Site icon savanaparadise.com

Gelar RDP, DPRD Ende Minta Pemda Segera Lakukan Evaluasi Berkala, Dampak Lingkungan Atas Pengeboran Panas Bumi Mutubusa

Ende, Savanaparadise.com,- Menindaklanjuti informasi mengenai turunnya debit air di danau kelimutu, DPRD Kabupaten Ende menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup, SGI, BVMG, TNK, camat Ndona Timur, Camat Kelimutu dan Perkumpulan Pelaku Pariwisata Moni Kelimutu (P3MK).

RDP itu sendiri berlangsung di ruang Rapat Paripurna DPRD Ende, Selasa, 25 Mei 2021 yang dipimpin oleh Maximus Deki (Wakil Ketua Komisi II), didampingi Vinsen Sangu (Ketua Komisi III), Ibu Hj. Silya D. Indradewa (Wakil Ketua Komisi I) dan dihadiri kurang lebih 16 orang anggota DPRD.

Ketua P3MK Handrianus Bata menjelaskan telah terjadi menurunnya debit air di tiwu ata bupu (danau orang tua) danau kelimutu dan kejadian ini bukan yang pertama kalinya, melainkan sudah kali yang kedua terjadi di tahun terakhir ini.

“Saat ini debit air danau kelimutu tersebut menurun sekitar 5 meter”, ungkap Hans Bata

Menurutnya, sejauh ini P3MK sudah melakukan langkah-langkah persuasif dan kekeluargaan melalui kunjungan dan berdialog, baik dengan TNK maupun badan vulkanologi.

“Bagi P3MK, balai TNK adalah orang tua yang menjaga dan melindungi anaknya bernama danau kelimutu”, ujar Hans

Namun sayang, lanjut Hans balai TNK saat ini terkesan di mata P3MK bersikap apatis, duduk dan melihat saja.

Sementara, Pusat Vulkanologi, Agus Da Silva mengatakan kejadian menurunnya debit air di danau kelimutu adalah kejadian biasa-biasa saja.

Agus Da Silva pun menilai kalau kejadian menurunnya debit air danau kelimutu mungkin disebabkan oleh kemarau yang panjang. Selain itu, diduga adanya penyerapan air danau kelimutu oleh tanah.

Pendapat yang dilontarkan Agus Da Silva dari pusat vulkanologi mendapat kritikan tajam dari Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Ende Vinsen Sangu.

Menurut Vinsen diksi yang dipakai oleh badan vulkanologi dengan kata ‘kemungkinan, dugaan, biasa saja’ adalah menunjukan lemahnya peran institusi tersebut dalam menjalankan fungsinya sebagai elemen strategis untuk mendeteksi akan terjadinya sesuatu yang besar di puncak danau kelimutu.

Vinsen mengatakan menurunnya debit air di puncak danau kelimutu tidak bisa diabaikan sebagai fakta, baik atas kejadian alam maupun oleh aktivitas manusia.

Menurutnya, menurunnya debit air di danau kelimutu tidak saja terjadi ancaman bencana geologi tetapi ada potensi ancaman yang lebih besar yaitu tergerusnya nilai kearifan lokal, peradaban budaya lio dan terancamnya kehilangan obyek wisata, ikon Ende di mata dunia.

Untuk itu, dirinya mendesak pemerintah, TNK, badan Vulkanologi untuk segera melakukan kerja sama dengan lembaga perguruan tinggi maupun lembaga riset lainnya yang memiliki kompentensi untuk melakukan kajian ilmiah.

Dibagian akhir RDP, Vinsen Sangu dipercayakan ketua Rapat membacakan rekomendasi sebagai hasil dari RDP. Poin-poin RDP adalah sebagai berikut :

1. Pemerintah Daerah, BVMG, dan TNK diminta segera melakukan kajian ilmiah atas dampak menurunnya debit air Danau Kelimutu. Kajian Ilmiah tersebut diminta untuk dilakukan oleh tim independen baik lembaga perguruan tinggi maupun lembaga riset lainnya yang memiliki kompentensi dibidangnya (Geologi, Geokimia, Geofisika). Dan hasil kajian ilmiah tersebut dipublikasikan secara terbuka kepada masyarakat umum

2. Pemerintah daerah dan TNK diminta untuk segera melaksanakan seremonial adat sesuai adat dan budaya setempat atas dampak menurunnya debit air di danau kelimutu tersebut.

3. Pemerintah daerah diminta untuk melakukan pemantauan dan evaluasi secara rutin dan berkala, baik atas menurunnya debit air danau kelimutu maupun dampak lingkungan atas aktivitas pengeboran panas bumi mutubusa Sokoria di kecamatan Ndona Timur.

Penulis: Chen Rasi

Exit mobile version