Site icon savanaparadise.com

Curhat Nakes di Ende Saat Berjibaku Melawan Pandemi Covid-19, Siapa Yang Peduli?

Ende, Savanaparadise.com,- Pandemi Covid-19 belum berakhir, entah sampai kapan, semuanya belum pasti. Ketidak pastian ini yang menguras energi bangsa ini untuk melakukan berbagai upaya serta cara demi memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19.

Kendati demikian, kasus Covid-19 terus melonjak. Akibat dari lonjakan ini yang memicu Pemerintah mengeluarkan aturan terbaru dan menetap beberapa daerah masuk PPKM Level 4. Sebut saja, salah satunya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di NTT sendiri, ada 4 Kabupaten yang terdaftar sebagai Kabupaten masuk PPKM level 4, dan salah satunya adalah Kabupaten Ende.

Kerja sama dan kerja ekstra menjadi sebuah keharusan. Selain Satgas, peran Tenaga Kesehatan (Nakes), pahlawan pandemi Covid-19, perlu dioptimalkan. Pelibatan Nakes sebagai garda terdepan di tengah gempuran pandemi, sangat dibutuhkan.

Para Nakes di ibaratkan seperti prajurit yang siap bertempur di medan laga. Sebagai prajurit, keselamatan nyawa menjadi taruhan. Itulah kenyataan yang dihadapi para Nakes di tengah situasi pandemi Covid saat ini.

Sebuah pilihan yang amat sulit, tapi demi profesi dan sumpah setia, mau tidak mau, suka ataupun tidak suka wajib dijalankan. Keselamatan nyawa pasien adalah segala-galanya.

Dibalik kesetian Nakes mendedikasikan dirinya bagi sesama, bangsa dan Negara. Banyak hujatan yang mereka terima. Kata-kata senonoh selalu dilontarkan kepada mereka.

Menyedihkan memang. Tapi apa yang mau dikata, begitulah faktanya. Pengorbanan, kerja keras, bahkan nyawa sebagai taruhan sepertinya tak berarti apa-apa.

Tak terbersit dalam benak kita, bagaimana rasanya memakai hazmat di siang hari. Dikala kebutuhan mendesak, namun Insetif yang belum diterima. keselamatan nyawa keluarganya terancam.

Tidak adil, apabila itu dilihat dari sudut pandang neraca keadilan. Sudah berkorban dan bekerja keras, namun yang didapat tak sebanding dengan pengorbanan itu. Sedih, kalau itu dikenang. Terluka apabila di kisahkan kembali. Begitulah fakta-fakta menyedihkan dialami para Nakes dalam menangani Covid-19.

Begitulah sepenggal cerita dari para Nakes saat berjibaku di tengah pandemi Covid-19. Para tenaga kesehatan ini memiliki cerita tersendiri dalam berjibaku menangani pasien Covid-19. Apalagi beberapa hari terakhir, Ende pun masuk dalam zona PPKM Level 4.

Kisah ini seperti yang dialami Isma Yati, Tenaga Kesehatan (Nakes) yang bekerja pada salah puskesmas dalam kota Ende. Ia menceritakan, tak kurang dari 4 jam harus menggunakan alat pelindung diri (APD) baik Hazmat dan masker berlapis.

Gerah, tentu dirasakan Isma Yati. Namun kondisi itu harus dilakoni demi menjaga kesehatannya kala bertugas melakukan penyekatan, swab ditempat dan tracing  selama PPKM level 4.

Menurut Isma Yati, mereka di minta oleh pihak Kodim Ende untuk melakukan swab dan tracing selama penyekatan berlangsung.

“Paginya, sebelum penyekatan, swab dan tracing, kita berkumpul di Markas Kodim untuk mendengarkan arahan, suport, dan sarapan pagi yang disiap pihak Kodim”, tutur Isma Yati kepada Savanaparadise.com, Sabtu (21/8/21).

