Site icon savanaparadise.com

Opini: Nasionalisme Kehilangan Makna dan Ruh?

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<p style&equals;"text-align&colon; center&semi;"><em><strong>Oleh&colon; Marianus Bertolomeus R&period; Pora<&sol;strong><&sol;em><br &sol;>&NewLine;<em><strong>Alumni GMNI Malang<&sol;strong><&sol;em><&sol;p>&NewLine;<p>Dengan falsafah Pancasila&comma; kita dapat hidup berdampingan sesama anak bangsa dan sederajat dengan bangsa lain di dunia&period; Apabila kita mengingkari jati diri yang sudah disepakati bersama&comma; akibatnya tentu malapetaka bagi generasi mendatang&period; &&num;8220&semi;Konsep apa pun yang ditempuh yang mencoba mengingkari Pancasila dan UUD 1945&&num;8221&semi;&comma; maka akibatnya adalah perpecahan dan hancurnya bangsa Indonesia&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Setiap bangsa mempunyai sejarah pembentukan dan perumusan faham kebangsaannya&period; Ada bangsa yang terbentuk berdasarkan etnis&comma; agama&comma; geopolitik&comma; atau persamaan kepentingan&semi; ada yang berdasarkan kebangsaan atau kosmopolitan&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>Namun bangsa Indonesia&comma; sejak awal memilih bentuk negara kebangsaan&period; Bangsa ini muncul dari amanat penderitaan rakyat terjajah&period; Melalui perjuangan dan pengorbanan jiwa&comma; 360 suku bangsa menjadi satu bangsa dan membentuk NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945&period; Sungguh anugerah Tuhan&comma; Indonesia mampu bertahan dari cobaan yang mengancam eksistensinya sebagai Negara kesatuan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Memang kehidupan bangsa besar penuh dengan dinamika&comma; yang jika dapat dikelola dengan baik&comma; dapat menjadi kuat dan sejahtera&period; Namun bila tidak dikelola secara tepat&comma; bangsa itu dapat pecah atau punah&period; Kita dapat melihat dan mendengar di dunia ini ada nya negara yang dulu kuat namun kemudian pecah dan membawa malapetaka bagi masyarakatnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Di tengah perkembangan globalisasi dan reformasi yang kehilangan arah&comma; banyak ellt politik&comma; usahawan&comma; cendikiawan dan tokoh masyarakat meragukan masa depan bangsanya&period; Tuntutan kemewahan dan kekuasaan masyarakat modern menawarkan berbagai pendapat&period; Dengan argument mencapai masyarakat yang lebih adil dan makmur&comma; mereka mencoba bentuk negara kebangsaan menjadi lebih demokratis&period; Tawarannya&comma; menjadikan negara bangsa ini menjadi negara etnis ataupun negara korporasi&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Mereka ini kurang mengantisipasi arus perkembangan utama dunia&period; Bagaimanapun Tuhan tidak menghendaki dunia ini terpecah dan serakah&comma; melainkan dunia yang bersatu dalam persaudaraan bangsa-bangsa sesuai letak geografis&comma; hidup sesuai dengan budaya dan agamanya masing-masing&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Pemikiran yang mencoba memecah negara bangsa seperti Indonesia dengan tawaran etnis ataupun korporasi itu bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan yang diperjuangkan para pendahulu&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Di tengah krisis multidimensi yang masih mengancam&comma; kemudian belajar dari pengalaman masa lalu bangsa sendiri maupun bangsa lain&comma; maka masa depan kebangsaan Indonesia&comma; hanya dapat tetap utuh dan berkembang dengan baik apabila kita kembali ke jati diri bangsa&comma; Pancasila dan UUD 1945&period; Tanggung jawab sejarah generasi sekarang ialah mempersiapkan generasi mendatang yang lebih baik&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kita perlu mencermati kecenderungan yang kini terjadi yakni kooptasi agama demi kepentingan politik praktis&period; Orang mengamputasi agama untuk kepentingan ambisi pribadi dan obsesi golongan&comma; bahkan untuk melegitimasi kesalahan yang nyaris tak termaafkan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Mereka menjadikan agama yang berdimensi transendental menjadi subordinasi ideologi politik yang berdimensi kekuasaan&comma; keduniawian&comma; kefanaan&period; Akibatnya kehidupan beragama yang seharusnya menjadi elemen moralitas kebangsaan&comma; justru terisolasi sebagai kubu-kubu sektarianisme dan partikularisme yang menjuruskan bangsa ke dalam fragmentasi&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Reformasi yang semula diharapkan menjadi &&num;8216&semi;life star&&num;8217&semi; &lpar;bintang kehidupan&rpar; bangsa memasuki era pencerahan&comma; kini justru mengalami euforia yang kebablasan&period; Semangat asal berubah serta merta menisbikan hal-hal esensial yang menjadi sendi-sendi kebersamaan bangsa dan mengoyak-koyak elemen dasar kesepakatan kita akan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Pancasila yang mempersatukan