Site icon savanaparadise.com

LOGU SENHOR, Devosi Merunduk Dibawah Salib Senhor

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<p><img src&equals;"http&colon;&sol;&sol;www&period;savanaparadise&period;com&sol;wp-content&sol;uploads&sol;2016&sol;06&sol;gereja-katolik&period;jpg" alt&equals;"gereja katolik" width&equals;"275" height&equals;"183" class&equals;"aligncenter size-full wp-image-215357" &sol;> &NewLine; &NewLine;<&sol;p>&NewLine;<p>Siang itu Jumat Agung 25 Maret 2016&comma; ratusan umat Katholik memenuhi Gereja St&period; Ignatius Loyola&comma; Desa Sikka&comma; Keuskupan Maumere&comma; Flores&period; Umat yang datang&comma; bukan hanya dari desa Sikka namun juga dari luar desa Sikka&comma; bahkan ada yang berasal dari luar Indonesia&period; Desa Sikka terletak di sebelah Selatan&comma; pesisiran kabupaten Maumere dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dari Kota Maumere&period; Kehadiran umat tentunya ingin mengikuti devosi husyuk yang terjaga turun temurun di tanah ini&comma; yaitu Logu Senhor &lpar;Logu &equals; merunduk&comma; Senhor &equals; Tuhan&rpar; merunduk di bawah Salib Tuhan&period; Semua umat yang hadir mempunyai intensi khusus&comma; mengenakan busana berwarna gelap&comma; dan uniknya 75&percnt; umat mengenakan kain tenun ikat yang menambah keeksotikan prosesi ini&period; Umat yang mau mengikuti prosesi ini harus mendaftarkan diri terlebih dahulu di panitia dengan biaya pendaftaran Rp 10&period;000&comma;- dan jangan lupa untuk membawa lilin ya&period; <&sol;p>&NewLine;<p>Menurut seorang Panitia&comma; Gregorius Tamela&comma; bahwa jumlah umat yang hadir selalu meningkat dari tahun ke tahun&period; Tahun 2015 misalnya ada empat ratusan orang sedangkan tahun 2016 mencapai jumlah peziarah mencapai enam ratusan orang<br &sol;>&NewLine;Salib Tuhan yang disimpan dalam sebuah peti ditandu oleh 4 orang pria yang berasal dari keturunan keluarga Dara Bogar&period; Kali ini yang bertugas adalah Thomas Edison Selong Karwayu&comma; Vinsensius Quirinus Karwayu&comma; Kanisius Luis Karwayu&comma; dan Constantinus Wihelmus Karwayu&period; Para pengusung ini mengenakan Lipa Lesu yakni kemeja hitam dengan kain sarung berwarna gelap dan destar sebagai pengikat kepala&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>Selain keempat pria Dara Bogar yang bertugas secara turun temurun untuk mengusung atau disebut dengan Witi Senhor&comma; ada 10 orang wanita yang juga menggunakan pakaian serba hitam yang menambah kesan kedukaan dan peratapan&period; Kesepuluh orang wanita ini selalu berada di samping peti Senhor ketika ditahtakan di altar gereja ataupun di setiap irmida &lpar;perhentian&rpar;&period; <&sol;p>&NewLine;<p><strong>SEJARAH SINGKAT LOGU SENHOR<br &sol;>&NewLine;<&sol;strong><br &sol;>&NewLine;&OpenCurlyDoubleQuote;Mengapa masyarakat di tanahku selalu ada kematian dan penderitaan&quest; Adakah tempat di luar sana yang tidak ada kematian dan penderitaan&quest;”&comma; pikir Moang Alesu yang adalah tokoh pemimpin masyarakat di tanah Sikka&period; Bermodalkan keresahan hatinya akan hal tersebut&comma; ia memutuskan untuk pergi mengembara di Waidoko&comma; Maumere&period; Dahulu&comma; Waidoko merupakan tempat singgah bagi kapal-kapal Portuguese yang