Site icon savanaparadise.com

Opini: Korupsi, Oligarki, dan Mundurnya Demokrasi

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<blockquote>&NewLine;<p style&equals;"text-align&colon; center&semi;"><em><strong>Oleh&colon; Gede Sandra &lpar;<&sol;strong><&sol;em><em><strong>Akademisi Universitas Bung Karno&rpar;<&sol;strong><&sol;em><&sol;p>&NewLine;<&sol;blockquote>&NewLine;<p>Masalah utama Bangsa ini adalah korupsi&period; Reformasi gagal karena dikorupsi&comma; begitu kata mereka yang berjuang di jalan&period; Korupsi bukan hanya soal memberantas Pungli di jalanan dari-menuju pelabuhan dan terminal&comma; itu nilainya tidak seberapa besar&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Tapi korupsi juga soal mengadili oknum politisi yang mengutip hak rakyat yang lebih banyak&comma; semisal dalam kasus korupsi Bansos&period; Nilainya jauh lebih besar dari Pungli di pelabuhan&period; Dan dalam kasus korupsi Bansos&comma; yang rugi adalah mayoritas rakyat Indonesia&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>Korupsi Bansos juga menghambat pemulihan ekonomi&comma; karena daya beli rakyat sebagian dihisap oleh para oknum tersebut&period; Kualitas bansos yang diterima rakyat menjadi sangat buruk&comma; jauh di bawah standar&period; Untuk pengadaan tas goodie bag Bansos misalnya&comma; ditunjuk grup tekstil besar asal Solo&period; Harganya dua kali lipat dari harga yang umumnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Grup ini mendapatkan kontrak bernilai triliunan tanpa lelang&comma; tetapi melalui penunjukkan&period; Secara hukum&comma; penunjukan langsung untuk pekerjaan di atas Rp 200 juta sudah tidak wajar&period; Tapi kelihatannya aparat tidak ada yang berani bersuara mempermasalahkan&comma; ini diduga karena grup bisnis ini sangat dekat dengan Presiden dan anaknya yang menjadi Walikota Solo sekarang&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Beruntungnya lagi&comma; belum lama ini grup yang sama mendapatkan restrukturisasi utangnya dari Bank BUMN&comma; yang juga bernilai triliunan&period; Sementara&comma; fee hasil menghisap hak rakyat dalam pengadaan Bansos&comma; dibagi-bagikan ke beberapa nama&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kabarnya ada nama yang sangat penting di sana &lpar;Madam Bansos&quest;&rpar;&period; Persidangan kasus Bansos mengungkap&comma; bahwa ada juga aliran dana untuk membiayai kampanye pilkada untuk partai politik tertentu&period; Kebetulan ini adalah partai politik yang sama yang mana Presiden dan Walikota Solo menjadi kadernya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Menjadi terang benderang bagaimana skema utama dari korupsi di era Reformasi&period; Korupsi anggaran Negara&comma; duitnya digunakan untuk membiayai kegiatan politik dan memperkaya diri&period; Nanti setelah terpilih&comma; mereka akan korupsi lagi dari anggaran Negara&period; Begitu terus siklusnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Karena itu&comma; bagi mereka&comma; KPK harus dilemahkan&period; Jangan sampai ada nama-nama baru yang penting yang muncul&comma; apalagi menyenggol nama pewaris dinasti partai tersebut&period; Penyidik-penyidik kasus Bansos harus pergi dari KPK&comma; karena itulah ada tes wawasan kebangsaan &lpar;TWK&rpar; yang sangat kita kutuk&period; Pencetusnya TWK ini pun dari BKN&comma; yang berada di bawah kementerian yang dipimpin kader partai yang sama&period; KPK kemudian selesai&comma; tidak mampu bertahan dalam lingkungan yang korupsinya semakin sistemik&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Tidak hanya di kabinet&comma; upaya pelemahan pemberantasan korupsi juga terjadi di pengadilan&period; Kita selalu sedih ketika hukuman untuk para koruptor selalu sangat rendah&period; Jaksanya tidak mampu membuktikan dengan baik&comma; hakimnya tidak mau menggali dengan baik&comma; bila kita tidak mau menuduh mereka sudah dikorup juga&period;<&sol;p>&NewLine;<p><strong>Presidential Threshold &amp&semi; Pembiayaan Parpol <&sol;strong><&sol;p>&NewLine;<p>Sistem korupsi yang menjadi-jadi ini&comma; kami memandang&comma; sangat berhubungan dengan sistem politik&period; Karena KPK pun dilahirkan oleh politik melalui UU yang disetujui pemerintah dan DPR&period; Korupsi yang menjadi semakin mapan di kalangan elit politik ini akan terus langgeng apabila Presidential Threshold yang tinggi masih dipertahankan dan pembiayaan partai politik belum diterapkan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Presidential Threshold yang tinggi &lpar;20&percnt; suara dukungan parpol untuk maju Pilpres&rpar;&comma; yang diikuti di daerah-daerah seluruh Indonesia &lpar;20&percnt; suara dukungan parpol untuk maju