Site icon savanaparadise.com

Merevitalisasi Peran Bahasa Lokal, Mendorong Pembangunan

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<figure id&equals;"attachment&lowbar;230310" aria-describedby&equals;"caption-attachment-230310" style&equals;"width&colon; 225px" class&equals;"wp-caption alignleft"><img src&equals;"http&colon;&sol;&sol;www&period;savanaparadise&period;com&sol;wp-content&sol;uploads&sol;2016&sol;07&sol;yanche-225x300&period;jpg" alt&equals;"Yustinus Ghanggo Ate" width&equals;"225" height&equals;"300" class&equals;"size-medium wp-image-230310" &sol;><figcaption id&equals;"caption-attachment-230310" class&equals;"wp-caption-text">Yustinus Ghanggo Ate<&sol;figcaption><&sol;figure>&NewLine;<p><strong>Oleh&colon; Yustinus Ghanggo Ate<br &sol;>&NewLine;Asisten Riset pada Endangered Language Catalogue &lpar;ELCat&rpar; Regional Indonesia&comma; National Science Foundation&comma; 2013-sekarang dan Staf Pengajar pada STKIP Weetebula&comma; Sumba&comma; NTT&period;<br &sol;>&NewLine;<&sol;strong><br &sol;>&NewLine;Tahun lalu&comma; di banyak media nasional dan maupun lokal seperti Kompas &lpar;25&sol;3&sol;2015&semi; 10&sol;12&sol;2015&rpar;&comma; Victory News &lpar;10&sol;6&sol;2015&rpar;&comma; hangat diberitakan terkait bahasa-bahasa lokal yang terancam punah dan RUU Bahasa Daerah yang diinisiasi DPD RI&period; Kesadaran media mengangkat isu ini dan langkah keberpihakan DPD RI sangat tidak biasa&comma; menyegarkan&comma; strategis dan solutif di tengah kegentingan bahasa lokal&period; Berbanding terbalik dengan yang terjadi di 2014 ketika kurikulum 2013 yang digulirkan menihilkan signifikansi pengajaran bahasa daerah di sekolah&period; Tulisan ini mencoba mengetengahkan mengapa bahasa daerah sangat penting dan strategis dari perspektif yang berbeda yakni dalam bingkai pembangunan human capital &lpar;modal manusia&rpar; dan social capital &lpar;modal sosial&rpar;&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Area praksis bahasa&comma; khususnya bahasa daerah&comma; selama ini seolah melulu bereksistensi di rana fungsi bahasa daerah itu sendiri&comma; sekadar perkakas komunikasi bagi komunitas tuturnya&period; Menurut Sapir-Whorf Hypothesis&comma; yang ditelurkan oleh ahli bahasa Edward Sapir dan muridnya Benjamin Whorf&comma; bahasa tidaklah semata-mata sebagai alat ungkap diri&comma; perasaan dan gagasan&period; Lebih jauh bahasa secara kuat mempengaruhi proses pembentukan pola pikir dan perilaku penuturnya&period; Bahasa menggambarkan bagaimana penuturnya melihat dunia dari sudut pandang unik&period; Dan&comma; pikiran yang khas dari penuturnya adalah sama sekali tidak dapat dipahami oleh penutur bahasa di luar komunitas tuturnya&period; Searah dengan tesis Alessandro Duranti&comma; antropolinguist dari Universitas California&comma; yakni &OpenCurlyDoubleQuote;bahasa juga membentuk dunianya&comma; menciptakan dunianya&period;” Ini menunjukkan bahwa secara kuat bahasa mampu membangun peradaban dan sekaligus mentranformasi peradaban manusia penggunanya&period;<&sol;p>&NewLine;<p><strong>Pembangunan Berbasis Bahasa Lokal<br &sol;>&NewLine;<&sol;strong><&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>Konsep pembangunan berbasis bahasa lokal adalah konsep yang sama sekali tidak baru dan pendekatan pembangunan ini diaplikasikan oleh SIL International dan UNESCO di negara-negara dunia ketiga&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Menurut UNESCO &lpar;2012&rpar; pendekatan ini adalah aksi pembangunan terencana yang mem-vital-kan bahasa daerah dalam proses menuju perubahan sosial&comma; budaya&comma; politik&comma; ekonomi&comma; dan kebutuhan spritual&period; Konkritnya adalah pendekatan pembangunan model ini dimulai dari pemberantasan iliterasi dengan menggunakan bahan ajar informatif berbahasa daerah yang meliputi banyak isu seperti pertanian dan sanitasi terlebih isu-isu yang menjadi fokus Millenium Development Goals &lpar;MDGs&rpar; dan Education for All &lpar;EFA&rpar;&period; Pendekatan ini percaya bahwa perubahan harus dimulai dari mindset&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Di banyak wilayah lain di dunia seperti di