berlayar&period; Moang Alesu berjumpa dengan seorang Anak Buah Kapal &lpar;ABK&rpar;&comma; berbincang dan bertanya apakah mungkin di tempat mereka tidak ada penderitaan dan kematian&period; ABK tidak memberikan jawaban pasti&comma; namun ia mengajak agar Moang Alesu boleh mengikuti mereka berlayar ke Tanah Malaka&period; Moang Alesu mengiyakan untuk berlayar ke tanah Malaka dengan harapan dapat menemukan jawaban dari keresahan hatinya&period; Sesampainya di tanah Malaka&comma; Moang Alesu berjumpa dengan Gubernur Malaka&period; Tujuannya hanya satu&comma; menanyakan apakah ada tempat di mana tidak terdapat penderitaan dan kematian&quest; Gubernur Malaka menjawab bahwa di dunia ini tidak ada tempat yang tidak terdapat penderitaan dan kematian&period; Namun&comma; ada kehidupan abadi setelah kematian yang hanya bisa ditempuh dengan jalan mau menerima salib&comma; percaya akan Kristus dan belajar iman Katholik&period; Moang Alesu mengiyakan apa yang ditawarkan&period; Ia belajar untuk percaya kepada Yesus dan agama Katholik&period; Selang waktu berlalu&comma; Moang Alesupun dibaptis dan diberi nama Don Thomas Alexius &lpar;Alesu&rpar; Ximenes da Silva&period; Gubernur Malaka pun memberikan gelar Raja karena beliau adalah tokoh pemimpin di tanahnya&comma; Raja Don Thomas Alexius &lpar;Alesu&rpar; Ximenes da Silva&period; Selain Sakramen Permandian&comma; Raja Alesu pun menerima sakramen lainnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Merasa cukup dengan semua bimbingan rohani dan iman Katholik&comma; Raja Alesu mohon pamit kembali ke desa Sikka dengan niat untuk mengajarkan kepada masyarakatnya mengenai iman Katholik yang percaya akan Yesus Kristus&period; Niat baiknya direspon dengan baik oleh Gubernur Malaka dengan memberikan seorang guru agama yang bernama Agustino Rosario da Gama unuk menemani Raja Alesupun kembali ke desa Sikka&period; Selain itu&comma; Raja Alesupun mendapat hadiah Salib Senhor &lpar;Senhor &equals; Tuhan&rpar; dengan corpus berukuran sekitar 75cm dan sebuah patung Menino &lpar;Patung Kanak-Kanak Yesus&rpar;&period; Sekarang Salib Senhor disimpan di sebuah Kapela&comma; di sebelah gereja St&period; Ignatius Loyola&comma; Sikka&comma; sedangkan patung Menino disimpan di rumah Andreas Hugo Pareira &lpar;seorang guru BP di SMA Negeri 1 Maumere&rpar;&period; <&sol;p>&NewLine;<p>Sesampainya di kampong Sikka&comma; Raja Alessu bersama dengan guru agama Agustino Rosario da Gama mulai giat mengajarkan dan menyebarkan Injil dan iman Katholik kepada masyarakat setempat&period; Selain mereka&comma; juga hadir imam-imam Dominican yang tentunya membantu masyarakat setempat untuk menerima sakramen-sakramen&period; Imam-Imam Dominican biasanya selalu berada di kapal-kapal Portuguese&comma; memberi pelayanan rohani selama pelayaran&period; Masyarakat Sikka dibaptis oleh imam-imam Dominican di sebuah sumur yang letaknya tidak jauh dari gereja Sikka&period; Iman Katholik tumbuh subur di tempat ini&comma; termasuk devosi Logu Senhor yang terus terjaga sampai sekarang&period; Namun Raja ke-12 Sikka yaitu Raja Andreas Jati da Silva beserta dengan imam yang melayani pernah memberhentikan tradisi ini karena masyarakat yang masih tidak mau bermati raga&comma; seperti mabuk-mabukan dan judi&comma; yang