Site icon savanaparadise.com

Keunikan Kampung Adat Wologai

Gadis Wologai mengenakan busana lawo lambu saat mengikuti upacara adat Gawi (Foto: Istimewa)

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<p><strong>Ende&comma; Savanaparadise&period;com<&sol;strong>&comma;- Kabupaten Ende boleh dibilang kabupaten yang paling fenomenal&period; Sebutan ini bukan isapan jempol semata&period; Setelah dijuluki sebagai kota rahimnya pancasila&comma; banyak icon wisata yang ada di kebupaten Ende yang tak kala uniknya seperti daerah lain di kepulauan Flores&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Di sini ada beberapa objek wisata sejarah yang namanya cukup mentereng&comma; bahkan mendunia seperti&comma; Rumah Pengasingan Bung Karno&comma; Taman Renungan Bung Karno&period; Adapula beberapa objek wisata budaya yang juga tak kala unik dengan objek wisata lainnya yang bikin hati wisatawan tergoda untuk berkunjung ke sana&comma; sebut saja Kampung Adat Wologai&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ya&comma; Kampung Adat Wologai&period; Kendati jauh dari keramaian kota Ende&comma; tapi tidak menghilangkan kepopulerannya di mata wisatawan&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>Untuk pergi ke objek wisata yang satu ini&comma; wisatawan dapat menggunakan kendaraan roda dua dan empat dengan waktu yang ditempuh 1 Jam&comma; maklum jarak sekitar 42 KM&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kampung Adat Wologai&comma; berada di Desa Wologai Tengah&comma; Kecamatan Detusoko&comma; Kabupaten Ende&comma; Flores-NTT&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Wisatawan tak kesulitan menemukan kampung adat Wologai&period; Karena di depan pintu masuk tertulis &&num;8220&semi;Selamat Datang Kampung Adat Wologai&&num;8221&semi;&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Ketika sampai di pintu masuk&comma; wisatawan akan berdecak kagum dengan tata letak batu alam yang tersusun rapih&comma; sangat unik yang mencerminkan budaya masyarakat Wologai&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sekitar 2 meter dari pintu masuk menuju rumah adat&comma; terdapat pohon beringin yang sangat besar&period; Dan berdasarkan penuturan dari salah seorang tokoh masyarakat&comma; Yohanes Resi&comma; pohon beringin tersebut ditanam oleh leluhur mereka&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Yohanes menguraikan Wologai sendiri memiliki arti yakni &&num;8220&semi;Wolo&&num;8221&semi; &lpar;bukit&rpar; dan &&num;8220&semi;Gai&&num;8221&semi; &lpar;rumput&rpar; yang mengandung makna kedekatan sangat kuat pada alam dan berpegang teguh pada kebudayaan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kampung adat wologai ini di perkirakan sudah berusia 800 tahun &lpar;8 abad&rpar; dan merupakan kampung adat yang sudah sangat lama keberadaanya dan memiliki keunikan tersendiri&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Arsitektur bangunan rumah adat yang berbentuk kerucut menunjukan keunikan dari kampung adat wologai&period; Rumah-rumah adat Wologai di bangun secara melingkar dan ada tiga tingkatan di mana setiap tingkatannya di susun bebatuan ceper di atas tanah&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Di kampung adat wologai terdapat 18 rumah adat &lpar;sa’o ria&rpar; akan tetapi dari ke 18 buah rumah adat itu&comma; ada rumah yang tidak memiliki acara adat atau ritual adat&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Mosalaki Wologai&comma; Paulus Lengga menuturkan&comma; rumah adat wologai &lpar;sa’o ria&rpar; merupakan rumah panggung yang di buat dari kayu beratapkan daun ilalang &lpar;ki&rpar; dan ijuk dari pohon Enau&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Tiap suku mempunyai bentuk bangunan rumah adat yang sama&comma; namun memiliki ciri khas yang berbeda seperti ukiran yang ada pada tiang kayu bangunannya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Menurut Paulus&comma; sebelumnya atap rumah adat terbuat dari ijuk itu dilarang&comma; atapnya harus terbuat dari alang-alang&period; Tetapi sekarang&comma; tambah dia&comma; sudah banyak yang menggunakan ijuk&comma; sebab jika pakai alang-alang maksimal 3 tahun sekali atapnya harus diganti&period; Sementara kalau dengan menggunakan ijuk bisa bertahan puluhan tahun&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Mosalaki Paulus juga menuturkan rumah adat wologai terdapat 1 buah rumah bernama &&num;8220&semi;Bale&&num;8221&semi; yang berfungsi untuk menyimpan tulang belulang dari 7 generasi leluhur dan keda yang berfungsi sebagai tempat pertemuan para Kepala Suku &lpar;Mosalaki&rpar;&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Uniknya di &&num;8220&semi;Keda&&num;8221&semi; ini perempuan tidak di perkenankan untuk mengikuti pertemuan tersebut&period; Selain itu adapula juga &&num;8220&semi;tubu kanga&&num;8221&semi; yang melambangkan persatuan masyarakat adat dengan sang pencipta&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Setiap rumah adat saling berhadapan&comma; maksudnya untuk saling mendukung dan menjaga tempat sakral yaitu &&num;8220&semi;Keda&&num;8221&semi;&comma; &&num;8220&semi;Tubu Musu&&num;8221&semi;&comma; dan &&num;8220&semi;Kanga&&num;8221&semi;&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Tempat itu merupakan ruang sakral yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat di kampung adat Wologai di mana para leluhurnya di kubur mengelilingi &&num;8220&semi;Keda&&num;8221&semi;&comma; &&num;8220&semi;Kanga&&num;8221&semi; dan &&num;8220&semi;Tubu Musu&&num;8221&semi;&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Keunikan lain juga dapat dilihat dari kehidupan masyarakat adat Wologai yang melaksanakan ritual dan upacara melalui wadah–wadah yang saling berhubungan dan mendukung dalam pemanfaatan ruang budaya dan ritual tersebut&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Upacara ritual adat yang masih asli dan terus menerus dilakukan oleh masyarakat adat Wologai adalah panen padi&comma; jagung dan kacang-kacangan &lpar;Keti Uta&rpar; pada bulan April&comma; dan tumbuk padi &lpar;Ta’u Nggua&rpar; pada bulan September&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Puncak ritual Ta’u Nggu’a adalah Pire dimana selama 7 hari masyarakat tidak menjalankan aktivitas hariannya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Selama masa ini seluruh masyarakat adat Wologai dilarang melakukan aktifitas pekerjaan seperti bertani&comma; mengiris tuak dari pohon enau dan lainnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Setelah melewati berbagai upacara&comma; maka komunitas adat akan menggelar ritual Gawi atau menari bersama di atas pelataran di sekeliling Tubu Kanga sebagai simbol mengucap kegembiraan dan kebersamaan&period; &lpar;SP&sol;Maria Rindiani Niksa Rue&rpar;&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version