Benin&comma; Chad&comma; Thailand&comma; dan Burma&comma; bahasa daerah dipandang sebagai bagian vital dari grand design pembangunan&period; Contoh kasus di Benin&comma; Afrika&comma; tepatnya di Komunitas bahasa Waama&comma; pendekatan pembangunan ini dilakukan oleh SIL International dengan salah satu fokus isu utama mengurangi tingkat kematian bayi&period; Komunitas Waama adalah komunitas dengan angka kematian bayi yang tinggi&period; Kasus ini sama dengan di NTT&comma; yang angka kematian bayinya termasuk tertinggi di Indonesia&comma; angka kematian bayi tahun 2012 tercatat 14&sol;100&period;000 kelahiran hidup atau 1&period;350 bayi meninggal saat persalinan &lpar;media daring republika&comma; 17&sol;5&sol;2013&rpar;&period; Di sana proyek penurunan angka kematian bayi dimulai dari belajar membaca dalam bahasa daerah untuk para Ibu di kelas literasi&period; Di kelas ini para Ibu dapat mengakses informasi dasar kesehatan dalam bahasa mereka&period; Para Ibu belajar betapa pentingnya check up rutin pada masa prenatal dan menjalani proses pengobatan terhadap berbagai penyakit yang diidap hingga persalinan di pusat kesehatan masyarakat&period; Hasilnya angka kematian bayi terbukti menurun&comma; banyak nyawa terselamatkan&period; Fakta ini secara jelas mematahkan keraguan akan kapabalitas komunitas etnolinguistik yang selama ini dianggap sama sekali tidak memiliki modal kuat untuk berubah&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Di sisi lain&comma; implementasi konsep ini berkontribusi baik bagi upaya pemertahanan bahasa daerah di tengah gempuran bahasa-bahasa dominan seperti Bahasa Indonesia&comma; dan Inggris serta Melayu dan aneka dialeknya&comma; salah satunya Melayu Kupang&period; Seperti yang terjadi selama ini di Indonesia penguatan bahasa nasional memakan korban bahasa daerah yang tidak sedikit&period; Berdasarkan data Lewis et&period;al&period; &lpar;2015&rpar; dari total 719 bahasa di Indonesia&comma; 13 bahasa punah&comma; 75 hampir punah&comma; dan 266 terancam punah&period; Bahkan menurut kompas&period;com &lpar;15&sol;6&sol;2015&rpar;&comma; jumlah bahasa punah adalah 14&period; Sukar dibayangkan ketika bahasa-bahasa daerah dan warisan-warisan peradaban di dalam bahasa-bahasa tersebut&comma; pembentuk identitas kebhinekaan kita&comma; punah&period; Oleh Alan Dench and Slamet Setiawan &lpar;2011&rpar; peristiwa ini disebut sebagai the most catastrophic loss of heritage in human history atau &OpenCurlyQuote;tsunami bagi warisan sejarah manusia’&period;<&sol;p>&NewLine;<p><strong>Pelibatan Bahasa Daerah di NTT&colon; Contoh Kasus<br &sol;>&NewLine;<&sol;strong><&sol;p>&NewLine;<p>Menengok konsep dan aksi pembangunan daerah kita di NTT dan Indonesia adalah melihat kecenderungan menempatkan posisi bahasa daerah ke pinggiran realitas pembangunan&period; Di mana peran bahasa daerah sebagai wadah diambil alih oleh bahasa dominan yang cara pandang dunianya kontras dengan penutur bahasa daerah&comma; yang karekteristik penuturnya bertolakbelakang dengan penutur bahasa daerah&period; Alasan yang paling mungkin mengapa ini terjadi adalah dikarenakan orientasi pembangunan kita masih bersifat programatik&comma; tanpa ideologi pembangunan yang rigid&comma; dan bukan sebaliknya mengarusutamakan pembangunan paradigmatik&period; Sehingga yang menyusun perencanaan pembangunan&comma; antara lain pemerintah dan NGO&comma; sangat jarang dan mungkin sama sekali tidak pernah melihat dan menimbang isu bahasa daerah sebagai unsur paling mendasar suksesnya sebuah proyek pembangunan&period; Penegasian unsur lokalitas yang otentik ini berdampak besar pada sukar beranjaknya paradigma masyarakat lokal terhadap pentingnya menyesuaikan diri dengan dunia yang terus bergerak ke depan tanpa menanggalkan isi budaya luhurnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Pelibatan bahasa daerah dalam pembangunan sosio-ekonomik kita di NTT adalah sine quo non &OpenCurlyQuote;keharusan&period;’ Prinsip ini didasari oleh beberapa kenyataan mendasar&comma; pertama&comma; heterogenitas etnolinguistik NTT&period; Adalah kelainan jika berbicara Pembangunan NTT tanpa memandang keberadaan NTT sebagai