merusak kesakralan dan kedukaan dari Logu Senhor&period; Pada tahun 1893-1917&comma; Pater Y&period; Engberst berhasil menghapus kebiasaan yang merusak kesakralan Devosi Jumat Agung ini&comma; dan Logu Senhor kembali dilangsungkan setiap Jumat Agung&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Logu Senhor ini sebenarnya adalah suatu bentuk Devosi akan kebaikan Allah Bapa&comma; yang sudah merelakan Putra-Nya wafat di salib&period; Devosi kepada Yesus yang setia hingga wafat di salib&period; Itulah sejarah Logu Senhor yang kami adakan terus menerus setiap hari”&comma; ujar Panitia Logu Senhor Gregorius Tamela&comma; yang dengan penuh semangat menceritakan kisah Logu Senhor kepada penulis&period; <&sol;p>&NewLine;<p><strong>MERUNDUK DI BAWAH SALIB SENHOR<br &sol;>&NewLine;<&sol;strong><br &sol;>&NewLine;Sebelum prosesi Logu Senhor&comma; terlebih dahulu diawali dengan Ibadah Jumat Agung pukul 15&period;00 WITA&period; Yang menarik dari Ibadah ini adalah pembacaan Kisah Sengsara Tuhan Yesus dalam bahasa daerah Sikka&period; Memasuki Liturgi Penghormatan Salib&comma; umat dan petugas berarakn menuju Kapela Senhor yang berada di samping kiri Gereja St&period; Ignatius Loyola&period; Peti Senhor diusung oleh 4 pria dari Dara Bogar keluar dari Kapela Senhor&comma; diikuti oleh 10 wanita yang berkabung&comma; berarak masuk melalui pintu utama dan imam akan mengangkat Salib Senhor sambil bernyanyi &OpenCurlyDoubleQuote;Lihatlah kayu salib tempat selamat dunia bergantung”&period; Pengangkatan Salib ini berlangsung sebanyak 3 kali yaitu di depan pintu masuk&comma; di tengah dan di panti imam&period; Sesampainya di panti imam&comma; salib Senhor dipersilahkan untuk dicium dan dihormati oleh umat&period; Kesepuluh wanita yang berkabung tetap duduk di sisi kiri dan kanan peti Senhor depan altar&period; Setelah selesai penciuman dan penghormatan salib&comma; dilanjutkan dengan liturgi Komuni&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Usai Ibadah Jumat Agung&comma; umat diberi jedah waktu selama 15 menit&period; Logu Senhor dimulai pukul 19&period;00 WITA dengan diikuti oleh lebih dari enam ratus peziarah&period; Devosi Logu Senhor diiringi oleh nyanyian dalam bahasa Latin menambah kehusyukan prosesi ini&period; Untuk tahun ini akan ada 7 kali Logu &lpar;merunduk&rpar;&period; Awal di dalam gereja&comma; lima kali di setiap irmida &lpar;perhentian&rpar;&comma; dan satu kali saat kembali ke gereja sebelum dikembalikan ke Kapela Senhor&period; Saat logu&comma; umat dipersilahkan menyentuh peti Senhor dan mengucapkan intensi khusus&period; Kemudian merunduk dan melewati usungan Senhor sambil membawa lilin yang menyala di tangan&period; Dengan merunduk&comma; umat diharapkan mampu menyatu dengan kedukaan dan wafat Yesus&period; Dengan merunduk menunjukan bahwa kita sadar akan alasan Ia yang adalah Putera Allah mau wafat di kayu salib&period; <&sol;p>&NewLine;<p>Jumlah irmida tidak selalu sama setiap tahun&comma; bergantung dari keputusan Panitia&period; Tahun ini&comma; panitia menyiapkan 5 irmida&period; Irmida pertama Yesus berdoa di taman Getzemani&comma; irmida kedua Yesus dijatuhi hukuman mati&comma; irmida ketiga Veronika mengusap wajah Yesus&comma; irmida keempat Yesus jatuh untuk pertama