Site icon savanaparadise.com

Bupati Diminta Berkomitmen Menjaga Alam TTS dengan Sumpah Adat

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<p>Soe&comma; Savanaparadise&period;com&comma; Bupati Timor Tengah Selatan &lpar;TTS&rpar;&comma; NTT&comma; Paul Mella&comma; diminta harus bersumpah dan berkomitmen dalam sumpah adat di depan Masyarakat Tiga Batu Tungku &lpar;Amanatun&comma; Amanuban&comma; Molo&rpar;&comma; pada Festival Ningkam Haumeni III&comma; di bukit keramat Anjaf dan Nausus&comma; di desa Naususu &lpar;25&sol;7&rpar;&period; Hadir dan ikut menyaksikan acara tersebut yaitu Farry D&period; Francis&comma; anggota DPR RI Komisi V &comma; Perwakilan dari kementrian Pembangunan Desa Tertinggal &lpar;PDT&rpar;&period;<&sol;p>&NewLine;<p> &OpenCurlyDoubleQuote;Kita ingin semua yang ada di sini melakukan sumpah adat bersama&comma; untuk saling berkomitmen menjaga alam dan margasatwa yang ada di TTS di acara Ningkam Haumeni&period; Kita ingin semua harus berada di tempat semestinya&comma; karena Ningkam Haumeni &lpar;Lilin dan Madu&rpar; perjuangannya telah dilakukan oleh para nenek moyang kami&period; Madu dan cendana harus kembali ke tempatnya&period; Kami ingin Bupati dan semua yang hadir melakukan sumpah adat dan berkomitmen secara bersama&comma;” pejuang perempuan dari suku Molo yang juga pencetus Festival Ningkam Haumeni&comma; Aleta Baun&comma; kepada Savanaparadise&comma; di soe&comma; Jumad&comma;27&sol;07&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Aleta juga menyayangkan sikap Bupati Mella&comma; sibuk memainkan Blackberrynya&comma; sedangkan ratusan Masyarakat Tiga Batu Tungku dengan khidmat dan serius mengikuti kegiatan tersebut&comma; di tengah angin gunung dan kabut yang kencang&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>Dalam kesempatan tersebut masyarakat adat Tiga Batu Tungku juga meyerahkan uang satu perak agar bupati mencabut logo TTS yang selama ini tergambar hanya berupa akar saja&period; Menurut mereka jika bupati ingin memakai cendana sebagai simbol maka diharuskan utuh&comma; sebagai pohon cendana yang utuh&period; Karena itulah identitas sesungguhnya TTS&period; Sebagai catatan saja&comma; ironisnya&comma; cendana di TTS sudah jarang ditemukan dan nyaris punah&comma; karena kebijakan memutihkan cendana yang dipaksa untuk ditebang atas nama pemerintah pada era Soeharto&comma;lalu&period; Kini cendana sudah jarang ditemukan di perbukitan TTS dan Timor pada umumnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p> Perlu diketahui&comma; Festival Ningkam Haumeni III dilakukan guna mendorong masyarakat adat Tiga Batu Tungku lebih kuat lagi dalam melakukan komitmen kearifan lokalnya&period; Masyarakat Tiga Batu Tungku&comma; Amanatun&comma; Amanuban dan Mollo dalam sumpahnya telah berkomitmen untuk menjaga hal-hal yang selama ini terlupakan atau nyaris mulai diabaikan&period; Misalnya menanam tanaman lokal&comma; memastikan cendana hidup kembali&comma; menjaga sumber air&comma; dan juga menumbuhkan tenun dengan baik&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Belajar dari perjuangan masyarakat Mollo yang berhasil berjuang mengusir perusahaan tambang yang merusak area kosmologi dan keramat mereka di bukit Anjaf dan Nausus&period; Padahal jelas Anjaf dan Nausus juga adalah water catchment area untuk wilayah Timur bersama dalam naungan Gunung Mutis&period; Namun saat ini di wilayah di TTS telah &OpenCurlyDoubleQuote;dikepung” ratusan tambang yang kini tengah menunggu diijinkan untuk beroperasi&period;<&sol;p>&NewLine;<p> Data Walhi NTT menyebutkan ada 172 perusahaan tambang yang menanti untuk bisa melakukan kegiatan di TTS&comma; sementara lima IUP &lpar;Izin Usaha Pertambangan&rpar; telah dikeluarkan oleh pemerintahan TTS&period; Hal ini sesungguhnya bertentangan dengan yang dibutuhkan masyarakat Tiga Batu Tungku yang merupakan warga dominan di TTS&comma; yang lebih menginginkan pemerintah meningkatkan usaha pertanian&comma; dan peternakan&period; Apalagi Tambang bukanlah bagian dari kearifan lokal mereka&comma; yang tidak menjual apa yang tidak bisa mereka buat &lpar;tambang adalah salah satunya&rpar;&period; Bagi mereka tambang harus tetap ada di dalam bumi&comma; karena mereka bisa memakan dan menjual yang mereka bisa buat seperti pertanian&comma;ternak dan tenun&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Niko Manao&comma; salah satu perwakilan masyarakat adat dari suku Amanuban ketika menyinggung soal kebijakan pertambangan marmer dan migas yang mendapat pertentangan dari masyarakat&comma; ditanggapi santai oleh Mella&period;<&sol;p>&NewLine;<p> &OpenCurlyDoubleQuote;Kebijakan pertambangan marmer dan migas merupakan kewenangan pemerintah pusat&comma; dan pemerintah daerah harus mempertimbangan budaya yang diyakini oleh masyarakat sebelum mengeluarkan kebijakannya”&period; Aku Mella&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sementara itu&comma; Farry D&period; Francis&comma; anggota DPR RI Komisi V dalam sambutannya menegaskan&comma; kondisi faktual yang dialami masyarakat kita terkait kemiskinan yang masih terjadi harus mendapat respons dari pemerintah daerah&comma; provinsi dan pusat&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Pemerintah sebagai penyelenggara negara dan bertugas mensejahterakan rakayat harus responsif melihat realitas faktual yang dialami oleh masyarakat kita&period; Selain itu&comma; pemerintah tidak boleh mengikuti kemaunnya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi masyarakat dalam mengeluarkan berbagai kebijakan khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam&comma;” jelas Farry&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dia juga menandaskan bahwa hutan tanah&comma; dan air&comma; harus dijaga baik-baik&comma; karena itu kalau masyarakat berpikir bahwa sebuah kebijakan pengelolaan sumber daya alam khususnya terkait pertambangan tidak baik&comma; maka wajib hukumnya pemerintah untuk mengikuti keinginan masyarakat&comma;” tandasnya dengan nada tinggi&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Pada kesempatan yang sama&comma; Perwakilan dari kementrian Pembangunan Desa Tertinggal &lpar;PDT&rpar;&comma; menjelaskan&comma; kementrian PDT sangat mengapresiasi positif penyelenggaraan festival Ningkam Haumeni III ini&period;&lpar;Melky&rpar;&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version