Site icon savanaparadise.com

Pemprov NTT Kebut Vaksinasi Anjing Demi Cegah Penyebaran Rabies

Jumpa Pers: Dinas Peternakan NTT, Dinas Penduduk dan Catatan Sipil (Dukcapil) NTT (Foto: Istimewa)

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<p><strong>Kupang&comma; Savanaparadise&period;com<&sol;strong>&comma;- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur &lpar;Pemprov NTT&rpar; terus berupaya keras melakukan pencegahan dan penyebaran penyakit rabies&period; Upaya itu dilakukan Pemprov dengan cara memberikan suntikan &lpar;vaksinasi&rpar; terhadap Hewan Penular Rabies &lpar;HPR&rpar; yakni Anjing demi memutus mata rantai penyebaran rabies&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sebab&comma; hingga saat ini penyakit mematikan tersebut selain terjadi di pulau Flores dan Lembata&comma; HPR ini juga ditemukan di Kabupaten Timor Tengah Selatan &lpar;TTS&rpar;&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Selain upaya vaksinasi Pemprov NTT melalui Dinas Peternakan&comma; Dinas Kesehatan&comma; Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil NTT juga terus berupaya mencegah dan mengatasi penyebaran penyakitan akibat gigitan lewat himbauan agar HPR khususnya anjing di kandangkan&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Rabies itu memang penyakit yang mematikan tetapi seyogyanya bisa dicegah&period; Masyarakat dihimbau untuk tidak perlu panik&period; Langkah pencegahan yang paling murah&comma; efektif dan tidak butuh anggaran adalah dengan ikat dan kandangkan HPR khususnya anjing&period; Yang pelihara anjing agar dipelihara dengan baik&comma; diikat dan dikandangkan sehingga tidak tertular virus rabies dan mudah dilakukan pengawasan dan pengamatan&comma;&&num;8221&semi; kata Kepala Dinas Peternakan NTT&comma; Johanna E&period; Lisapaly saat memberikan keterangan Pers kepada awak media di Kantor Gubernur&comma; Jumat &lpar;23&sol;6&rpar;&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Menurut Johanna&comma; Gubernur NTT&comma; Viktor Bungtilu Laiskodat saat mengunjungi wilayah yang terkena virus rabies di kabupaten TTS pada 1 Juni lalu&comma; telah memberikan dan mengeluarkan instruksi tegas kepada para bupati yang wilayahnya masuk zona merah rabies dan wilayah-wilayah sekitarnya khususnya di Pulau Timor untuk melakukan langkah-langkah protektif yang luar biasa&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Termasuk di dalamnya untuk menutup lalu lintas HPR antar kabupaten&period; Bupati TTS juga telah menanggapi edaran ini dengan mengeluarkan instruksi untuk menutup pergerakan lalu lintas pergerak HPR keluar masuk Kabupaten TTS&comma;&&num;8221&semi; jelas mantan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT tersebut&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Lebih lanjut&comma; Johanna juga menguraikan&comma; Pemerintah Provinsi juga terus menggencarkan upaya vaksinasi terhadap anjing&period; Karena kalau 70 persen populasi anjing di wilayah endemi dan zona merah rabies divaksin&comma; maka akan terbentuk kekebalan kelompok atau herd immunity pada populasi anjing di wilayah tersebut dan memutus mata rantai penyebaran rabies&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Tahun ini kita punya stok vaksin untuk HPR sebanyak 17&period;500 dosis dari alokasi APBN&period; Kita telah mendistribusikan 6&period;000 vaksin ke TTS dan sudah 5&period;303 anjing yang telah divaksin di sana&period; Juga ada bantuan vaksin dari komunitas pemerhati dan pencinta anjing serta Organisasi Non Pemerintah &lpar;NGO&comma;red&rpar;&period; Kementerian Pertanian khususnya Ditjen PKH &lpar;Peternakan dan Kesehatan Hewan&rpar; juga telah memperjuangkan bantuan vaksin dari WOAH &lpar;World Organisation for Animal Health&sol;Organisasi Kesehatan Hewan Dunia&rpar; dan kita akan dapatkan 200 ribu vaksin yang akan dikirim dalam dua tahap&period; Kemarin saya sudah mendapatkan informasi dari Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Kupang bahwa 100 ribu dosis vaksin itu akan segera tiba&comma; mudah-mudahan awal Juli ini&comma;&&num;8221&semi; kata Johanna&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Johanna juga mengungkapkan&comma; untuk meningkatkan upaya pencegahan dan pengendalian rabies telah dibentuk satuan tugas &lpar;satgas&rpar; dan posko di daerah-daerah zona merah dengan melibatkan lintas sektor&period; Kabupaten-kabupaten yang dekat dan berbatasan dengan kabupaten TTS dikategorikan daerah terancam dan terduga&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Harus ada komitmen dan partisipasi kita semua untuk