kalinya&comma; dan irmida terakhir Yesus wafat di kayu salib&period; Dari irmida satu ke irmida kedua&comma; kita akan melihat patung Menino yang di tempatkan di depan rumah Hugo Pareira&period; Akan ada adegan jalan salib Tuhan Yesus di setiap irimida&period; Saat keluar dari gereja&comma; keempat pria Dara Bogar akan menyerahkan peti Senhor kepada petugas di irmida pertama &lpar;yang memakai pakaian serba ungu dengan topi yang berbentuk kerucut&rpar;&period; Keempat pengusung pengganti ini adalah petugas yang diambil dari wilayah yang sudah ditugaskan&period; Setiap irmida akan ada pengusung pengganti&comma; hingga nanti saat kembali ke gereja akan dikembalikan lagi ke keempat pria Dara Bogar&period; Jadi keempat pria Dara Bogar bertugas saat mengeluarkan peti Senhor dari Kapela Senhor menuju ke panti imam&comma; Logu Senhor yang pertama kali di dalam gereja&comma; menerima kembali peti Senhor ke dalam gereja&comma; Logu Senhor terakhir setelah berkat penutup&comma; dan mengembalikan peti Senhor ke Kapela Senhor&period; Urutan perarakan Logu Senhor adalah petugas pembawa lilin&comma; umat&comma; kesepuluh wanita yang berkabung&comma; misdinar&comma; Peti Senhor beserta Witi Senhor&comma; imam dan petugas&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Di sepanjang jalan yang dilewati prosesi ini dihiasi dengan lilin yang dipasang pada masing-masing rumah&period; Selain lilin&comma; ada juga gambar-gambar kudus dan patung&period; Anak-anak SD memainkan perannya dalam &OpenCurlyDoubleQuote;tablo bisu” yakni peragaan diam dari beberapa perhentian jalan salib Yesus&comma; misalnya Yesus berjumpa dengan Ibu-Nya&period; Akan ada tablo atau drama di setiap irmida&period; Setelah tablo akan diberikan renungan oleh Romo&comma; lalu mengangkat Salib Senhor dan memberkati umat&period; Kemudian membaringkan kembali Salib Senhor ke dalam peti dan umat dipersilahkan untuk Logu Senhor&period;<&sol;p>&NewLine;<p> Di setiap irmida dinyanyikan Ovos Omnes&period; Petugas membawa gambar wajah Yesus yang menderita yang ditutup tirai putih&period; Ketika dinyanyikan Ovos Omnes&comma; petugas dengan perlahan-lahan membuka tirai yang menutup bingkai gambar&period; Di sebelah kiri dan kanan petugas ada 2 orang yang bertugas membawa obor&period; Untaian doa selalu didaraskan di sepanjang prosesi Logu Senhor&period; Saya sempat merinding saat berada di irmida terakhir dengan adegan penyaliban dan wafat Yesus&period; Nyanyian Ovos Omnes terdengar sangat menusuk hati&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Saat peti Senhor dikembalikan ke Kapela Senhor&comma; maka berakhirlah pula devosi Logu Senhor&period; Waktu menunjukan pukul 13&period;20 WITA&period; Umat kembali ke rumah masing-masing&comma; termasuk peziarah yang datang dari kota Maumere&period; <&sol;p>&NewLine;<p>Merunduklah di bawah Salib Senhor jika engkau sadar dirimulah alasan utama Ia wafat di kayu salib hina&period; Jika Ia saja mau wafat untuk kita&comma; mengapa kita tidak mau merendahkan hati kita&comma;merunduk dan menyatu dengan sengsara dan wafat-Nya&quest; Pandanglah Salib itu dan merunduklah di bawah salib Senhor&period; &lpar;Penulis &colon; Ooz Gobang&sol;42na&rpar;&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version