Pilkada&rpar; adalah salah satu sumber utama dari korupsi politik ini&period; Karena tidak mungkin maju sendiri&comma; parpol terpaksa bergabung mendukung calon yang mampu membayar &OpenCurlyDoubleQuote;sewa” parpol mereka&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Si calon&comma; bila kebetulan bukan orang yang kaya&comma; terpaksa mencari dukungan grup-grup bisnis yang mau membiayai &OpenCurlyDoubleQuote;sewa parpol” tersebut&period; Nilainya tidak main-main&comma; dalam kontes semacam Pilpres harga sewa parpol infonya hingga triliunan rupiah&period; Ini sistem yang sangat jahat&comma; menutup munculnya pemimpin alternatif&period; Sehingga calonnya menjadi itu-itu saja&comma; kalau bukan orang yang kaya karena korupsi&comma; dia harus orang yang dekat dengan grup-grup bisnis besar&period; Nanti bila calon ini menang&comma; gantian grup-grup ini minta balas jasa&period; Akhirnya pemimpin terpilih terpaksa korupsi lagi untuk balas jasa itu&period; Inilah asal muasal dari apa yang nanti akan kita bahas sebagai oligarki&comma; atau percukongan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Solusinya tentu adalah penghapusan Presidential Threshold&comma; yang diikuti sampai ke daerah-daerah&period; Ini akan memaksa partai-partai untuk mencari calonnya masing-masing&period; Apakah Ketua Umum Partai tersebut&comma; atau menjaring tokoh alternatif yang didukung publik partainya&period; Tidak ada lagi politik biaya tinggi &OpenCurlyDoubleQuote;sewa parpol”&comma; setiap parpol akan memiliki calon pemimpinnya sendiri-sendiri&period; Banyak calon tidak masalah&comma; toh pada putaran kedua tinggal dua calon&period; Manfaat lainnya adalah juga tidak akan ada lagi pembelahan masyarakat seperti yang terjadi dalam Pilpres 2019&period; Karena banyak pilihan partai dan capres&comma; masyarakat akan semakin dewasa dalam berpolitik&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sumber korupsi politik lainnya adalah dalih penggalangan dana partai politik&period; Seperti dalam kasus korupsi bansos&comma; memang diakui ada aliran ke pembiayaan pilkada&comma; tapi pasti lebih besar aliran uang korupsi untuk memperkaya diri sendiri&period; Tujuannya tetap memperkaya diri&comma; penggalangan dana untuk partai hanya menjadi pembenaran mereka melakukan korupsi&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sedihnya&comma; hal ini -permainan anggaran dengan alasan membiayai politik- sudah menjadi tren yang menghinggapi para politisi di senayan beserta para stafnya&period; Bermain rente proyek demi membiayai partai&comma; katanya&period; Ujungujungnya korup gila-gilaan&comma; membebani ratusan triliun anggaran negara&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Jadi&comma; daripada mereka terus korupsi dengan pembenaran untuk membiayai kegiatan politik&comma; lebih baik dialihkan semua beban pembiayaannya ke Negara&period; Tidak mahal&comma; kurang dari Rp 20 triliunmasih lebih banyak korupsi Jiwasraya dan Asabri&excl; Negara akan mengaudit Rp 20-an triliun untuk parpol secara ketat dan mengalokasikan biaya untuk kampanye secara efisien&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Pembiayaan partai politik oleh Negara ini mengacu pada sistem yang berlaku di sebagian besar Negara di Eropa&comma; Australia&comma; dan New Zealand&period; Para aktivis&comma; jurnalis&comma; akademisi&comma; budayawan&comma; dan elemen rakyat lainnya&comma; dapat aktif berpolitik&period; Sehingga akan datang masa di mana politik bukan lagi hanya oligopoli mereka yang berduit&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Jadi bila para parpol semakin kurang korup&comma; akan ada banyak tokoh-tokoh alternatif yang lebih berintegritas mulai memenuhi dunia politik-yang selama ini sulit masuk ke lingkaran kekuasaan&period; Sehingga kita dapat berharap di parlemen nanti&colon; kapolri&comma; jaksa agung&comma; hakim agung&comma; ketua KPK&comma; BPK&comma; MK&comma; benar-benar dipilih orang-orang yang berintegritas&period; Sehingga kelak KPK tidak lagi sibuk menangkapi politisi&comma; melainkan agresif mengawasi kepolisian&comma; kejaksaan&comma; dan kehakiman&period; Bila penegak hukumnya sudah tertib&comma; maka hukum akan lebih adil untuk rakyat&period;<&sol;p>&NewLine;<p><strong>Oligarki&sol;Percukongan<&sol;strong><&sol;p>&NewLine;<p>Percukongan adalah istilah yang lebih sederhana untuk oligarki&period; Cukong yang mengatur negara&comma; membiayai undang-undang&comma; peraturan&comma; termasuk membiayai politisi korup&comma; media massa&comma; lembaga survey&comma; spin doctor&comma; influencer&comma; dan penegak hukum&period; Sistem percukongan ini sangat kompak&comma; kekuatannya lintas parpol&period; Contoh