cegah ini&period; Seluruh stakeholder harus ikut lakukan edukasi&period; Karena petugas lapangan kita sangat kurang&comma; kita juga lakukan kerjasama dengan perguruan tinggi&period; Tentu saja para petugas lapangan ini harus divaksin lebih dahulu&period; Kami berharap agar kabupaten&sol;kota di Pulau Timor harus mulai melakukan pendataan terhadap HPR khususnya anjing&period; Eliminasi dalam kondisi KLB memang diperkenankan tapi tetap harus perhatikan Kesrawan atau kesejahteraan hewan&comma;&&num;8221&semi; pungkas Kadis Peternakan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Senada dengan itu&comma; Kepala Dinas Kesehatan&comma; Kependudukan dan Catatan Sipil NTT&comma; Ruth D&period; Laiskodat mengharapkan agar masyarakat yang tercakar atau tergigit hewan-hewan yang masuk kategori HPR khususnya anjing agar segera dilakukan penanganana secara medis&period; Jangan dibiarkan terlalu lama di rumah tanpa penanganan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Saat ini&comma; kita sedang menghadapi situasi penyakit rabies di Flores dan Lembata ditambah TTS&period; Karenanya&comma; kalau terjadi gigitan atau cakaran oleh anjing entah itu terinfeksi virus rabies atau tidak&comma; usaha pertama yang harus dilakukan adalah mencuci dengan air mengalir selama 15 menit dengan deterjen apa saja&period; Karena virus rabies bagian luarnya lemak&comma; dia akan larut bersama deterjen&period; Kalau itu dilakukan 70 persen virus itu sudah tereliminasi atau keluar dari tubuh&period; Sesudah itu harus segera ke sarana pelayanan kesehatan untuk ditangani dan dipantau lebih lanjut oleh tenaga kesehatan serta diberikan baik itu VAR &lpar;Vaksin Anti Rabies&rpar; atau SAR &lpar;Serum Anti Rabies&rpar;&comma;&&num;8221&semi; jelas Ruth&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Lebih lanjut&comma; Ruth mengungkapkan&comma; Dinas Kesehatan&comma; Kependudukan dan Pencatatan Sipil NTT melalui Instalasi Farmasi selalu menyiapkan stok VAR dan SAR&period; Stok VAR yang masih tersisa di Instalasi Farmasi sebanyak 14&period;596 vial dan SAR sebanyak 10 vial&period; Yang sudah didstribusikan sampai dengan keadaan 18 Juni&comma; VAR sebanyak 25&period;200 vial dan 220 vial SAR ke kabupaten yang masuk zona merah dan kabupaten&sol;kota lainnya di sekitar daerah endemi&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Untuk TTS&comma; kita sudah distribusikan 3&period;000 vial VAR dan 54 vial SAR&period; Dari jumlah yang didistribusikan itu&comma; masih ada 1&period;317 VAR dan 36 SAR yang masih belum dimanfaatkan dan tersisa di Kabupaten TTS&period; Seminggu terakhir&comma; kabupaten-kabupaten yang berbatasan dan dekat dengan TTS termasuk Kota Kupang&comma; kita sudah berikan VAR untuk distok di RSU Kota Kupang&period; Supaya stok kita tidak berkurang&comma; kita juga sudah ajukan permohonan ke Kementerian Kesehatan 25 ribu vial VAR dan SAR sebanyak 550 vial&period; Supaya masyarakat teredukasi&comma; kita juga minta banner&comma; liflet&comma; lembar balik dan spanduk&period; Kita tetap mendistribusikan secara proposional VAR dan SAR ke daerah-daerah endemi dan kabupaten-kabupaten sekitarnya&period; Tentu daerah endemi&comma; kuotanya harus lebih banyak&comma;&&num;8221&semi;kata Ruth&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Untuk diketahui terdapat 28 Provinsi di Indonesia sudah masuk kategori endemis Rabies&period; Sementata untuk Provinsi NTT sampai dengan saat ini sudah terkonfimasi 5&period;940 gigitan anjing di mana 4&period;998 sudah diberikan VAR dan selisihnya SAR&period; Khusus untuk Kabupaten TTS&comma; sampai dengan tanggal 22 Juni terkonfirmasi 514 gigitan di mana 460 sudah diberikan VAR dan selisihnya sudah SAR&period; Dari 514 kasus gigitan di TTS&comma; yang belum ada gejala 448 gigitan&comma; gejala yang tidak khas rabies 63 gigitan serta gejala khas rabies 4 gigitan&period; Untuk penanganan kasus di TTS&comma; sampai tanggal 22 Juni&comma; yang rawat jalan 511 orang dan di rawat nginap 1 orang&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sementara itu untuk jumlah kematian karena Rabies rabies di tahun 2023&comma; sampai dengan tanggal 21 Juni sebanyak 10 orang dengan perincian Ende 2 orang&comma; Manggarai 2 orang&comma; Manggarai Timur 2 orang&comma; Sikka 1 orang dan TTS sebanyak 3 orang&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Turut mendampingi pada kegiatan jumpa pers tersebut Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT&comma; Prisilia Parera&period; &lpar;&ast;&ast;&ast;&rpar;&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version