Site icon savanaparadise.com

Berkat Pemberdayaan BRI, UMKM Ini Optimalkan Produk Bambu Hingga Mancanegara

&NewLine;<&excl;-- WP QUADS Content Ad Plugin v&period; 3&period;0&period;5&period;1 -->&NewLine;<div class&equals;"quads-location quads-ad1" id&equals;"quads-ad1" style&equals;"float&colon;none&semi;margin&colon;0px&semi;">&NewLine;&NewLine;<&sol;div>&NewLine;<p>Bandung&comma; Savanaparadise&period;com&comma; &&num;8211&semi; Inspirasi tak terduga ternyata bisa menuntun seseorang membuat usaha baru dan sukses&period; Hal ini dialami oleh Adang&comma; seorang pelaku Usaha Mikro&comma; Kecil dan Menengah &lpar;UMKM&rpar; di Bandung&comma; yang berhasil mengoptimalkan bambu menjadi berbagai jenis kerajinan dan produk olahan makanan dan terkenal hingga di tingkat internasional&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Inspirasi itu diaku Adang datang pada suatu malam 30 April 2011&comma; ketika ia tengah diam bersila di sebuah masjid&period; Ia melihat bilah-bilah bambu di lingkungan tempat ibadah itu&period; Esok harinya ketika Ia menyaksikan sebuah tayangan orkestra di televisi&comma; sebuah biola merasuk perhatiannya&period; Sekaligus&comma; menjadi jawaban atas pertanyaan semalam&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Ya&comma; saya akan membuat biola bambu&comma;&&num;8221&semi; padahal pemilik nama lengkap Adang Muhidin itu sama sekali tak bisa bermain alat musik&period;<&sol;p><div class&equals;"ad-middle"><p class&equals;"ad-title">ADVERTISEMENT<&sol;p><div class&equals;"ad-content"><div class&equals;"ad-content-a"><div class&equals;"ad-content-b"><div class&equals;"ad-content-c"><script async src&equals;"https&colon;&sol;&sol;pagead2&period;googlesyndication&period;com&sol;pagead&sol;js&sol;adsbygoogle&period;js&quest;client&equals;ca-pub-8882367248828292"&NewLine; crossorigin&equals;"anonymous"><&sol;script>&NewLine;<&excl;-- header 970 x 250 -->&NewLine;<ins class&equals;"adsbygoogle"&NewLine; style&equals;"display&colon;inline-block&semi;width&colon;970px&semi;height&colon;250px"&NewLine; data-ad-client&equals;"ca-pub-8882367248828292"&NewLine; data-ad-slot&equals;"6008007437"><&sol;ins>&NewLine;<script>&NewLine; &lpar;adsbygoogle &equals; window&period;adsbygoogle &vert;&vert; &lbrack;&rsqb;&rpar;&period;push&lpar;&lbrace;&rcub;&rpar;&semi;&NewLine;<&sol;script><&sol;div><&sol;div><&sol;div><&sol;div><p class&equals;"scroll-to-resume">SCROLL TO RESUME CONTENT<&sol;p><&sol;div>&NewLine;<p>Inspirasi tak terduga itu ternyata menuntunnya pada gerbang usaha baru&comma; usaha kerajinan bambu membawanya keluar dari masa-masa sulit kebangkrutan usaha-usaha lama&period; Menjadi titik penting bagi hidup Adang beserta keluarga&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Bermodal uang sendiri&comma; Adang mulai belajar tentang bambu&comma; melakukan serangkaian penelitian dan percobaan semampunya&period; &&num;8220&semi;Saya pernah jalan kaki ke Kota Bandung untuk belajar soal bambu&comma;&&num;8221&semi; kata Adang di kediamannya&comma; Desa Cimareme&comma; Ngamprah&comma; Kabupaten Bandung Barat&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sekitar tahun 2013&comma; Adang berhasil membuat biola bambu pertamanya&comma; diikuti alat musik lain seperti gitar dan bas&period; Mulanya bambu-bambu itu&comma; kata Adang&comma; adalah hasil meminta dari kebun ke kebun&period; Kegigihan dan buah karyanya mulai diketahui&comma; hingga ia dan tim pun diundang ke gelaran acara festival musik di Jakarta&period; Mulanya&comma; Adang merasa minder&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Tapi ternyata booth kami dipenuhi pengunjung&comma;&&num;8221&semi; cerita Adang setengah tak menyangka&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dari sana&comma; biola bambu karya pertamanya dibeli orang Jepang dengan harga Rp3&comma;5 juta&period; Gitar bambunya pun ternyata laku di harga Rp4 juta&period; Adang pulang membawa Rp7&comma;5 juta dari Jakarta&comma; yang kemudian dijadikan suntikan modal usaha&period; Virage Awie yang mulanya dirintis Adang hanya berdua bersama seorang rekanannya&comma; kini bisa menjadi ladang usaha berkelanjutan bagi ratusan orang lainnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Jumlah orang yang turut bekerja mencapai 200 orang&comma; memang tidak semuanya bertahan&period; Sekarang ada 4 orang yang jadi pemilik Virage Awie ini dengan tim inti 7 orang&period; Tim lainnya ada 47 orang&comma; belum lagi khusus kelompok usaha ibu-ibu di kuliner itu mencapai 30 orang&period; Kebanyakan adalah single parent&period; Ada juga disabilitas yang pernah dilatih hingga 35 orang&comma; dan sekarang yang bekerja di sini ada 8 orang&comma;&&num;8221&semi; beber Adang&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Terkait pemasaran produk&comma; kata Adang&comma; peminat produk-produk bambu karya Virage Awie itu datang tidak hanya dari dalam