kemenangan oligarki terjadi dalam revisi UU KPK&comma; revisi UU Minerba&comma; dan UU Cipta Kerja&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Pelemahan KPK adalah tujuan utama revisi UU KPK&comma; ini akan melindungi para politisi korup&period; Dalam revisi UU Minerba yang diuntungkan adalah para cukong pengusaha tambang yang memperoleh perpanjangan konsesi otomatis dan pembebasan pajak PNBP&period; Nyatanya sebagian menteri di kabinet dan politisi di parlemen juga memiliki usaha pertambangan&period; Selain itu&comma; dalam UU Cipta Kerja yang juga paling diuntungkan jelas para cukong pemilik pabrik&comma; karena banyak hak pekerja yang dikorbankan di sini&period; Anti pekerja adalah karakter asli para cukong&comma; yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana meningkatkan profit usahanya saja&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sistem percukongan &lpar;oligarki&rpar; ini berlindung di balik sempitnya demokrasi&period; Presidential threshold haruslah setinggi-tingginya&comma; agar selalu &OpenCurlyDoubleQuote;boneka”-nya para cukong yang menang dan memimpin&period; Dan kalau bisa&comma; tiga periode katanya&period; Cukong memang selalu nyaman dengan sistem yang lebih otoriter&comma; kalau bisa mendekati Orde Baru&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sehingga akan sangat berbahaya bagi para cukong bila akhirnya yang menang adalah calon alternatif yang didukung rakyat&comma; yang menginginkan Indonesia lepas dari jeratan oligarki&period; Maka lembaga seperti MK jelas berada di bawah kendali para cukong ini&comma; agar segala gugatan terhadap Presidential Threshold harus ditolak &lpar;sudah 15 kali ditolak&rpar;&period; Apapun caranya&comma; berapapun biayanya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ambil contoh&comma; ada seorang cukong besar yang mengaku menguasai 112 orang anggota DPR&period; Merupakan fraksi terbesar&period; Sebagian perwira tinggi dan menengah di tentara dan kepolisian hingga kejaksaan di bawah kendali si cukong&period; Kepentingan cukong ini jelas&comma; agar kepentingan bisnisnya diamankan di DPR&period; Bahkan salah satu gubernur jelas adalah juru bicara grup bisnis mereka&period; Ini baru satu cukong&period; Ada cukong-cukong yang lain yang juga memiliki pola permainan mirip&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Bisa dibayangkan&comma; akibatnya seluruh pejabat kita dalam trias politica plus pertahanan&comma; disibukkan oleh kepentingan bisnis para cukong&period; Bukannya mereka mengayomi rakyat&comma; malah lebih sering berhadapan dengan rakyat&period;<&sol;p>&NewLine;<p><strong>Mundurnya Demokrasi<&sol;strong><&sol;p>&NewLine;<p>Oligarki sangat berkepentingan dengan mundurnya demokrasi&period; Sebisa mungkin bagaimana caranya agar rakyat takut berbicara&comma; maka diadakanlah UU ITE dan Revisi UU KUHAP tentang hukuman penghina presiden dan anggota DPR&period; Dijaganya angka Presidential Threshold yang tinggi&comma; agar permainan menjadi lebih mudah bagi mereka&period; Hanya dua calon&comma; dan keduanya harus adalah orangorangnya oligark&period; Dibuatnya aturan yang mempersulit munculnya partai baru&period; Demokrasi menjadi sempit&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Akibatnya suara-suara yang menyuarakan ketidakadilan menjadi sulit didengar&period; Ratapan dan tangisan dari rakyat yang direbut aset atau hak hidupnya oleh Negara&comma; sejak masa lalu hingga kini&comma; tidak digubris&period; Anggota DPR yang harusnya menyuarakan suara rakyat yang kritis&comma; malah berbalik menjadi juru bicara pemerintah dengan menantang rakyat&period; Aparat kemananan memberangus penyuaraan hak rakyat di jalanan dengan semakin beringas&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Influencer dan buzzer di Medsos menghabisi nama baik oposisi dengan segala cara&comma; termasuk dengan hoax pelecehan &lpar;body shaming&rpar;&period; Rektor menghukum Dosen dan Mahasiswanya yang kritis kepada pemerintah&period; Padahal ada masalah yang lebih pelik untuk diurus para rektor&colon; peringkat internasional dari kampus-kampus Indonesia turun terus &period;<&sol;p>&NewLine;<p>Saat orang-orang takut berbicara dan menulis&comma; maka demokrasi layu&period; Secara merangkak &lpar;creeping&rpar;&comma; sebenarnya demokrasi telah dikudeta oligarki untuk kembali ke era otoriter&period; Saking banyaknya rekayasa pengalihan isu&comma; masyarakat tidak sadar telah digiring ke arah kemunduran demokrasi&period; Apa yang diperjuangkan sebagai tujuan oleh Reformasi telah habis tak tersisa&comma; pemberantasan korupsi dan demokrasi telah diseret mundur&period;&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version