Site icon savanaparadise.com

Sejarah Moko di Alor, NTT

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<p>Salah satu keunikan yang dapat Anda jumpai Pulau Alor adalah ditemukannya banyak moko&comma; padahal benda ini adalah salah satu peninggalan budaya pra-sejarah Dongson di Vietnam Utara&period; Selain dikenal sebagai Negeri Nusa Kenari&comma; Pulau Alor juga memiliki julukan Negeri Seribu Moko&comma; itu tidaklah mengherankan karena memang moko telah berperan penting bagi masyarakat Alor sejak zaman dahulu&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Masyarakat Alor menyebut moko sebagai sebutan untuk nekara perunggu&period; Umumnya bentuk moko di Alor tergolong nekara tipe pejeng dengan bentuk dasarnya lonjong seperti gendang berbagai ukuran&period; Moko berbentuk seperti drum dengan diameter 40 &&num;8211&semi; 60 sentimeter dan tingginya 80 &&num;8211&semi; 100 sentimeter&comma; memiliki 4 telingga yang berfungsi sebagai peganggan&period; Pola hiasnya beragam tergantung zaman pembuatannya&comma; bila diperhatikan seksama bentuknya mirip dengan benda-benda perunggu di Pulau Jawa pada masa Kerajaan Majapahit&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Hampir dipastikan tidak ada masyarakat adat di Nusantara yang mengoleksi moko dalam jumlah banyak seperti suku-suku di Pulau Alor&period; Banyak suku tradisional di Pulau Alor percaya bahwa Moko berasal dari tanah dan hanya dimiliki para bangsawan karena nilainya sangat tinggi&period; Moko dahulu ternyata sempat berfungsi sebagai alat tukar ekonomi masyarakat pulau ini&comma; bahkan sempat menyebabkan inflasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan penguasa pun membuat sistem baru dengan membatasi peredaran Moko di Pulau Alor&period; Di beberapa suku tradisional di Pulau Alor&comma; moko juga digunakan sebagai gendang untuk mengiringi tarian adat&period; Biasanya alat musik gong dan moko dimainkan untuk mengiringi tari-tarian tradisional seperti tarian lego-lego&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>Moko memiliki peranan penting bagi masyarakat Alor&comma; yaitu kepemilikan terhadap jumlah dan jenis moko tertentu dapat menunjukkan status sosial seseorang&period; Misalnya saja kepemilikan moko malei tana atau moko itkira menunjukan status sosial yang cukup tinggi dan terpandang&period; Bahkan yang memiliki kedua Moko tersebut memiliki pengaruh dalam setiap kepemimpinan tradisional masyarakat Alor&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Selain sebagai alat musik tradisional&comma; moko juga berfungsi sebagai peralatan belis atau mas kawin&period; Dalam tradisi pernikahan masyarakat Alor&comma; moko digunakan sebagai alat pembayaran belis atau mas kawin seorang laki-laki kepada calon istrinya&comma; itu karena moko dipercaya dapat mengikat pernikahan&period; Hingga kini&comma; adat menjadikan moko sebagai mahar masih terus berlangsung&period; Suku di Alor yang masih menetapkan mas kawin dengan moko adalah suku Darang &lpar;Raja&rpar;&comma; Tawaka&comma; Kalondama&comma; Kawali&comma; dan Balomasali&period; Tinggi rendahnya status sosial dinilai oleh banyaknya moko yang disanggupi saat membayar mas kawin&period; Apabila pihak keluarga pria tidak memiliki Moko maka mereka harus meminjam moko kepada tetua adat&period; Peminjaman ini pun tidaklah gratis karena pihak keluarga pria harus menggantinya dengan sejumlah uang yang cukup besar&period; Sulit memisahkan peran moko dan belis dalam kehidupan masyarakat Alor terutama dalam perkawinan&period; Fungsi moko di Alor hampir mirip dengan gading di Flores Timur&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sampai saat ini masih banyak suku yang menyimpang moko itu untuk kepentingan adat perkawinan&period; Akan tetapi&comma; sangat disayangkan juga banyak yang telah dibawa ke luar Pulau Alor oleh para pemburu barang antik&period; Harga satu buah Moko bervariasi dimana itu bergantung pada besar kecilnya ukuran moko&comma; tahun pembuatannya&comma; serta pola hiasnya&period; Akan tetapi&comma; bagi masyarakat Alor&comma; moko tidak dapat diukur dengan uang karena moko mempunyai kedudukan dan nilai tersendiri dalam budaya&comma; sejarah&comma; dan sistem sosial masyarakat Alor&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Anda dapat mengunjungi Museum 1000 Moko di Jalan Diponegoro&comma; Kalabahi&comma; untuk melihat langsung beragam jenis moko serta kekayaan budaya Alor lainnya&comma; termasuk juga tenunan indah Alor &lpar;kawate&rpar; yang kaya warna dan corak&period; Museum ini berambisi mengoleksi moko dalam jumlah banyak hingga 1&period;000 atau lebih dengan mengumpulkannya dari masyarakat maupun dari luar Alor&period; Di museum ini Anda dapat menemukan satu-satunya moko yang paling besar yang disebut moko nekara yang ditemukan Simon J Oil Balol berdasarkan petunjuk mimpi&period; Anda juga akan melihat 23 moko ukuran kecil setinggi tiga atau empat jengkal orang dewasa&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Pilihan lain untuk melihat beragam jenis moko Alor adalah mengunjungi Desa Bumpa Lola yang dikenal juga sebagai &&num;8220&semi;Desa Seribu Moko&&num;8221&semi;&period; Desa ini dianggap yang paling banyak menyimpan moko tetapi tidak untuk diperjualbelikan&period; Di sini moko diwariskan turun-temurun sebagai mas kawin untuk pasangan yang baru menikah serta sebagai simbol status sosial&period; Mereka wajib menyimpan dan menjaganya&comma; apabila menghilangkannya maka keluarga tersebut akan kehilangan wibawa di masyarakat&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Source &colon; http&colon;&sol;&sol;indonesia&period;travel&sol;id&sol;destination&sol;786&sol;alor&sol;article&sol;180&sol;moko-benda-budaya-penting-di-pulau-alor melalui http&colon;&sol;&sol;www&period;way2east&period;com&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version