Keselamatan nyawa masyarakat itu yang kita prioritaskan. Jangan ciut dengan bullyan itu. Harus tetap semangat dalam menjalankan tugas mulia ini. Itulah pesan pak Dandim kepada kami sebelum terjun ke lokasi.

Beberapa waktu terakhir, menurut Isma Yati tidak sedikitnya penolakan-penolakan dilakukan oleh warga saat melakukan swab dan tracing.

Walaupun demikian, ungkap Isma Yati, kami tetap enjoi dan menikmati pekerjaan ini.

“Kita pernah ditolak saat dilapangan. Baik itu saat melakukan swab ataupun tracing,” kata Isma Yati.

Saat ini, tutur Isma Yati dimedia sosial ramai membicarakan tentang kami. Tentang inilah, tentang itulah.

“Demi Allah, tidak ada niat sedikit pun dari kami untuk menghambat aktifitas masyarakat. Keselamatan warga yang diutamakan bagi kami “, ujarnya.

Kita kepingin Kabupaten Ende ini menuju Kabupaten yang sehat, terbebas dari pandemi Covid-19.

Isma Yati mengaku sedih karena melihat dan mendengar kabar, satu per satu rekan seprofesinya tumbang. Ada yang terpapar Covid-19.

Ia menduga para nakes yang terpapar karena kondisi lelah fisik sepanjang menangani pasien Covid-19 yang membeludak.

“Saya tau persis di lapangan. Saya menduga Teman-teman nakes terkonfirmasi karena efek kecapean,” katanya.

Isma Yati meminta kepada masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan saat beraktivitas keluar rumah sebagai upaya memutus mata rantai Covid-19.

“Intinya kembali lagi soal kesadaran masyarakat. sekali lagi,sejauh ini kita sudah menghimbau masyarakat  untuk taat terhadap Prokes demi mencegah terjadinya penularan,” katanya.

“Karena kesehatan mahal harganya. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” tutup Isma Yati.

Sementara Riky Leonard menambahkan banyak isu-isu liar berseliweran di media sosial yang mengatakan tenaga kesehatan sekarang hanya mempunyai skill korek hidung.

Sungguh, begitu sakit, hati kami mendengarkan kata-kata demikian. Kepingin marah, nanti lebih disalahkan lagi.

“Ya, sudahlah ketimbang stres dengan segala macam hinaan yang ditujukan kepada kami, mendingan kita fokus pada tugas yang dipercayakan itu”, ujar Riky.

Menurut Riky, mayarakat lebih mudah terjebak hoax, ketimbang mencari tahu sumber kebenarannya.

“Ya memang begitulah fakta saat ini”, kata Riky.

Riky menuturkan sesungguhnya Covid-19 itu nyata dan ada, ini bukan konspirasi. Lalu bagaimana mencegah dan memutuskan mata rantai Covid-19?, Inilah yang sedang diupayakan Negara.

Menurutnya, semenjak Kabupaten Ende masuk PPKM level 4, penyekatan dan swab ditempat dilakukan dimana-mana dalam Kota Ende.

Tidak hanya itu, jelas Riky TNI/Polri gandeng Nakes masuk sampai ke pelosok Desa untuk melakukan tracing dan testing.

“Saya pun pernah menagalami penolakan oleh warga, lalu kita menjelaskan kepada warga tentang penting melakukan swab dan tracing”, tutur Riky.

Menurut Riky, penolakan ini terjadi dikarenakan masyarakat belum mengerti dan memahami apa penting dilakukan swab, tracing dan testing kepada warga.

“Saya sendiri belum pernah terpapar, namun semua keluarga pernah terapapar Covid-19″, ungkapnya.

Sudah sekian bulan bekerja, menurut RIky sejauh ini insetif belum diterima”,

“Pernah menerima tapi di awal tahun”, tuturnya

Penulis: Chen Rasi

Exit mobile version