Site icon savanaparadise.com

Buah Kopi Takengon Aceh sampai ke Amerika Serikat, Ini Buah Pemberdayaan UMKM BRI

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;<p>Jakarta&comma; Savanaparadise&period;com&comma;- Bagi Rahmah&comma; kopi adalah hidupnya&period; Dengan bantuan permodalan dari PT Bank Rakyat Indonesia &lpar;Persero&rpar; Tbk&comma; perempuan asal Takengon&comma; Aceh Tengah&comma; Provinsi Aceh&comma; tersebut membesarkan Koperasi Pedagang Kopi Ketiara hingga mampu mengekspor Kopi Gayo ke mancanegara&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Rahmah bercerita&comma; pada 1992 awalnya ia membuka toko kebutuhan pokok &lpar;sembako&rpar;&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;<p>Modalnya didapat dari BRI sebesar Rp4 juta&period; Saat itu&comma; ia menerapkan sistem barter di toko sembako&comma; yakni warga yang mayoritas petani di sana ingin membeli kebutuhan pokok&comma; akan menukarnya dengan kopi&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;<p>Usaha Rahmah pun terus berkembang&period; Untuk menopang permodalan&comma; ia mendapatkan suntikan dana dari BRI dengan nominal yang terus naik&comma; menjadi Rp6 juta&comma; kemudian Rp8 juta&comma; dan Rp14 juta pada periode 1990-an&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;<p>Dalam mengembangkan usahanya&comma; ia juga mengikuti pameran-pameran kopi lokal di Bali&comma; Yogyakarta dan Jakarta untuk memperluas pasar di dalam negeri&period; Ajang promosi tersebut merupakan acara yang digelar oleh BRI untuk mendorong pengembangan bisnis pelaku UMKM&period; Keseluruhan kopi yang dijualnya saat itu mencapai 100-200 ton per bulan sehingga pada kurun 2004&comma; Rahmah kembali mendapat modal dari BRI kurang lebih sekitar Rp600 juta&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;<p>Seiring berjalannya waktu&comma; pada 2009 Rahmah yang terus memberdayakan petani Kopi Gayo di daerahnya membentuk Koperasi Pedagang Kopi Ketiara&period; Berawal dari 30 orang anggota termasuk pengurus&comma; pihaknya getol merekrut petani untuk diberdayakan sehingga saat itu jumlah anggotanya mencapai 800 petani&period; Karena dibesarkan BRI&comma; kami tidak akan melupakan BRI&comma; katanya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;<p><strong>Kian Besar di Ekspor<&sol;strong><&sol;p>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;<p>Dalam memperkenalkan Kopi Gayo ke pasar luar negeri&comma; Rahmah seringkali mengikuti festival kopi berskala global di Seattle&comma; Chicago&comma; dan Boston di Amerika Serikat&comma; Belanda&comma; Jerman&comma; hingga Hungaria&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;<p>Untuk itu&comma; demi mempertahankan pasar ekspor&comma; Koperasi Penjual Kopi Ketiara wajib menjaga standardisasi produk melalui sertifikasi internasional yang telah didapat&period; Rahmah menjelaskan&comma; secara sederhana untuk sertifikat produk organik&comma; standardisasi di lahan diaudit secara rutin&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;<p>Kebun kopi dipastikan bersih dari zat-zat anorganik seperti zat kimia pada pupuk&period; Untuk standardisasi fair trade&comma; aspek finansial yang diaudit&comma; ujarnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;<p>Rahmah sebagai pemimpin Koperasi Penjual Kopi Ketiara&comma; saat ini telah memiliki anggota mencapai 1&period;500 petani&comma; di mana 1&period;400 di antaranya tersertifikasi organik dan masuk system fair trade&period; Petani-petani tersebut berasal dari 19 desa di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;<p>Saat ini&comma; koperasi yang diketuai oleh Rahmah itu menjual kopi secara ekspor dengan 70&percnt; pasarnya adalah Amerika Serikat&period; Sisanya adalah negara-negara di Eropa dan Asia&period; Di sisi lain&comma; koperasi yang Rahmah bina rutin pula melakukan edukasi kepada petani dan masyarakat di sana untuk menjaga standardisasi dan kualitas kopi&period;&lpar;SP&rpar;&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version