.

Warga Tamkesi yang merupakan Klan Usboko dari Suku Dawan atau dalam istilah setempat disebut Atoin Meto. Etnis Atoin Meto ini tinggal menyebar di Timor bagian Barat. Etnis ini mencakup kerajaan Biboki, Insana, Oenam (Miomaffo dan Mollo), Amanuban, Amanatun, Amarasi, Amfoang dan Ambenu. Atoin Meto secara harafiah berasal dari kata Atoni yang berarti manusia atau seorang laki laki dan meto yang bermakna kering, tandus, kritis, berdebu. Sebutan ini relevan karena jika kita melihat keadaan alam di pulau Timor didominasi oleh hamparan sabana dan stepa.
Warga setempat umumnya menggunakan bahasa Dawan Kromo yang memiliki tingkatan seni sastra lebih tinggi dibandingkan bahasa Dawan rakyat biasa.

Umumnya warga mengenakan kain tenun khas motif biboki dan pria memakai tutup kepala khas bangsawan yang disebut pilu atau destar.
Kehidupan masyarakatnya bersifat sosial kolektif yang mengutamakan kekeluargaan yang diatur dalam hukum adat setempat. Secara umum, suku-suku ini digolongkan menjadi 2 suku besar yakni: Ama Naek Paisanaunu dan Ama Naek Belsikone. Masing-masing amaf menjadi semacam dewan perwakilan suku-suku kecil untuk menghimpun aspirasi rakyat dan mempermudah koordinasi misalnya pembangunan sonaf dan penyerahan upeti.

Upeti ini dimaksudkan sebagai ucapan syukur rakyat kepada kaisar yang mampu memberi kesejahteraan pada rakyat berkat restu ainu uis neno (Tuhan dalam tradisi lokal) dan leluhur. Penyerahan Upeti tahunan biasanya diadakan setiap bulan November dalam upacara tama maus. Tama maus adalah acara adat yang amat menarik wisatawan lokal dan mancanegara karena berbagai atraksi budaya seperti seperti tari likurai, tari bonet, tari gong digelar disana.

Lokasi Kompleks Sonaf Tamkesi berada di bukit yang dirimbuni hutan adat. Kumpulan vegetasi berupa hutan ini menciptakan ruang kampung Tamkesi yang terlingkup secara definitif melalui jajaran batang dan tajuk pohon sehingga tersembunyi dari serangan musuh dimasa lampau. Hal ini juga ditunjang dengan keberadaan benteng dari susunan batu dan tanaman kese penyebab gatal yang sengaja ditanam disekeliling kampung.

Vegetasi di hutan ini selain sebagai tempat tinggal berbagai flora dan fauna endemik juga bermanfaat untuk menahan hembusan angin dan mencegah longsor. Selain itu, kehadiran hutan ini menciptakan iklim mikro yang nyaman dengan udara relatif sejuk di sekitar Tamkesi dan sekaligus memunculkan beberapa titik mata air. Karena peran hutan adat sangat penting untuk kelangsungan hidup warga Tamkesi Hutan adat di sekitar Tamkesi tidak boleh ditebang sejak dulu. Bila ada pelanggaran terhadap hutan ini, ada sanksi adat berupa 1 ekor babi dan uang Rp500.000. Hal ini menjadi kearifan lokal warga Tamkesi dalam upaya menjaga alam tetap lestari.

Teknik konstruksi yang sangat luar biasa bisa ditemukan pada bangunan di kompleks sonaf Tamkesi yang dihubungkan tanpa paku. Masing-masing material bangunan dihubungkan dengan sistem pasak dan taji serta ikatan dengan tali hutan atau ijuk.

Karena keunikan tradisi, budaya dan arsitekturnya, otoritas setempat menetapkan status kampung cagar budaya sejak 2005. Dulu penduduk Tamkesi berjumlah 81KK tetapi pasca terbentuk desa adat Tamkesi, warga yang tinggal hanya 6 KK. Hal ini disebabkan sebagian besar warga direlokasi di permukiman rumah sosial dan sebagian besar merupakan penjaga sonaf. Tujuan relokasi ini untuk memberi kesempatan warga mengembangkan diri mengikuti perkembangan zaman sekaligus melestarikan adat yang dimilikinya.

Arsitektur Tamkesi merupakan sebuah warisan budaya yang amat berharga yang patut dilestarikan. Hendaknya penetapan kompleks sonaf Tamkesi sebagai cagar budaya tidak mematikan hakekat arsitektur vernakular yang selalu berkembang dinamis mengikuti perkembangan manusia yang diwadahinya. Perkembangan di dalam arsitektur vernakular tetap memungkinkan dilakukan sejauh tidak melepas nilai-nilai yang terkandung di dalamnya selama ini. Dengan begitu, arsitektur vernakular khususnya Tamkesi tidak sekedar menjadi sebuah museum yang bisu, tetapi tetap menjadi bagian yang terus dihidupi oleh masyarakat.

Exit mobile version