negeri tapi luar negeri&period; Bahkan alat musik itu&comma; katanya&comma; 90&percnt; pembelinya berasal dari luar negeri beberapa di antaranya adalah Jepang&comma; India&comma; Rumania&comma; Jerman&comma; Inggris&comma; Singapura&comma; dan Malaysia&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Kami kerap diajak pameran oleh BRI di luar negeri&comma; terakhir di Singapura&period; Dari pameran itu kita bertemu dengan para buyer&comma;&&num;8221&semi; katanya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Bisa disebut bahwa salah satu produk unggulan Virage Awie memang alat musik&period; Saat ini&comma; harga alat musik itu sudah kian meningkat seiring dengan perkembangan kualitasnya&period; Harga untuk gitar misalnya itu dimulai dari Rp14 juta-Rp25 juta&period; Sementara drum bambu bisa mencapai Rp50 juta&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Kami produksi secara eksklusif&comma; setahun kami hanya menjual gitar secara terbatas hanya 36 gitar&period; Pembelinya 90&percnt; dari luar negeri&period; Produk kuliner itu itungannya paling baru&comma; mulai benar-benar dipasarkan pada 2022-2023 lalu&period; Untuk kerajinan bambu lainnya seperti jam tangan itu peminatnya sebagian besar dari dalam negeri&comma;&&num;8221&semi; kata Adang&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Adang berharap usahanya ini bisa terus menjulang seperti jajaran bambu di kebun-kebun yang memberikan kesejukan&comma; kerindangan dan manfaat bagi banyak orang&period; &&num;8220&semi;Jangan lupa bantu orang lain&period; Semoga dengan Virage Awie ini kami bisa membantu orang lain&comma; tidak muluk-muluk&comma;&&num;8221&semi; imbuhnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p><strong>Terus Berkembang Berkat Pemberdayaan dari BRI&period;<&sol;strong><&sol;p>&NewLine;<p>Perjalanan usahanya diakui Adang makin berkembang ketika mendapat dukungan dari BRI&period; Virage Awi&comma; nama usaha kerajinan bambu milik Adang&comma; diketahui menjadi salah satu klaster usaha binaan BRI&period; &&num;8220&semi;Tahun itu saya ketemu BRI akhirnya alat musik kami punya HAKI &lpar;Hak Kekayaan Intelektual&rpar;&comma;&&num;8221&semi; kata dia&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Selain itu&comma; di awal merintis&comma; ia juga sempat mengajukan pendanaan usaha lewat Kredit Usaha Rakyat &lpar;KUR&rpar;&period; Lain dari itu&comma; Virage Awi mendapat bantuan penyediaan alat produksi&period; Dengan bantuan alat produksi&comma; diakuinya bisa membantu para perajin binaannya untuk bisa menghasilkan produk olahan bambu lebih banyak&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kerajinan bambu Virage Awi pun terus berkembang seperti tidak hanya memproduksi alat musik saja&comma; juga merambah ke kerajinan lainnya seperti jam tangan bambu&comma; alat makan bambu&comma; wadah minum bambu&comma; speaker bambu&comma; konstruksi bangunan&comma; hingga kuliner&period; Tidak hanya fokus di aspek produksi&comma; Virage Awi kini menjadi akedemi yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat dalam bentuk pelatihan usaha&comma; termasuk untuk para disabilitas&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Beberapa kelompok usaha itu di antaranya Kelompok Wanita Kreatif Tanginas yang olahan kuliner berbahan dasar anak buluh bambu atau rebung&comma; contohnya diolah menjadi mustofa rebung&comma; simping rebung&comma; semprong&comma; pangsit hingga brownis rebung&period; Adapula&comma; Kelompok Wanita Kreatif Motekar yang produksi kerupuk daun bambu&period; Selain itu&comma; Kelompok Usaha Kerajinan Difabel&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dalam kesempatan terpisah&comma; Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan bahwa pemberdayaan Klaster Usaha merupakan pemberdayaan kepada kelompok usaha yang terbentuk berdasarkan kesamaan usaha dalam satu wilayah&comma; sehingga tercipta keakraban dan kebersamaan dalam peningkatan maupun pengembangan usaha para anggotanya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Hingga akhir Juli 2024 tercatat BRI telah memiliki 31&period;488 klaster usaha yang tergabung dalam program Klasterku Hidupku&period; BRI juga telah menyelenggarakan 2&period;184 pelatihan dalam program Klasterku Hidupku tersebut&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Supari menambahkan bahwa program Klasterku menjadi salah satu bentuk strategi yang mengutamakan pada pemberdayaan&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&&num;8220&semi;Secara umum&comma; strategi bisnis mikro BRI di 2024 akan fokus pada pemberdayaan berada di depan pembiayaan&period; BRI sebagai bank yang berkomitmen kepada pelaku UMKM telah memiliki kerangka pemberdayaan yang dimulai dari fase dasar&comma; integrasi&comma; hingga interkoneksi&comma;” ujar Supari&period;<&sol;p>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;<&sol;p>

Exit mobile version