wilayah etnolinguistik yang beragam dan kaya&period; Dalam buku &OpenCurlyQuote;A guide to the people and Languages of Nusa Tenggara’ oleh Grimes dan kawan-kawan &lpar;1997&rpar; dikatakan bahwa Nusa Tenggara lebih khususnya NTT adalah &OpenCurlyQuote;melting pot’&comma; tempat bertemunya dua rumpun bahasa besar di dunia yakni Rumpun Bahasa-bahasa Austronesia dan Non-Austronesia yang berjumlah 60 ethnolinguistik&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kedua&comma; sifat dari kantong-kontong kemiskinan dan ketertinggalan di NTT adalah angka buta huruf tinggi&comma; bahasa daerah sebagai bahasa pertama&comma; kemampuan berbahasa Indonesia lemah&comma; masalah gender&comma; dan angka partisipasi sekolah di bawah rata-rata&period; Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT &lpar;2013&rpar; angkah buta huruf di NTT adalah 800 ribu orang dari total penduduk NTT 5&period;3 juta jiwa&period; Angka ini signifikan apalagi jika ditambah dengan yang belum terdata&period; Disamping itu&comma; menurut laporan hasil Riset Kesehatan Daerah &lpar;Riskesdas&rpar; NTT &lpar;2013&rpar; kantong-kantong ini identik dengan angka kematian ibu dan bayi tinggi&comma; malaria&comma; dan rawan diare&comma; bahkan ini penyebab kematian tertinggi di NTT pada bayi 1-11 bulan &lpar;31&comma;45&percnt;&rpar; dan balita 1-4 tahun &lpar;25&comma;2&percnt;&rpar;&period;<&sol;p>&NewLine;<p><strong>Tantangan dan Harapan<br &sol;>&NewLine;<&sol;strong><br &sol;>&NewLine;Pada tahun 2028-2030 Indonesia diperhitungkan akan berada pada titik kulminasi bonus demografi&period; Ini adalah peluang emas jika angka manusia non produktif kita defisit dan sekaligus petaka jika angka manusia non produktif kita tidak terkendali&period; SDM kita mesti bermutu tinggi agar kesiapan kita prima dalam menjemput momentum&period; Untuk mengantisipasi ini maka ada beberapa hal yang mesti diperhatikan&comma; pertama&comma; perencanaan pembangunan di locus termiskin dan tertinggal mesti menempatkan bahasa daerah pada posisi sentral yang akan sangat membantu cepat&comma; tepat&comma; dan efektifnya pembangunan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kedua&comma; keterlibatan para peneliti bahasa dalam mendokumentasikan bahasa daerah&comma; memetakan kompleksitas karekteristik penutur&comma; dan mendesain modul-modul literasi dan numerasi dalam bahasa daerah dan booklet-booklet informatif sosio-ekonomi berbahasa daerah&comma; sangatlah penting&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ketiga&comma; meminjam pikiran Eep Saifulloh Fatah yakni perlu adanya politik bahasa&comma; tetapi di sini adalah politik bahasa yang tidak sekadar superfisial dan tidak timpang&period; Sejak Indonesia merdeka&comma; politik bahasa di Indonesia lebih menitikberatkan pada bahasa Indonesia sebagai alat perantara antarmasyarakat berbeda bahasa&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Bermula ketika naskah asli Sumpah Pemuda diubah oleh Soekarno dan Muhammad Yamin di 1950an dari seharusnya &OpenCurlyDoubleQuote;menjunjung bahasa persatuan&comma; bahasa Indonesia” menjadi <&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;berbahasa satu&comma; bahasa Indonesia&period;” Ini terjadi akibat kepentingan politik post-kolonial&period; Politik bahasa di era kekinian perlu ditransformasi yang mana bahasa lokal atau bahasa daerah perlu diberi peran kuat dan strategis&colon; memperkuat pembangunan manusia dan sosial penuturnya&period; Berharap sikap politik bahasa daerah yang diambil DPD RI tidak men-subordinat-kan keberadaan bahasa lokal dengan fungsi yang kurang strategis dan tidak memberi efek domino&period; <&sol;p>&NewLine;<p>Akhirnya&comma; besar harapan para pemangku kepentingan di daerah&comma; seperti pemerintah dan lembaga keagamaan&comma; lebih memberi perhatian khusus dan peran lebih substantif kepada bahasa daerah dalam mendesain pembangunan lokal&period; Dan&comma; semoga tulisan ini menjadi sumbangan pemikiran yang konstruktif dan positif bagi kita semua untuk terlibat mengawal&comma; memelihara&comma; mempertahankan warisan leluhur kita&period; &NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version