bangsa kini berada pada titik kulminasi goncangan eksperimentasi politik&period; Euforia reformasi menafikkan &&num;8220&semi;Fundamental Values of Nation State&&num;8221&semi; &lpar;nilai-nilai fundamental negara bangsa&rpar; dan membuka peluang terjadi infiltrasi nilai-nilai maupun model-model eksperimentasi yang belum menjamin kelangsungan kebangsaan Indonesia&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Pudarnya semangat kebangsaan menandakan Indonesia kini menghadapi persoalan nation building &lpar;pembangunan bangsa&rpar;&period; Di sinilah urgensi menumbuhkembangkan nasionalisme yang menjaga kontinyuitas Indonesia sebagai bangsa di masa depan&period; Sesungguhnya nasionalisme bukanlah barang jadi&comma; melainkan proyek bersama yang harus terus menerus diperjuangkan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ada tiga faktor telah mendorong terbentuk bangsa Indonesia&period; Pertama&comma; nasionalisme Indonesia bertumbuh dari rasa kebersamaan&comma; merasa bersama-sama dijajah&comma; senasib sepenanggungan&comma; menderita berkorban&comma; berjuang melawan musuh yang sama&period; Komunitas suku bangsa dan kerajaan yang hidup lepas&comma; kemudian dalam komunitas Nasion Indonesia&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kedua&comma; motivasi untuk merdeka&comma; yakni cita-cita dan perjuangan bersama untuk membebaskan diri dari penjajahan&comma; ketidakadilan&comma; penindasan&comma; kemiskinan&comma; kebodohan&comma; dan keterbelakangan&period; Cita-cita setelah merdeka&comma; yakni bersama-sama membangun masa depan bangsa yang lebih adil&comma; damai dan sejahtera&period; Nasionalisme bertumbuh karena cita-cita dan harapan itu&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ketiga&comma; Konsensus&period; Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia mencatat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai kesepakatan dan komitmen kebangsaan Indonesia&period; Mereka mengaku berbangsa satu&comma; berbahasa satu&comma; dan bertanah air satu&period; Sejak itu bangsa Indonesia eksis atas dasar konsensus dari komunitas-komunitas kecil untuk bergabung menjadi satu komunitas besar&comma; Bangsa Indonesia&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kesadaran bahwa kebangsaan Indonesia dibangun di atas kebhinekaan akan tumbuh apabila kita dapat memahami bahwa kemampuan mempertahankan keunikan suatu golongan hanya dapat dikembangkan dalam kebersamaan dengan golongan lain&period; Hanya dengan memelihara spektrum yang dapat menampung semua perbedaan dan keanekaragaman&comma; barulah dapat dilihat keunikan masing-masing sebagai kekayaan bersama&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Untuk &&num;8216&semi;masa depan kebangsaan Indonesia&&num;8217&semi;&comma; kita butuh revitalisasi nasionalisme Indonesia karena nasionalisme kehilangan makna dan ruhnya ketika ia sudah teramat sering dibajak oleh rezim untuk kepentingan kekuasaan&period; Nasionalisme sering dipakai rezim sebagai komoditas politik dan tameng untuk melanggengkan kekuasaan yang korup dan otoriter&period; Konteks inilah yang mengantar meaningless&comma; usang dan tak bermakna&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sebetulnya&comma; kita pernah memiliki rasa nasionalisme yang begitu tinggi menjelang kemerdekaan&period; Hal ini karena kita menghadapi musuh bersama yaltu penjajah&semi; tujuan yang sama yaitu merdeka&semi; dan merasa senasib seperjuangan karena semua merasa tertindas oleh bangsa asing&period; Tetapi bagaimana memaknai nasionalisme itu sekarang&quest;<&sol;p>&NewLine;<p>Sekarang pun&comma; ada pelajaran berharga yang masih menghentak kesadaran bangsa yakni makna pengorbanan&period; Diilhami oleh Sutasoma yang mengorbankan diri sendiri demi kesejahteraan bangsanya&comma; Bung Karno akhirnya menempuh pilihan moral&colon; Lebih baik dirinya tenggelam demi keutuhan bangsa dari perang saudara pasca Gerakan 30 September 1965&comma; dari pada memilih berkuasa&comma; dengan melihat kehancuran bangsa dan rakyat nya sendiri&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Apa yang diteladankan Bung Karno merupakan sesuatu yang langka saat ini&period; Jarang sekali ditemukan sosok negarawan sejati pada diri manusia Indonesia&period; Egoisme kerap dipraktekkan dalam kehidupan dewasa ini tanpa memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap orang lain&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Spirit of nationalism &lpar;semangat nasionalisme&rpar; yang diletakkan oleh para pendiri bangsa semakin tergerus oleh perkembangan jaman yang demkian pesat&period; Pendek kata&comma; kembali kita diarahkan untuk kembali ke jati diri bangsa&comma; kebangsaan yang selalu mengutamakan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan&period;&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version